DEMOKRASI.TK


AL-ISLAH no 123
Desember 23, 2007, 7:45 am
Filed under: YANG PENTING DEMOKRASI HARAM

YANG PENTING

DEMOKRASI HARAM

 

 

Banyaknya dalil yang dilontarkan untuk mengharamkan perjuangan melalui demokrasi, menunjukkan bahwa pengharaman tersebut hanya mempunyai satu tujuan yaitu yang penting demokrasi haram, sebagai gambaran, tidak bisa mengharamkan demokrasi menggunakan dalil “A”, maka dicarinya dalil “B”, dengan dalil “B” tidak juga mampu mengharamkan demokrasi, diberondongnya demokrasi dengan dalil “C”, begitu seterusnya bahkan sampai dalil yang ke Z pun akan terus dicari dalil yang penting demokrasi haram tidak peduli dalilnya nampak serampangan.

Dahulu orang-orang mengharamkan demokrasi karena katanya demokrasi itu mengikuti suara terbanyak, menurut mereka demokrasi itu menentukan segala sesuatu berdasarkan suara terbanyak, kalau suara terbanyak itu menginginkan kemaksiatan, maka kemaksiatan tersebut akan menjadi legal, disinilah menurut mereka letak haramnya demokrasi, untuk memperkuat argumentasi ini, mereka mengambil dalil dari al-Qur’an yang menunjukkan adanya mengikuti kebanyakan orang :

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya …..

QS. 6:116

 

Sementara itu, dalam ayat-ayat yang lain al-Qur’an menyebutkan, kebanyakan orang itu bodoh, kebanyakan orang itu dzalim, kebanyakan orang itu fasiq dan lain-lain, sehingga demokrasi, akan memenangkan yang bodoh, dzalim, fasiq dan lain-lain.

Lalu mereka tidak menggunakan dalil ini karena ternyata banyak perda-perda bernuansa Islam yang dihasilkan oleh demokrasi, banyak peraturan-peraturan pemerintahan yang memberangus pelacuran, perjudian, korupsi dan lain-lain yang dihasilkan dari proses demokrasi, sehingga argumentasi mereka yang menyatakan demokrasi akan dimenangkan oleh orang-orang dzalim, bodoh, fasiq dan lain-lain dengan sendirinya runtuh oleh adanya fakta tersebut, yang kemudian lucu dan menggelikan, mereka berkata, percuma perda syariat Islam atau penghapusan perjudian, pelacuran, korupsi dan lain-lain kalau dihasilkan melalui demokrasi.

Betapa tidak, karena sebelumnya, menurut mereka demokrasi tidak mungkin menghasilkan yang positif dan sesuai tujuan Islam, ternyata setelah adanya bukti bisa digunakan untuk tujuan positif dan sesuai dengan tujuan Islam mereka berbalik mengatakan percuma tercapainya hal tersebut kalau melalui demokrasi, nampak sekali kalau mereka hanya bertujuan yang penting demokrasi haram.

Pengambilan dalil QS. 6:116 yang melarang mengikuti kebanyakan orang juga nampak serampangan, karena ternyata pada zaman Nabi, orang-orang Mekkah telah berbondong-bondong masuk Islam, sehingga pada saat itu Islam menjadi mayoritas, dan diikuti oleh kebanyakan orang, apakah lantas Islam dilarang untuk diikuti karena telah menjadi paham kebanyakan orang?, dalil inipun terbantah dengan sendirinya dan nampak bahwa mereka hanya menginginkan yang penting demokrasi haram.

Menyadarinya dalil tersebut amburadul, dicarinya lagi dalil untuk mengharamkan demokrasi, karena tujuannya memang yang penting demokrasi haram, ketemulah dalil yang lain yaitu, kata mereka demokrasi itu bid’ah, karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammd saw, dan mereka mengancam orang-orang Islam yang ikut demokrasi akan masuk neraka berdasarkan dalil berikut :

“Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah (al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi Muhammad SAW, dan seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang baru, dan setiap yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah di dalam neraka”

Ancaman tersebut benar adanya dan tidak ada seorang ulamapun yang membantah keshahihan hadits tersebut, tetapi pengaplikasian ancaman tersebut kepada orang-orang yang berjuang melalui demokrasi nampak jelas nafsu mereka yang penting demokrasi haram, mereka menjadi seperti orang bodoh atau memang bodoh sehingga tidak tahu kalau ancaman hadits tersebut hanya untuk urusan-urusan ibadah mahdoh seperti sholat, doa, puasa, haji dan lain-lain, tidak untuk ibadah-ibadah ghairu mahdoh atau mu’amalah.

Pemaksaan penerapan hadits tersebut untuk urusan-urusan ibadah ghairu mahdoh atau untuk urusan-urusan mu’amalah atau untuk urusan kemaslahatan umat akan dapat menyebabkan menilai para sahabat sebagai pelaku bid’ah dan penghuni neraka, padahal para sahabat sudah terjamin masuk surga, kita ambil satu contoh ibadah yang dilakukan oleh khalifah Abu Bakar ra yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Beliau pernah memerintahkan untuk membukukan al-Qur’an yang mana perbuatan tersebut sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw, sampai-sampai Zaid bin Tsabit ra menyatakan memindahkan gunung jauh lebih ringan daripada menuruti perintah Abu Bakar ra, hal itu menunjukkan perintah Abu Bakar ra betul-betul sangat baru, tetapi karena hal tersebut sebagai urusan mu’amalah dan untuk kemaslahatan umat Islam maka Zaid bin Tsabit ra akhirnya dapat menerimanya.

Setelah pengaplikasian dalil bid’ah pada demokrasi ketahuan amburadul seperti pemaksaan baju wanita kepada laki-laki hingga nampak seperti banci, mereka tidak berhenti untuk mencari dalil yang lain lagi dan terus percaya diri, karena tujuan mereka satu yaitu yang penting demokrasi haram, dalil lainnya yang mereka berondongkan agar demokrasi dinilai haram adalah dalil penyerupaan atau tasyabbuh kepada orang-orang kafir atau Barat. Mereka mengutip hadits berikut :

“Dari Ibn Umar ra berkata : Bersabda Rasulullah s.a.w : Barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia telah menjadi golongan mereka”

HR. Ahmad,Abu Daud dan at Tabrani.

Hadits tersebut shahih dan tidak seorang ulamapun yang membantah akan keshahihan hadits tersebut, namun penerapan hadits tersebut untuk demokrasi seperti penggunaan pakaian wanita kepada laki-laki hingga nampak seperti bencong, bahkan pemaksaan dalil semacam itu akan dapat menuduh para sahabat bahkan Rasulullah saw sendiri tasyabbuh kepada orang-orang kafir, bukankah Rasulullah pernah melakukan bekam, dimana bekam adalah pengobatan yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah? Bukankah keturunan penerus Mu’awiyah ra menggunakan sistem kerajaan untuk pemerintahannya di mana kerajaan adalah sistem yang digunakan oleh orang-orang kafir sebelumnya bahkan hingga kini? Bukankah Rasulullah pernah membuat parit untuk strategi peperangan yang mana parit adalah cara yang dibuat oleh pasukan Syria? Bukankah Umar membuat penjara yang mana penjara adalah cara yang dilakukan oleh bangsa-bangsa kafir sebelumnya?

Bukankah mereka juga saat ini berbuat apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir, misalnya, anak-anak mereka sekolah di sekolahan yang menggunakan sistem 6 tahun, 3 tahun, dan sistem per semester untuk pendidikan bahkan penggunaan gelar seperti LC, MA, S Ag, yang mana semua itu bukan dari Islam tapi dari Barat atau orang-orang kafir?

Bukankah mereka menggunakan uang kertas dan logam sebagai alat pembayaran?, yang mana alat pembayaran seperti itu bukanlah dari Islam tapi dari orang-orang kafir, Islam sendiri telah mencontohkan emas/perak sebagai alat pembayaran.

Bukankah mereka menggunakan kalender masehi saat ini dan meninggalkan kalender hijriah untuk penentuan tanggal lahir, tanggal acara dan lain-lain, dan masih banyak contoh-contoh yang mereka lakukan yang berasal dari orang-orang kafir tapi mereka diamkan?, sehingga sangat nampak ambisinya bahwa mereka semata-mata hanya ingin yang penting demokrasi haram, titik! Tidak peduli dalilnya tidak pas dan tidak konsisten seperti bencong, antara baju dan jenis kelamin tidak cocok atau antara dalil dan obyek permasalahan tidak cocok.

Dalil itupun kurang ampuh untuk membodohi umat Islam agar mau mengikuti hawa nafsu mereka yaitu yang penting demokrasi haram, maka dicarinya lagi dalil yang lain yaitu menurut mereka demokrasi itu merupakan kesyirikan model baru, karena dalam demokrasi ada pembuatan hukum yang berarti hal itu mengambil hak kedaulatan Allah SWT atau menyamai sifat Allah SWT, untuk menjadikan argumentasi ini nampak ilmiah, mereka mengambil dalil dari al-Qur’an dan al-Hadits, salah satunya adalah :

” Ingatlah… memerintahkan hanyalah hak Allah….

QS. 7:54.

 

Menurut mereka orang-orang parlemen telah mengambil hak kedaulattan Allah SWT yaitu membuat pemerintahan dan hukum.

Dalil inipun nampak sebagai dalil yang dipaksakan seperti memaksakan pakaian wanita kepada laki-laki, sehingga menjadikan laki-laki tersebut nampak sebagai banci, pemaksaan dalil ini dapat menuduh para khalifah juga telah merebut hak kedaulatan Allah SWT, siapakah yang memimpin umat Islam pada zaman Khalifah Abu Bakar ra? Abu Bakar ataukah Allah SWT, siapakah yang membuat hukum agar memerangi orang-orang yang tidak membayar zakat? Abu Bakar ra ataukah Allah SWT, jawaban dari orang yang mempunyai akal tentulah Abu Bakar ra, lantas apakah ada ulama yang mengatakan Abu Bakar ra telah merampas hak kedaulatan Allah SWT dan telah murtad karena telah membuat hukum dan pemerintahan? Sampai saat ini tidak ada, entah kalau kelompok yang mengharamkan demokrasi, kalau mereka konsisten mau tidak mau harus mengatakan Abu Bakar ra telah merampas hak kedaulatan Allah SWT dan murtad.

Apakah mereka menyadari keamburadulan dalil-dalil pengharaman demokrasi? Bisa iya bisa tidak, nampaknya, bagi mereka yang penting demokrasi itu haram, titik!

Insya Allah akan kita sambung pandangan sikap mereka dari kaca mata politik, dengan judul “Siapakah Yang Menguntungkan Yahudi?”. Insya Allah.

 

■ Malang, 23 Desember 2007



AL-ISLAH no 122
Desember 23, 2007, 7:40 am
Filed under: DEMOKRASI TIDAK TASYABBUH

DEMOKRASI

TIDAK TASYABBUH

 

 

Menyerupai orang-orang kafir, golongan orang-orang kafir, pengikut orang-orang kafir atau pengikut millah orang kafir, itulah tuduhan dan hujatan yang di arahkan kepada orang-orang yang berjuang melalui demokrasi, tujuannya jelas, agar perjuangan umat Islam di parlemen menjadi lemah dan bahkan kalau bisa parlemen kosong sama sekali oleh umat Islam yang memperjuangkan Islam dan diisi/dikuasai oleh orang-orang kafir dan Islam sekular.

Pada mulanya, umat Islam digiring kepada satu pemahaman bahwa menyerupai orang-orang kafir berarti telah menjadi golongan orang-orang kafir, salah satu hadits yang digunakan sebagai dalil untuk pemahaman ini adalah :

“Dari Ibn Umar ra berkata : Bersabda Rasulullah s.a.w : Barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia telah menjadi golongan mereka”

HR. Ahmad,Abu Daud dan at Tabrani.

Setelah umat Islam ini berhasil diberi pemahaman tersebut, maka fase berikutnya adalah penggiringan kepada pemahaman bahwa demokrasi itu berasal dari Barat atau orang-orang Kafir, fase berikutnya lagi, akan digiring ke pemahaman bahwa mengikuti demokrasi berarti telah mengikuti cara-cara orang Barat/Kafir, lalu pada fase yang lebih jauh lagi, umat Islam akan digiring ke pemahaman bahwa mengikuti cara Barat/Kafir berarti telah menyerupai orang-orang Barat/kafir, selanjutnya sebagai fase terakhir umat Islam akan digiring untuk menyimpulkan bahwa berjuang melalui demokrasi berarti telah menjadi satu golongan dengan orang-orang Barat/Kafir.

Penggiringan pemahaman semacam itu, sangat ampuh untuk mengelabui dan menyesatkan pemahaman umat Islam atau jamaah yang hanya duduk-duduk di majlis ta’lim yang jauh dari kepedulian akan permasalahan Islam dan umat Islam, hal itu bisa terjadi, karena orang yang hanya fokus pada kajian ilmu namun kosong dalam pengamalan, akan tidak menyadari bahwa retorika-retorika yang mereka dengarkan dari ustadz mereka dengan seksama sebenarnya telah menyimpang jauh dari maksud dalil dan sangat jauh dari kenyataan yang sebenarnya.

Namun, bagi aktivis yang fokus terhadap ilmu dan permasalahan Islam dan umat Islam, tentu akan mudah menge-tahui, retorika semacam itu hanyalah retorika yang lahir dari orang-orang yang gemar duduk-duduk dalam majelis ta’lim dan tidak mau turun lapang-an untuk kepentingan Islam dan umat Islam atau sebagai retorika yang lahir dari orang-orang yang tidak memahami kontekstual dalil atau sebagai retorika yang JAUH PANGGANG DARI API, antara maksud dalil dengan obyek yang dikenai dalil sama sekali tidak bersentuhan atau sebagai retorika KOSONG.

 

MENINJAU DALIL

“Dari Ibn Umar ra berkata : Bersabda Rasulullah s.a.w : Barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia telah menjadi golongan mereka”

HR. Ahmad,Abu Daud dan at Tabrani.

 

Ketika Islam mulai berkembang di Madinah, banyak orang-orang Yahudi (ahlul kitab) yang telah masuk ke dalam agama Islam. Rasulullah SAW ingin mengetahui jumlah umat Islam pada saat itu, oleh karenanya harus dapat dibedakan antara orang-orang Yahudi yang sudah masuk Islam dan orang-orang Yahudi yang tidak masuk Islam, hal itu sangat penting bagi syiar Islam dan untuk mengetahui kekuatan Islam juga untuk menghindari penyusupan musuh-musuh Islam ke dalam tubuh Islam, untuk mencapai tujuan ini Rasulullah SAW memerintahkan untuk membedakan diri dengan orang-orang Yahudi, pada saat itu yang paling menunjukkan ciri khas Yahudi dan Nasrani adalah mencukur jenggot dan memanjangkan kumis, maka untuk membedakan diri dengan mereka Rasulullah SAW memerintahkan agar umat Islam memanjangkan jenggot dan menipiskan kumis.

Imam Ahmad [Lihat Al-Musnad II/366] meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : ”Panjangkanlah jenggot dan potonglah kumis. Janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi dan Nasrani”.

Perintah Rasulullah SAW pada hadits kedua tersebut, nampaknya sebagai penjelas bahwa hadits yang pertama di atas larangan penyerupaannya adalah dalam hal jenggot dan kumis dan tidak dimaksudkan untuk hal-hal yang lainnya, sunnah Rasulullah SAW dan para sahabat memperkuat bahwa tidak semua perbuatan harus diselisihi :

1. Bekam, adalah pengobatan yang telah dilakukan oleh orang-orang jahiliyah, namun Rasulullah SAW dan para sahabat melakukannya, bila hadits yang pertama mempunyai makna yang umum, maka semestinya Rasulullah SAW dan para sahabat tidak melakukannya.


2. Perang, adalah sesuatu yang biasa dilakukan oleh orang-orang kafir dan jahiliyah sebelum Rasulullah saw lahir.


3. Membuat parit untuk strategi perang oleh Rasulullah SAW atas saran sahabatnya, ide ini bukanlah dari Islam tetapi dari orang-orang Persia yang tentu orang-orang kafir.


4. Bentuk kerajaan untuk sebuah pemerintahan seperti pada masa setelah Muawiyyah, bentuk kerajaan, asal muasalnya bukanlah dari Islam tetapi berasal dari bangsa-bangsa kafir sebelum masa Rasulullah SAW bahkan hingga pada zaman kita sekarang ini tetap dipertahankan oleh bangsa kafir seperti Inggris, Perancis dan lain sebagainya, tidak seorang ulamapun memerintahkan untuk menyelisihi bentuk negara kerajaan.


5. Pembuatan penjara pada masa Umar ra, di mana penjara telah biasa dibuat oleh pemerintahan kafir di negeri-negeri di luar wilayah Islam, dan masih banyak contoh perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dan kafir namun tidak diselisihi oleh umat Islam baik pada masa Rasulullah SAW maupun pada masa kekhalifahan.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa kalimat “Barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia telah menjadi golongan mereka” dalam hadits pertama di atas tidak memiliki arti secara umum atau global, nampaknya hanya perbuatan-perbuatan tertentu saja yang harus diselisihi, dan setiap perbuatan yang harus diselisihi Allah SWT dan RasulNya SAW akan menunjukkan perbuatan mana yang harus diselisihi dan akan menjelaskan pula alasan dan tujuan dari penyelisihan tersebut, Allah SWT dan Rasulnya tidak hantam kromo, yang baik dari orang-orang kafir dan menguntungkan Islam dan umat Islam maka akan dipakai selama hal itu menyangkut urusan antar manusia, sebaliknya bila akan merugikan Islam dan umat Islam dan menguntungkan musuh-musuh Islam maka Allah dan Rasulnya akan memerintahkan untuk menyelisihinya, berikut salah satu contoh ayat al-Qur’an tentang hal tersebut :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (Muhammad):”Raa’ina”, tetapi katakanlah:”Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir sik-saan yang pedih.

QS. 2:104

Ayat tersebut adalah larangan bagi umat Islam untuk menyerupai orang-orang Musyrik dan Yahudi yang biasa mengatakan Raa’inah (perhatikan dan dengarkan Muhammad), walaupun kata-kata itu bagus yaitu dapat berarti untuk memperhatikan dan mendengarkan Rasulullah SAW, namun kata-kata seperti itu biasa mereka lakukan dengan tujuan mengejek dan menyepelekan perkataan dan dakwah Rasulullah SAW, maka Allah SWT memerintahkan agar umat Islam tidak ikut-ikutan mengatakan kata-kata tersebut yang dapat berarti mengejek dan menyepelekan Rasulullah SAW dan sebagai gan-tinya Allah SWT memerintahkan untuk mengatakan “Unzhurna”.

Nampak jelas, bentuk perbuatan yang harus diselisihi maupun alasan dan tujuan menyelisihinya, dan nampak jelas manfaat bila menyelisihinya.

 

Demokrasi Tidak Tasyabbuh

Orang-orang yang menghukumi perjuangan melalui demokrasi sebagai tasyabbuh – menyerupai orang-orang Barat/Kafir- hanya karena demokrasi berasal dari orang-orang Barat/Kafir sangat nyata menunjukkan bahwa mereka hanya menginginkan yang penting DEMOKRASI HARAM. Kita akan buktikan sikap mereka tersebut.

Menurut mereka, berjuang melalui Demokrasi sebagai tasyabbuh karena menurut mereka demokrasi berasal dari orang-orang kafir. Baiklah kita akan terima anggapan mereka tersebut untuk penyederhanaan.

Sekarang mari kita lihat beberapa contoh yang berasal dari orang-orang kafir :

1. Membayar pajak tahunan kendaraan, ini berasal dari ajaran Yahudi dan Nasrani yang terdapat dalam kitab mereka.

2. Sistem pendidikan berjenjang, SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi, sis-tem pendidikan ini lahir bukan dari Is-lam tetapi dari orang-orang kafir.

3. Libur sekolah atau kerja pada hari Sab-tu atau Minggu merupakan hari libur yang berasal dari Yahudi dan Nasrani, Sabtu sebagai hari suci Yahudi dan Minggu sebagai hari suci Nasrani dan semua itu berasal dari kitab mereka.

4. Penggunaan uang kertas atau logam sebagai alat pembayaran, alat pembayaran ini berasal dari orang-orang kafir dan bukan dari Islam, sedang Rasulullah dan para sahabat menggunakan logam emas atau perak sebagai alat pembayaran.

5. Gelar pendidikan seperti LC, MA, S Ag, Dr, dan lain-lain merupakan gelar-gelar yang mengikuti aturan orang-orang Barat/Kafir.

6. Membayar pajak 10% untuk setiap barang atau jasa seperti pajak tagihan telepon, beli pulsa, beli barang-barang tertentu dan lain-lain, semua itu bersumber dari kitab Yahudi dan Nasrani.

Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang berasal dari Barat/Kafir yang bersumber dari kitab Yahudi atau Nasrani –Bible-.

Namun sampai detik ini, tidak sekalipun keluar dari mulut mereka bahwa hal-hal tersebut hukumnya haram atau sebagai tasyabbuh bila diikuti/dilakukan oleh umat Islam, padahal kalau mereka menilai demokrasi sebagai tasyabbuh bila diikuti, maka contoh-contoh tersebut akan jauh lebih nyata tasyabbuhnya bila diikuti, karena sumbernya sangat nyata dan jelas dari Bible, tapi mereka hanya lantang mentasyabbuhkan demokrasi.

Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan bungkamnya mereka terhadap hal-hal yang berasal dari Barat/Kafir tersebut :

1. Mereka hanya ingin mengharamkan demokrasi.

2. Mereka telah menikmati hal-hal yang berasal dari Barat/Kafir tersebut, misalnya anak-anak mereka bersekolah di sekolah-sekolah yang mengadopsi dari sistem Barat/Kafir, mereka bekerja karena ijazahnya di dapat dari pendidikan sistem kafir, mereka mempunyai mobil jadi tidak peduli mem-bayar pajak mobil yang mengikuti sistem kafir, mereka libur kerjanya hari Sabtu atau Minggu.

3. Mereka tidak memahami konteks dari dalil-dalil agama yang mereka kutip –tekstualisme-.

4. Mereka telah diperalat oleh Yahudi/Nasrani.

Melihat ketidak konsistenan mereka dalam menghukumi tasyabbuh hal-hal yang berasal dari Barat/Kafir, maka, merupakan sebuah kebodohan bila mengikuti pendapat yang mengatakan ikut demokrasi adalah tasyabbuh kepada orng-orang kafir.

Wallahu a’lam.

■ Malang, 23 Desember 2007



AL-ISLAH no 121
Desember 23, 2007, 7:25 am
Filed under: DEMOKRASI BUKAN KESYIRIKAN

DEMOKRASI

BUKAN KESYIRIKAN

 

Ada sebuah wacana/opini yang bertajuk “Demokrasi Merupakan Kesyirikan Model Baru”, opini ini, pada tahap awal, nampaknya dimaksudkan untuk menset pemahaman umat Islam agar memahami bahwa demokrasi yang sekarang dimanfaatkan sebagian umat Islam untuk memperjuangkan Islam adalah sebuah kesyirikan model baru, pada tahap berikutnya, wacana ini nampaknya dimaksudkan agar umat Islam meninggalkan perjuangan melalui demokrasi, dan pada tahap berikutnya lagi, sepertinya akan sampai pada tahap yang dinanti-nanti yaitu parlemen kosong oleh umat Islam yang memperjuangkan Islam dan terisi oleh musuh-musuh Islam baik dari orang-orang kafir maupun dari orang-orang Islam sendiri yang sekularis, liberalis dan kapitalis.

Menurut wacana tersebut, demokrasi yang menempatkan kedaulatan berada di tangan rakyat adalah bertentangan dengan prinsip Islam yang menyatakan bahwa kedaulatan hanya hak Allah SWT, menurut wacana tersebut, demokrasi telah merebut hak kedaulatan Allah SWT dan memberikannya kepada rakyat, contoh, bila rakyat menghendaki pelacuran dilegalkan, maka, pelacuran harus dilegalkan walaupun Allah SWT jelas-jelas melarangnya, kasus-kasus semacam inilah yang menurut penggulir wacana tersebut sebagai sumber kesyirikan dari demokrasi. Dan atas nama akidah yang shahih dan alih-alih membersihkan dari kesyirikan, para penggulir wacana ini menyatakan murtad hukumnya orang yang berjuang dan mendukung perjuangan melalui demokrasi.

 

Hanya Semantik Bukan Subtansi

Sebenarnya, wacana demokrasi sebagai kesyirikan yang menganggap kedaulatan rakyat pada demokrasi bertentangan dengan kedaulatan Allah SWT pada Islam, hanyalah bersifat teoritis belaka yang berkaitan dengan arti secara tekstual –semantik- dan bukan kontekstual –subtansi-.

Untuk memudahkan penggambaran dan pembahasan, kita ambil contoh dari kasus yang mudah, misalnya, ada satu jenis makanan yang telah kita kenal yaitu yang bernama Hot Dog yang artinya daging anjing hangat, maka, secara semantik, hukum dari makanan Hot Dog ini adalah haram, begitulah yang disepakati oleh para ulama bahwa daging anjing haram hukumnya, namun ternyata Hot Dog telah mendapatkan label halal dari lembaga-lembaga yang terpecaya dan dipercaya oleh seluruh umat Islam, mengapa Hot Dog yang berarti daging anjing hangat bisa mendapatkan label halal?, hal ini karena secara subtansi Hot Dog bukanlah roti yang berisi daging anjing, tetapi roti yang berisi daging sapi.

Begitu juga wacana demokrasi sebagai kesyirikan, secara semantik, kedaulatan rakyat pada demokrasi memang nampak bertentangan dengan kedaulatan Allah SWT pada Islam.

Demokrasi : Kedaulatan berada di tangan rakyat

Islam : ” Ingatlah… memerintahkan hanyalah hak Allah…. QS. 7:54.
Mari kita lihat pandangan seorang ustadz yang nampaknya ingin memaksakan pemahamannya tentang kedaulatan rakyat versus kedaulatan Allah SWT :

“Berarti jelas sekali bagi orang-orang beriman, bahwa Allah s.w.t-lah pemilik serta pemegang kedaulatan, bukan rakyat, meskipun rakyat tersebut semuanya terdiri dari orang-orang beriman atau terdiri daripada ulama”

Oleh sebab itu, jelaslah pula bahwa siapapun yang membenarkan, mengusung, mendukung, apa lagi membela doktrin demokrasi sama dengan membenarkan, mengusung, mendukung serta membela usaha dari kaum Yahudi penyembah berhala, penyembah setan untuk menyesatkan orang-orang beriman.

Bagi umat Islam perbuatan tersebut merupakan kekufuran yang nyata yang mengakibatkan batalnya keislaman orang terebut dan pelakunya harus bertobat dengan segera.
Adapun orang yang membenarkan pendapat mereka atau mendukung manhaj mereka, maka dia ini lebih parah, dan kekafirannya pun lebih jelas dan nyata.”

Itu adalah pandangan seorang ustadz yang kelihatannya brilian dan komprehensif, namun sebetulnya hanya berupa pandangan dari sisi semantik saja, dan mungkin semua itu karena kesengajaan atau ketidak-tahuan ustadz tersebut sehingga sisi subtansinya terabaikan –atau bisa jadi sengaja diabaikan-..

Pandangan semacam itu akan sangat berbahaya karena akan dapat menolak setiap subtansi yang ada terutama yang berbeda dengan semantiknya. Orang-orang yang berjuang menegakkan nilai-nilai Islam melalui Demokrasi seperti yang menghasilkan PERDA-PERDA bernuansa Islam juga akan disebut oleh kelompok ini sebagai orang-orang kafir atau musyrik tanpa kecuali.

Pemahaman seperti itu, mau tidak mau juga akan menilai murtad atau musyrik siapa saja yang berhubungan de-ngan demokrasi, seperti :

1. Prof. DR. BUYA HAMKA,
2. KH. Hasan Basri,
3. Hidayat Nur Wahid,
4. HM. Rasyidi,
5. Hamzah Haz,
6. KH. Din Syamsyuddin,
7. KH. Ahmad Dahlan,
8. Semua anggota MUI dan DDII karena mendukung berjuang melalui demokrasi.
9. KH. Habib Rizieq,
10. Ustadz Abu Bakar Ba’ayir (mengizinkan santrinya untuk memilih presiden),
11. Zainuddin MZ,
12. KH. Syukron Ma’mun,
13. KH. M. Quraisy Syihab,
14. Para Kyai dan Ustadz yang ikut pemilu
15. dan lain-lain.

Inilah pandangan yang sangat berbahaya bila memandang segala sesuatu hanya dari sisi semantik/tekstual belaka, para ulama yang telah disepakati oleh hampir seluruh umat Islam sebagai orang-orang yang sholeh ternyata mendapat predikat sebagai seorang musyrik oleh pemahaman kelompok ini.

Yang lebih berbahaya lagi, pemahaman kedaulatan rakyat versus kedaulatan Allah SWT yang memandang dari sisi semantik saja, akan dapat mengkafirkan para sahabat, seperti :

1. Siapakah yang memerintahkan untuk memerangi orang-orang yang tidak membayar zakat?, siapakah yang memerintahkan untuk mengumpulkan tulisan-tulisan al-Qur’an menjadi satu kitab. Apakah Abu Bakar ra ataukah Allah SWT?, tentu saja orang-orang beriman dan berakal akan mejawab Abu Bakar ra yang memerintahkan bukan Allah SWT, apakah Abu Bakar ra kafir?, mau tidak mau, menurut penggulir wacana demokrasi sebagai kesyirikan yang memandang dari sisi semantik, maka Abu Bakar ra telah mengambil kedaulatan Allah SWT dan itu kekufuran yang nyata.

2. Siapakah yang memerintahkan untuk membakar mushhaf, Allah SWT ataukah Utsman?, tentu orang-orang yang beriman dan berakal akan menjawab yang memerintahkan adalah Utsman, apakah Utsman menjadi kafir karena telah memerintahkan, bukankah memerintahkan merupakan hak Allah SWT? Jika dipandang dari kaidah kelompok penggulir wacana demokrasi sebagai kesyirikan, maka, mau tidak mau harus mengatakan Utsman ra telah mengambil hak kedaulatan Allah SWT dan itu berarti telah kafir, karena telah menyamai sifat Allah yaitu memerintah.

3. Siapakah yang memerintahkan untuk bikin penjara, Umar ra ataukah Allah SWT?, siapakah yang memerintahkan untuk membakar orang-orang murtad, Ali ra ataukah Allah SWT, apakah Umar ra dan Ali ra menjadi kafir karena telah memerintah?, mau tidak mau dengan kaidah kelompok tersebut, beliau-beliau ra adalah kufur karena telah mengambil hak memerintah Allah SWT.

Dan masih banyak contoh yang lainnya, yang kalau dipandang dari sisi semantik, maka para sahabat/khalifah telah mengambil hak kedaulatan Allah SWT, karena merekalah penguasa dari rakyatnya bukan Allah SWT, apakah lantas hal itu menjadikan mereka kufur? Mau tidak mau jika mengikuti pemahaman kelompok ini maka semua khalifah telah kufur. Bukankah hal ini sangat berbahaya bagi aqidah?

 

Demokrasi bukan Kesyirikan

Namun bila mau melihat demokrasi dari substansinya, maka demokrasi yang kedaulatan berada di tangan rakyat tidaklah bertentangan dengan Islam yang menyatakan kedaulatan adalah milik Allah SWT, karena demokrasi itu hanya:

1. Wadah rakyat untuk memilih pemimpin yang akan mengurusi mereka.
2. Rakyat berhak mengawasi jalannya pemerintahan dan meminta pertanggung jawaban pemimpin yang mereka pilih bahkan bisa juga memecatnya bila tidak amanah.
3. Hukum yang berlaku adalah hukum yang dikehendaki rakyat, maka bila rakyat yang pro al-Qur’an dan as-Sunnah, maka hukum yang akan dilegalkan akan selaras dengan Islam.
4. Pemimpin tidak bisa membawa ke sistem ekonomi, sosial, budaya atau politik yang tidak mereka kehendaki.
5. Demokrasi dapat mengakomodasi kedaulatan versi Islam, yaitu secara defacto kedaulatan ada di tangan rakyat namun secara dejure kedaulatan adalah milik Allah SWT, kedaulatan seperti itulah yang ada pada para khalifah dan yang ada pada Allah SWT.
6. Voting dalam demokrasi, bukanlah untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah, bisa jadi yang menang yang salah karena mereka mayoritas, bisa jadi juga yang benar yang menang.

Voting hampir sama dengan perang, bukan untuk menentukan benar dan salah, tetapi untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah, bila yang kalah yang benar, maka yang akan berkuasa dan akan memimpin adalah yang bathil, adanya kemungkinan yang bathil bisa menang tidak menjadikan demokrasi atau perang menjadi haram hukumnya.

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dalam tausyiahnya di Masjid AL-JIHAD Kranggan memberikan jawaban yang adil ketika ditanya tentang pendirian partai politik “Selama partai tersebut memperjuangkan hukum Allah, maka dia adalah partai Allah” Inilah jawaban dari seorang ustadz yang telah berhasil melihat hal-hal yang subtansi dan tidak terjebak pada yang semantik.

Dan ketika beliau ditanya tentang perjuangan umat Islam melalui demokrasi beliau menjawab :

“Satu yang menjadi perhatian adalah bagaimana parpol Islam bisa menerjemahkan dengan tepat demokrasi. Jangan sampai demokrasi bernilai syirik,” Hal ini diungkapkan Ba’asyir kepada Sekretaris Majelis Syuro PBB Fuad Amsyari yang mengunjunginya di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Jakarta Timur.

Detik.Com 30/08/2005 18:48 WIB

Ba’asyir: Umat Islam Jangan Terjebak Jargon Demokrasi

Begitu juga HTI, telah mulai melihat demokrasi dari sisi subtansinya, sehingga Ismail Yusanto juru bicara HTI menyampaikan bahwa sekarang bisa menerima demokrasi dan ada kemungkinan akan ikut dalam politik praktis.

Apakah kelompok pengusung wacana demokrasi sebagai kesyirikan mampu melihat subtansi?, selama kelompok ini berdiam diri tidak pernah berjuang seperti IM, MMI, FPI, HTI dan lain-lain, kecil kemungkinannya akan mampu melihat subtansinya.

Dan jika kelompok ini tidak terus terjebak dalam semantikisme, tekstualisme dan teoritisme, Insya Allah, akan mampu melihat bahwa berjuang melalui demokrasi bukanlah kesyirikan.
Wallahu a’lam.

■ Malang, 23 Desember 2007



AL-ISLAH no 120
Desember 23, 2007, 7:21 am
Filed under: DEMOKRASI BUKAN BID'AH

DEMOKRASI

BUKAN BID’AH

 

 

Salah satu opini yang dihembuskan agar umat Islam menjauhi perjuangan melalui demokrasi adalah “Demokrasi itu Bid’ah”, opini ini memang langsung menghujam pada hal yang sangat pokok dan besar dalam agama Islam, yang mana dalam agama Islam, balasan bagi pelaku bid’ah adalah neraka.

Dalil yang sangat jelas tentang bid’ah adalah hadits berikut ini :

“Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah (al-Qur’an), dan se-baik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi Muhammad SAW, dan seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang baru, dan setiap yang baru adalah bid-’ah, dan setiap bid’ah di dalam neraka”

Opini “demokrasi itu bid’ah” memang efektif untuk menakut-nakuti umat Islam agar tidak berjuang melalui demokrasi, karena bagi umat Islam yang tidak kritis akan mudah terprovokasi oleh opini tersebut karena seakan-akan demokrasi merupakan hal yang baru dalam Islam.

Namun, benarkah perjuangan umat Islam melalui demokrasi merupakan sesuatu yang baru dan terlarang dalam Islam, benarkah segala sesuatu yang baru dapat disebut bid’ah ?

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang perlu di jelaskan jawabannya agar tidak menjadi fitnah dan keragu-raguan bagi umat Islam saat ini yang menghadapi musuh dari segala arah.

 

BARU TAPI BUKAN BID’AH

Teks hadits di atas -hal 1- memang menyebutkan “setiap yang baru adalah bid’ah”, dan dalam hadits tersebut tidak ditunjukkan adanya perkecualian, sehingga secara tekstual hadits tersebut tidak memberikan celah bagi sesuatu dalam urusan agama ini yang tidak pernah dicontohkan dan dititahkan oleh rasulullah saw.

Namun, banyak contoh dari para sahabat yang melakukan hal-hal yang baru dalam urusan agama dan ulama-ulama sesudahnya hingga saat ini, tidak seorang ulamapun yang berpendapat para sahabat telah melakukan bid’ah, seperti kisah yang diriwayatkan Zaid bin Thabit pada masa kekhalifahan Abu Bakr ra berikut :

Abu Bakr memanggil saya setelah terjadi peristiwa pertempuran al-Yamama yang menelan korban para sahabat sebagai shuhada. Kami melihat saat ‘Umar ibnul Khattab bersamanya. Abu Bakr mulai berkata :

”Umar baru saja tiba menyampaikan pendapat ini, ’Dalam pertempuran al-Yamama telah menelan korban begitu besar dari para penghafal Al-Qur’an (qurra’) dan kami khawatir hal yang serupa akan terjadi dalam peperangan lain. Sebagai akibat, kemungkinan sebagian Al-Qur’an akan musnah. Oleh karena itu kami berpendapat agar dikeluarkan perintah pengumpulan semua Al-Qur’an. ”Abu Bakr menambahkan,”Saya katakan pada ‘Umar, ’bagaimana mungkin kami melakukan satu tindakan yang Nabi Muhammad tidak pernah melakukan?’ ‘Umar menjawab, ’Ini merupakan upaya terpuji terlepas dari segalanya dan ia tidak berhenti menjawab sikap keberatan kami sehingga Allah memberi kedamaian untuk melaksanakan dan pada akhirnya kami memiliki pendapat serupa. Zaid! Anda seorang pemuda cerdik pandai dan anda sudah terbiasa menulis wahyu pada Nabi Muhammad dan kami tidak melihat satu kelemahan pada diri anda. Carilah semua Al-Quran agar dapat dirangkum seluruhnya. ”Demi Allah, jika sekiranya mereka minta kami memindahkan sebuah gunung raksasa, hal itu akan terasa lebih ringan dari apa yang mereka perintahkan pada saya sekarang. Kami bertanya pada mereka, ’Kenapa kalian berpendapat melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad?’ Abu Bakr dan ‘Umar bersikeras mengatakan bahwa hal itu boleh-boleh saja dan malah akan membawa kebaikan. Mereka tak henti-henti menenang-kan rasa keberatan yang ada hingga akhir-nya Allah menenangkan kami melakukan tugas itu, seperti Allah menenangkan hati Abu Bakr dan ‘Umar.

Setelah diberi keyakinan, Zaid dapat menerima tugas berat sebagai pengawas komisi, sedang ‘Umar, sahibul fikrah, bertindak sebagai pembantu khusus.

Al-Bukhari, Shahih, Jam’i al-Qur’an, hadits no 4986 lihat juga Ibn Abi Dawud, al-Masahif.

Khalifah ‘Umar ra pernah membuat penjara, Ali ra, pernah membakar orang-orang murtad, Utsman ra. pernah membakar mush’af agar tidak terjadi perbedaan susunan surat al-Qur’an di antara umat, perbuatan-perbuatan para sahabat tersebut adalah perbuatan-perbuatan dalam urusan agama yang tidak pernah dititahkan dan dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW.

Bila melihat tekstual hadits tersebut, maka apa yang dilakukan para sahabat merupakan sebuah kesalahan dan bid’ah, namun, seperti yang diyakini oleh umat Islam, tidak mungkin para sahabat melanggar larangan rasulullah saw karena mereka ra adalah orang-orang yang paling bertaqwa dan telah dijamin masuk sorga, dan tidak mungkin pula mereka salah dalam memahami maksud hadits tersebut, karena mereka adalah orang-orang yang digembleng seca-ra langsung oleh rasulullah saw dan selalu bersama-sama dengan beliau dalam suka dan duka..

Perbuatan-perbuatan para sahabat tersebut yang tidak sama dengan tektual hadits justru sebagai dasar untuk memahami makna hadits tersebut secara benar, dan perbuatan-perbuatan para sahabat tersebut menunjukkan bahwa hadits tersebut mempunyai makna kontekstual.

Perbuatan-perbuatan para sahabat tersebut memberikan makna bahwa frase “setiap yang baru” dalam hadits tersebut tidak berarti segala sesuatu tanpa kecuali, melainkan segala sesuatu yang baru yang khusus dan terdefinitif, dalam hal ini para ulama dan ahli fiqih sepakat bahwa segala sesuatu yang baru dalam urusan agama yang dapat disebut bid’ah adalah yang ungan dengan ibadah mahdoh seperti sholat, puasa, cara berdoa, haji, zakat dan lain-lain, bila ada orang menciptakan sholat di luar sholat-sholat yang telah diajarkan maka sholat tersebut adalah bidah, seperti sholat dalam dua bahasa.

Semua perbuatan para sahabat yang tidak pernah dicontohkan oleh rasulullah
saw tersebut adalah perbuatan-perbuatan yang berhubungan dengan politik dan muamalah atau perbuatan-perbuatan untuk kemaslahatan manusia dan urusan manusia yang dapat disebut sebagai ibadah ghoiru mahdoh. Untuk perbuatan-per-buatan semacam itu tidak perlu ada contoh dari rasulullah saw, dan sebagai acuan boleh tidaknya perbuatan tersebut adalah ada tidaknya larangan untuk melakukannya.

Jadi bila ada orang saat ini yang pukul rata menghukumi bid’ah terhadap segala sesuatu yang baru tanpa kecuali maka dengan sangat meyakinkan pen-dapat tersebut adalah bertentangan dengan para sahabat dan layak untuk ditinggalkan.

 

DEMOKRASI BUKAN BID’AH

Ada dua kategori yang menjadikan demokrasi bukan bid’ah yaitu, pertama, nilai-nilai yang ada dalam demokrasi yang sekarang ini bukan merupakan hal baru dalam Islam, karena rasulullah saw, para sahabat sudah pernah mencontohkannya, seperti pemimpin haruslah yang disepakati rakyat melalui perwakilan dan bukan pemimpin yang diktatoris, berunding dengan pihak manapun dari agama apapun untuk mencapai kedamaian bersama seperti musyawarah yang akhirnya menghasilkan piagam madinah dan perjanjian hudaibiyah, rakyat boleh memprotes pemimpin yang salah dan lain-lain.

Seperti itu juga praktek demokrasi yang ada sekarang ini, misalnya, tentang kepemimpinan, pemimpin haruslah yang disepakati oleh rakyat, begitu juga bila pemimpin berbuat salah dan dzalim, rakyat diakomodasi untuk menasehatinya dan memprotesnya.

Kedua, perjuangan melalui demokarsi dapat dikatakan bukan bid’ah adalah karena demokrasi bukan ibadah mahdoh, jadi sama sekali tidak ada kaitannya dengan bid’ah ataupun tidak. Boleh tidaknya perjuangan melalui demokrasi bukan atas ada tidaknya contoh tetapi ada tidaknya larangan untuk melakukannya.

Ibnu Qoyyim pernah menyinggung tentang perjuangan politik semacam demokrasi tersebut dalam kitabnya Al-A’lamul Muwaqqi’in :

“Berkata Ibnu Aqil : “Politik ialah adanya langkah-langkah perbuatan yang manusia dapat berada lebih dekat kepada kebaikan, dan lebih menjauhkan dari kerusakan, walaupun tidak terdapat syariat dari rasulullah saw dan juga tidak ada informasi wahyu”

Lalu Ibnu Qoyyim menyampaikan lagi :

Bila yang dimaksudkan Ibnu Aqil “Tidak ada politik kecuali yang cocok dengan syara” yaitu tidak menyalahi apa yang dinyatakan oleh syara’ maka ini adalah benar, tetapi jika yang dimaksudkan Ibnu Aqil harus sesuai dengan yang disebutkan oleh syara’ saja, maka ini suatu kesalahan, juga dapat menyalahkan para sahabat”

Seperti itulah perjuangan umat Islam melalui demokrasi, pertimbangannya adalah kadar kemaslahatan yang akan dicapai dan kadar kemudharatan yang akan dihindari, yang mana tindakan yang akan diambil dan dipilih sangat dipengaruhi oleh politik yang melingkupinya.

Seperti keputusan Abubakar ra ketika memerintahkan untuk mengumpulkan tulisan-tulisan al-Qur’an, ‘Umar ra ketika membuat penjara, Utsman ketika membakar mushaf dan ‘Ali ra ketika tidak melakukan hukum qishas atas pembunuh Utsman ra dan ketika membakar orang-orang murtad, yang mana semua tindakan itu sangat bergantung dari keadaan dan politik yang ada pada saat itu dan tidak pernah dicontohkan rasulullah saw dan tindakan-tindakan tersebut diambil atas dasar kadar kebaikan yang akan di-capai dan kadar kemudharatan yang akan dihindari.

Keputusan para pemimpin umat saat ini untuk berjuang melalui demokrasi merupakan keputusan yang paling mungkin dan paling tepat serta tidak menyalahi syara. Dan kini umat Islam dapat melihat hasilnya yang gemilang dan sampai saat ini para pembid’ah demokrasi belum menunjukkan realisasi apapun dari agamanya.

Wallahu a’lam.

Malang, 23 Desember 2007



AL-ISLAH no 119
Desember 23, 2007, 7:12 am
Filed under: MENGIKUTI AHLI TSUGUR

MENGIKUTI

AHLI TSUGUR

 

 

Sejarah telah membuktikan bahwa tidak ada syariat Islam yang tegak kecuali disertai dengan tegaknya pemerintahan/negara Islam, para Salafus shaleh dan tabiut-tabiin setelahnya juga memahami demikian bahwa tegaknya pemerintahan/negara Islam merupakan hal yang mutlak bagi tegaknya syariat Islam.

Rasulullah SAW bersabda :

Dari Usamah al-Bahil, dari Rasulullah saw, beliau bersabda, “sendi-sendi Islam akan runtuh satu demi satu; setiap kali satu sendi runtuh, akan diikuti oleh sendi berikutnya. Sendi Islam yang pertama kali runtuh adalah pemerintahan, dan yang terakhir adalah shalat.”

Ahmad

Sehingga, ketika Rasulullah SAW wafat, para sahabat langsung bermusyawarah mencari pengganti kepemimpinan Rasulullah SAW sampai-sampai pemakaman jenazah Rasulullah SAW tertunda karenanya yang menunjukkan bahwa pemerintahan Islam adalah hal yang sangat mutlak diperlukan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat tentang kemutlakan adanya pemerintahan Islam :

“Harus dipahami bahwa mengurusi urusan rakyat merupakan kewajiban agama yang paling besar, bahkan agama ini tidak mungkin bisa tegak tanpa adanya negara”

Ibnu Taimiyah

Hal tersebut mendorong umat Islam yang menyadari kewajibannya untuk dapat menerapkan syariat Islam untuk merebut pemerintahan yang sekarang ini juga diperebutkan oleh orang-orang kafir dan oleh orang-orang Islam yang membenci tegaknya syariat Islam, dan mereka saat ini bahkan sejak 400 tahun yang lalu telah menguasai pemerintahan di tanah air ini, oleh karenanya tidak ada jalan untuk dapat menerapkan syariat Islam kecuali dengan merebutnya dari kekuasaan mereka.

Dan oleh karenanya sebagian umat Islam memutuskan untuk melakukan evolusi yaitu mengikuti proses demokrasi yang menurutnya tidak ada jalan lain kecuali mengikutinya, menempuh jalan di luarnya berarti harus menempuh jalan revolusi, tidak menempuh evolusi atau revolusi berarti hanya basa-basi.

Para ulama kontemporer dan bukan ulama harakiyyun, banyak yang mendukung umat Islam yang berjuang meraih pemerintahan melalui proses evolusi, di antaranya Syaikh Utsaimin, Syaikh Bin Baz, Syaikh Albani, Syaikh Shaleh al-Fauzan dan lain-lain :

“Namun jika pemerintahan itu dibiarkan lalu kesempatan itu diberikan kepada orang-orang yang jauh dari cita-cita penerapan syari’at maka ini adalah sebuah kelalaian yang besar yang tidak seharusnya seseorang melakukannya.”

Syaikh Utsaimin

“dengan tidak ada keraguan bahwasanya WAJIB atas ummat Islam adanya wakil-wakil dan pemilih-pemilih yang memihak pada wakil-wakil yang berada di atas kebenaran (haq). Syaikh al-Bani

Untuk dukungan-dukungan selengkapnya dapat dilihat pada buletin AL-ISLAH no 101 dan 104.

Ada orang-orang Islam yang menentang keras jalan evolusi untuk dapat meraih pemerintahan dan mereka memandang hanya pendapatnya sendiri yang benar dan pendapat yang lain bathil tanpa sedikitpun mencoba memahami pendapat orang lain, dan merupakan sangat kebetulan orang-orang yang tidak berempati tersebut adalah orang-orang yang tidak pernah menempuh gerakan/perjuangan apapun untuk menegakkan syariat Islam, dari orang-orang tersebut ada yang berpendapat bahwa untuk dapat menegakkan syariat Islam harus dimulai dari diri sendiri dahulu lalu masyarakat lalu secara otomatis syariat Islam akan tegak dalam skala negara, pendapat ini menyebabkan mereka terbuai untuk tidak berbuat apa-apa, bahkan kelompok ini akhir-akhir ini nampak sangat kuat menghilangkan jihad qital di manapun di belahan dunia ini, sehingga dari kelompok ini tidak ada yang pernah berada di front perjuangan mengahadapi orang-orang kafir dan fasiq, bahkan muslim yang ada di Philipina sangat kecewa terhadap kelompok yang mengaku diri Salafy tersebut karena mereka tidak membantu sedikitpun baik moril, material apalagi tenaga.

Ada juga kelompok yang sangat keras menyalahkan dan mengharamkan perjuangan umat Islam melalui demokrasi dan sangat merasa benar sendiri, mereka adalah kelompok yang menyerukan jihad qital sebagai satu-satunya jalan untuk dapat meraih pemerintahan, tetapi seperti yang disebutkan di atas mereka adalah termasuk kelompok yang tidak melakukan gerakan/perjuangan apapun untuk meraih pemerintahan, seruan jihad qitalnya sampai saat ini hanya sebatas kerongkongan belaka seperti dasi yang menghiasi leher, tiada fungsi apapun kecuali untuk keindahan.

Dua kelompok tersebut di atas yang sangat keras dalam menyalahkan pendapat kelompok lain dan yang sangat merasa benar sendiri dalam beragama adalah kelompok-kelompok yang sangat kebetulan sampai saat ini sangat nyata belum pernah melakukan jihad qital. Terhadap kelompok-kelompok yang pendapatnya menyelisihi pendapat para pejuang/mujahid tersebut Imam Abdullah bin Mubarak dan Ahmad bin Hambal dan yang lainnya berkata : “Jika manusia berselisih di dalam sesuatu maka lihatlah (kem-balikan) kepada ahli syugur, karena kebenaran ada pada mereka”.Pendapat para Imam tersebut didasarkan pada firman Allah SWT :

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

QS. 29:69

Berdasarkan pendapat para imam tersebut, jika ada orang yang berselisih pendapat dengan orang-orang yang secara nyata telah berjuang di medan jihad sedang dirinya sendiri sama sekali belum pernah ke medan jihad maka pendapatnya harus ditinggalkan dan mengambil pendapat orang yang berjuang.

Bila direnungkan pendapat para imam tersebut, memang logis dan dapat dinalar, pasalnya orang-orang yang pernah ke medan jihad adalah orang-orang yang ikhlas dalam beragama dan zuhud terhadap dunia, sehingga ketika berpendapat, pendapatnya adalah semata-mata karena kecintaanya kepada Allah SWT.

Majalah “Al-Jihad” yang terbit pada bulan Maret 1986 edisi no. 53, menurunkan artikel berjudul Ja’al Haqq wa Zahaqal Bathil buah pena DR. Abdullah Azzam. Beliau menulis :

“Saya benar-benar yakin bahwa al-Qur’an tidak akan membuka rahasianya kepada seorang faqih yang qa’id (pasif/duduk berpangku tangan). Dan agama ini tidak akan dapat diselami kedalamannya serta dimengerti makna-maknanya oleh para penghafal matan (teks) dan hawasyi (footnote/catatan kaki) yang tidak bergerak dengannya, dan tidak hidup untuk menyokongnya. Saya kini lebih yakin lagi daripada sebelumnya tentang rahasia adanya kesepakatan tegas para fuqaha berkaitan dengan tidak adanya kewajiban baiat kepada seorang penguasa fasik dan disyaratkannya ilmu dan taqwa bagi siapapun yang mengurusi urusan kaum muslimin atau mengendalikan kepentingan-kepentingan mereka.”

Ikhwanul Mislimin, Hizbut Tahrir, Majelis Mujahidin Indonesia, Front Pembela Islam dan lain-lain adalah contoh-contoh organisasi yang orang-orangnya telah banyak yang pergi ke medan jihad sampai sekarang ini.

Ikhwanul Muslimin dengan Tandzimul Jihadnya, yaitu sebuah institusi jihad dalam struktur Ikhwanul Muslimin yang sangat rahasia, telah mengirimkan pasukannya ke Palestina guna menghadapi Israel yang telah memproklamirkan negara Israel di atas wilayah muslim, asy-Syahid Hasan al-Banna’ –semoga Allah merahmati-nya- bersama saudara seperjuangannya Taqiyuddin Nabhani –yang kemudian mendirikan Hizbut Tahrir- turut serta pergi ke medan jihad menghadapi Israel.

Ketika beliau kembali ke Mesir, beliau berpendapat “tidak masalah umat Islam menerima sistem demokrasi dan nasionalisme, yang penting kehidupan syariat Islam berjalan dalam suatu negara”, bila berpatokan kepada pendapat para Imam, maka bila ada orang yang tidak pernah berjihad lalu menyalahkan pendapat asy-Syahid Hasan al-Banna yang memaklumkan perjuangan melalui demokrasi, maka pendapat orang tersebut harus ditinggalkan dan semestinya mengikuti pendapat asy-Syahid Hasan al-Banna’.

Asy-Syahid DR. Abdullah Azzam memberikan pendapatnya tentang Ikhwanul Muslimin :

“Sesuatu yang ingin sekali aku jelaskan kepada publik adalah bahwa gerakan islam Ikhwanul Muslimin yang menjadi penggerak pertama, pemicu serta pembangkit jihad. Jama’ah inilah yang dengan izin Allah menjadi inti kepeloporan aktivitas penuh berkah ini.”

[Aayatur Rahmaan, cet. II, hal. 28].
http://abusalma.wordpress.com/2007/05/23/dr%E2%80%98abdullah-azzam-dan-para-penghafal-matan/

Beliau adalah salah satu da’i al-Ikhwan yang paling dekat dengan salafiyun dari segi akidah. Beliau pernah berguru kepada al-‘Allamah al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahu dan senantiasa menisbatkan diri sebagai muridnya. Namun beliau berselisih dengan al-Allamah al-Albani setelah al-Albani mentahdzir jama’ah Ikhwanul Muslimin. DR. Abdullah Azzam aktif mempropagandakan Jihad Afghanistan ke seluruh dunia. Beliau gugur dalam serangan bom yang dipasang di mobilnya setelah mengisi khutbah Jum’at beserta putera-puteranya. Semoga Allah menerima amalnya dan menjadikannya sebagai salah satu syuhada’ dan mengampuni semua kesalahankesalahan beliau. Beliau bergabung dengan Ikhwanul Muslimin di Palestina pada tahun 1967 setelah kepindahannya ke Yordania. Beliau adalah seorang mujahid yang diakui hampir seluruh umat Islam dunia, sampai kini belum pernah didapatkan beliau sampai akhir hayatnya pernah mempermasalahkan Ikhwanul Muslimin yang memaklumkan demokrasi, bila ada orang yang menyelisihi beliau tentang Ikhwanul Muslimin dan orang itu sama sekali tidak pernah berjihad, maka pendapatnya harus ditinggalkan dan kembali kepada sikap beliau sebagai ahli tsugur.

HAMAS, sebuah organisasi perlawanan yang begitu gigih melawan gempuran rudal-rudal Israel juga memaklumkan perjuangan melalui demokrasi dengan ikut sertanya HAMAS dalam pemilu di Palestina, maka jika ada orang yang tidak pernah berjihad menyelisihi sikap HAMAS, maka menurut pendapat para imam tersebut, pendapat orang tersebut harus ditinggalkan dan kembali kepada pendapat HAMAS yang dapat disebut sebagai ahli tsugur.

MMI dan FPI yang orang-orangnya banyak yang pergi ke wilayah-wilayah konflik seperti Palestina, Afghanistan, Libanon dan lain-lain untuk menghadapi kedzaliman orang-orang kafir juga memaklumkan demonstrasi, di mana demontrasi juga merupakan produk dari demokrasi, sehingga kalau ada orang yang menyelisihi sikap MMI dan FPI sementara orang tersebut tidak pernah berjihad, maka pendapat tersebut juga harus ditinggalkan dan kembali kepada pendapat MMI dan FPI yang memaklumkan demonstrasi, karena mereka dapat disebut ahli tsugur.

Hizbut Tahrir, yang didirikan oleh Taqiyuddin Nabhani, seseorang yang pernah pergi ke Palestina untuk berjihad, juga memaklumkan demokrasi yaitu mengikuti pemilu, bahkan di Libanon dan di Yordania, Hizbut Tahrir telah berpartai politik dan sangat diperhitungkan oleh lawan-lawannya, di Indonesia pada pemilu 2004 yang lalu telah mengikuti pemilu dan menghimbau pengikutnya untuk tidak golput bahkan terdengar kabar bahwa HTI akan membuat partai politik mengikuti jejak saudaranya Ikhwanul Muslimin yang telah terlebih dahulu membentuk partai politik. Jika kemudian ada orang yang tidak pernah berjuang menyelisihi sikap Hizbut Tahrir tersebut, maka menurut pendapat para imam tersebut, harus kembali kepada sikap Hizbut Tahrir yang dapat disebut sebagai ahli tsugur dan meninggalkan pendapat orang yang sama sekali tidak pernah pergi ke medan jihad yang oleh asy-Syahid DR. Abdullah Azzam disebut sebagi seorang faqih yang qa’id/duduk manis berpangku tangan.

Memang orang-orang yang tidak pernah turun ke medan jihad atau tidak pernah bergerak untuk menegakkan syariat/negara Islam tidak pernah mengetahui keadaan lapangan yang sesungguhnya dan apapun pendapatnya tidak punya resiko apapun karena memang tidak ada sesuatu yang dipertaruhkan.

Berbeda dengan orang yang berjihad/berjuang, misalnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, karena kepahaman beliau terhadap situasi lapangan, akhirnya beliau tidak semena-mena menolak seluruhnya hukum buatan manusia, selama hukum tersebut bisa dimanfaatkan untuk tetap menghidupkan lokomotif perjuangan dan tidak menyebabkan kesyirikan maka beliaupun memanfaatkannya, seperti gugatan beliau terhadap POLRI untuk membubarkan Densus 88 dan untuk membela diri beliau dalam persidangan yang mendzaliminya, kalau beliau tidak memanfaatkannya maka hidup/mati perjuangan beliau adalah taruhannya.

Padahal perjuangan untuk menegakkan negara/syariat Islam tidak boleh padam, selama dunia ini belum kiamat, perjuangan tersebut harus tetap dikobarkan, sehingga orang yang berjuang akan terus mencari jalan agar perjuangannya tidak berhenti, hingga akhirnya yang kita saksikan saat ini, HTI mau tidak mau harus mulai memikirkan untuk membentuk partai politik, MMI mau tidak mau harus memanfaatkan hukum-hukum positif yang tidak bertentangan dengan Islam dan tidak menyebabkan kesyirikan, Ikhwanul Muslimin mau tidak mau harus memanfaatkan demokrasi.

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dalam tausiyahnya di Masjid al-Jihad Kranggan ketika ditanya tentang HTI, beliau menjawab “selama HTI memperjuangan agama Allah maka HTI adalah hizbullah” dan ketika beliau di minta tausiyahnya oleh Sekertaris Majelis Syuro dari PBB beliau menyampaikan “Satu yang menjadi perhatian adalah bagaimana parpol Islam bisa menerjemahkan dengan tepat demokrasi. Jangan sampai demokrasi bernilai syirik,”

Detik.com 30/08/2005 18:48 WIB

Orang-orang yang terjunke lapangan, akan dengan sendirinya memanfaatkan celah-celah yang ada, sedang orang-orang yang berpangku tangan akan menutup semua celah yang ada dan akan cenderung mengharamkannya.

Wallahu a’lam.

■ Malang, 23 Desember 2007



AL-ISLAH no 118
Desember 23, 2007, 6:59 am
Filed under: UTOPIS apa MUNAFIK

Utopis apa Munafik

 

Seperti yang telah dipaparkan dalam buletin ini, ternyata sebagian kelompok dari umat Islam yang mengharamkan perjuangan melalui demokrasi adalah kelompok yang terdiri dari orang-orang yang dapat disebut sebagai utopis atau orang-orang yang berada dalam dunia khayal atau mimpi belaka, hal itu karena orang-orang tersebut sama sekali tidak mempunyai solusi apapun yang dapat direalisasikan untuk dapat menegakkan syariat Islam atau nahi mungkar.

Solusi-solusi yang diberikan memang terasa sangat mengagumkan dan meyakinkan apalagi oleh pengikut-pengikutnya yang telah terindoktrinasi, namun solusi-solusi tersebut sangat jauh dari dapat direalisasikan agar syariat Islam dapat ditegakkan atau nahi mungkar dapat dijalankan, misalnya solusi yang diteriakkan oleh kelompok yang menyebut diri sebagai Salafy berikut :

Negara Islam itu hanya akan bisa didirikan dengan menegakkan tauhid dan memberantas kesyirikan dari diri kita terlebih dahulu kemudian dari keluarga kita dan masyarakat kita.

http://www.Muslim.or.id/?p=406—–Bagaikan menegakkan benang basah

Solusi tersebut harus diakui sebagai slogan yang sangat indah dan membangkitkan optimisme karena menyebut-nyebut masalah kemurnian tauhid, namun sejak kelompok ini lahir dan slogan itu diteriakkan di mana-mana, tidak satupun negara Islam yang telah tegak oleh kelompok ini, bahkan tidak satu nahi mungkarpun yang telah dilakukan oleh kelompok ini sebagai implementasi dari akidah yang diklaimnya shahih, tidak pernah terlihat kelompok ini mencegah kemaksiatan yang dilakukan oleh orang lain, kemaksiatan-kemaksiatan yang ada di lingkungannyapun nampak di diamkan seperti pelacuran oleh para waria yang ada di kolong jembatan layang Cileungsi, padahal kalau seperempatnya saja dari pengikut kelompok ini berbaris mengitari jembatan niscaya para waria lari terbirit-birit, tetapi sayang, nahi mungkar yang skalanya sekecil itupun tidak dilakukannya apalagi jika skalanya seluas negara yang kemaksiatannya terorganisir dengan rapi, akan semakin membuat kelompok ini jauh dari bergerak.

Yang menyebabkan dengan slogan tersebut tidak dapat merealisasikan negara Islam adalah karena timbulnya keyakinan bahwa akidah itu merupakan wilayah hati dan ucapan dan bukan wilayah perbuatan, sehingga tidak pernah terpikirkan oleh kelompok ini untuk melakukan pergerakan.perjuangan fisik.

Kalau ditanyakan kepada mereka apa hukumnya mengikuti hukum yang Allah turunkan –tauhid uluhiyah-, maka dengan meyakinkan dan mengagumkan mereka akan menjawab “HUKUM ALLAH”, namun bila ditanyakan kepada mereka apa yang telah mereka lakukan agar hukum Allah SWT tersebut dapat ditegakkan pada kondisi hukum Allah SWT tidak diberlakukan oleh negara seperti saat ini, tentu mereka akan menjawab dengan retorika ke sana ke mari yang intinya untuk menutupi bahwa mereka tidak melakukan perjuangan apapun agar syariat Islam dapat ditegakkan/diikuti :

Dan al-Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertaqwalah agar kamu diberi rahmat,

QS. 6:155

Ayat tersebut adalah sebagai perintah agar kita mengikuti hukum yang telah Allah SWT turunkan, karena saat ini hukum Islam tidak tegak, maka harus ada upaya untuk menegakkannya. Penguasaan negara adalah sebagai sarana pelegalan agar umat Islam dapat menunaikan kewajibannya mengikuti hukum Allah SWT. Memurnikan akidah semurni-murninya dari kesyirikan hanya dalam hati dan ucapan tidak akan mengotomatiskan berdirinya negara Islam, negara Islam akan berdiri hanya jika diperjuangkan, dan itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para salafush-shaleh.

Keyakinan akan negara Islam akan berdiri dengan sendirinya itulah yang menyebabkan kelompok ini tidak menunjukkan usaha apapun untuk meraih pemerintahan bahkan cenderung membiarkan orang-orang kafir merebutnya, sehingga kelompok yang mengaku diri sebagai Salafy ini nampak sebagai kelompok utopis atau sebagai kelompok orang-orang yang berada dalam dunia mimpi/khayal, negara Islam yang disangkanya akan berdiri melalui slogannya tidak lebih hanya berupa khayalan belaka.
Kelompok ini sejatinya adalah sebagai kelompok pendakwah yang baik dan bukan sebagai kelompok pejuang, sangat disayangkan kelompok ini sangat keras hujatannya terhadap kelompok pejuang baik yang berjuang melalui demokrasi maupun yang tidak seperti MMI, HTI, FPI, IM dan lain-lain, padahal agama ini tidak akan tegak hanya melalui dakwah tanpa perjuangan untuk menegakkannya, Rasulullah SAW dan para salafus shaleh telah mencontohkannya, bahwa di samping mendakwahkan akidah yang shahih juga berjuang menghadapi orang-orang kafir, baik melalui diplomasi maupun jihad ketika diperlukan. Perlu dipertanyakan jika kelompok ini mengaku sebagai ahlus sunnah wal jamaah atau mengaku bermanhaj seperti manhajnya para salafush-shaleh tetapi hanya berdakwah tanpa berjuang meraih pemerintahan bahkan umat Islam yang berjuang lewat demokrasi tiada henti-hentinya dihujat.

Perlu diketahui oleh kelompok ini, umat Islam yang berjuang melalui demokrasi untuk meraih pemerintahan, berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun dengan sangat yakin berkesimpulan, bahwa pada saat ini, pemerintahan tidak akan bisa diraih bila tidak ikut serta dalam proses demokrasi, kesimpulan tersebut telah melalui ijtihad yang teliti dan telah didukung fatwa para ulama ahlus sunnah wal jamaah seperti Syaikh Albani, Syaikh Utsaimin, Syaikh Bin Baz, Lajnah Daimah, Ibnu Qayyim dan lain-lain, akhirnya mereka memutuskan untuk ikut serta dalam proses demokrasi dengan tujuan untuk menegakkan syariat Islam dan untuk nahi mungkar. Dan umat Islam yang jujur tentu dapat merasakan dan melihat hasil perjuangan mereka seperti maraknya pemberantasan kemaksiatan, orang-orang yang berzina dirazia, perjudian togel di berantas, koruptor diburu, minuman keras banyak yang dimusnahkan, dan lain-lain, yang mana hasil-hasil semacam itu belum bahkan tidak ditunjukkan oleh orang-orang yang tidak berjuang melalui demokrasi apalagi yang tidak berjuang sama sekali seperti kelompok yang mengaku diri sebagai Salafy, hasil-hasil semacam itulah yang dikehendaki Syaikh Albani terhadap ikut sertanya umat Islam dalam pemilu :

Aku katakan ini, – walaupun aku meyakini bahwa pencalonan dan Pemilu ini tidak merealisasikan sasaran yang dituju sebagaimana keterangannya di atas.- namun dari bab membatasi kejahatan, atau menolak kerusakan yang lebih besar dengan kerusakan yang lebih kecil, seperti yang diperkatakan oleh Ahli Fiqih (maka aku nasehatkan untuk memilih dari mereka golongan muslim).

Fatwa kepada partai FIS Aljazair

Jika saja kelompok yang menamakan diri sebagai Salafy ini mau mensinergikan dakwahnya dengan kelompok pejuang, tidak mustahil rahmat Allah SWT berupa berdirinya negara Islam atau tegaknya syariat Islam di Indonesia akan segera dapat diraih, namun jika kelompok ini bersikeras terhadap slogannya dan terus menghujat kelompok pejuang maka tegaknya negara/syariat Islam melalui kelompok ini hanya akan berupa bunga tidur belaka.

Ada juga kelompok lain di luar kelompok tersebut di atas yang juga dapat disebut sebagai kelompok yang utopis, yaitu kelompok yang berpendapat bahwa syariat Islam dan nahi mungkar tidak bisa ditegakkan melalui demokrasi dan menurutnya hanya jihad qital jalan satu-satunya yang dapat digunakan untuk menegakkan syariat Islam dan nahi mungkar.

Memang aneh jika kelompok yang menyerukan jihad qital tersebut disebut sebagai kelompok utopis, pasalnya jihad qital adalah sebuah jalan yang pernah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan para salafus shaleh bahkan oleh pahlawan-pahlawan Islam pada masa perang salib dan berhasil menegakkan Islam, jihad qital pada saat ini juga dilakukan oleh para pejuang Afghanistan, Palestina, Libanon, Irak dan lainlain karena kedzaliman yang mereka alami.

Jika kelompok ini akhirnya disebut sebagai utopis, hal itu tidak lain karena kelompok ini seruan jihadnya adalah seruan jihad yang tidak lahir karena adanya sebab-sebab seperti jihad-jihad di atas, tapi seruan jihadnya nampak terlahir dari emosi yang tidak terkontrol dan tidak dilandasi pemahaman agama yang komprehensif, atau dengan kata lain seruan jihad qitalnya tidak sesuai syariat, maka tidak aneh jika seruan jihad qitalnya hanya sampai pada taraf seruan belaka, setidak-tidaknya sejak beberapa tahun yang lalu hingga detik ini dan nampaknya sampai kapanpun akan seperti itu, jihad qitalnya hanya sebagai hiasan kerongkongan dan tidak akan sampai pada tindakan nyata, seakan-akan seruan jihadnya hanya untuk satu tujuan yaitu yang penting demokrasi haram.

Yang membedakan antara kelompok Salafy di atas dengan kelompok ini adalah, bila kelompok Salafy tidak melakukan jihad qital karena memang slogannya tidak menuntut demikian bahkan slogannya cenderung meniadakannya, tetapi kelompok ini tidak melakukan jihad qital justru bertentangan dengan slogannya yang menuntut jihad qital, dapat dikatakan antara ucapan dan perbuatan tidak selaras.

Hal itu bisa terjadi karena adanya tujuan yang penting demokrasi haram, atau karena adanya kesadaran bahwa dirinya tidak mungkin mampu melakukan jihad qital atau karena kelompok ini sudah terserang penyakit munafik atau karena sebab-sebab yang lain yang dirinya sendiri juga tidak mengetahui.

Di dalam al-Qur’an ada ayat yang mengisahkan tentang orang-orang yang dahulu mengharap diturunkannya syariat jihad qital namun ketika diturunkan syariat jihad qital, sebagian dari mereka justru berbalik meminta tangguh :

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka:”Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari takutnya.

QS. 4:77

Kira-kira seperti itulah kelompok tersebut, ketika di Indonesia ini tidak ada sebab yang mewajibkan jihad qital mereka menyerukan jihad qital, tetapi ketika ada alasan yang lebih masuk akal untuk melakukan jihad qital mereka diam dan bungkam. Kalau mereka sekarang menyatakan wajib melakukan jihad qital untuk dapat meraih pemerintahan, maka pada masa orde baru dahulu akan menjadi jauh lebih wajib melakukan jihad qital, tetapi kenyataannya, jangankan bergerak melakukan jihad qital melawan kedzaliman orde baru, teriakan keras dalam berdakwah saja tidak pernah terdengar.

Orang-orang MMI yang sekarang ini, kebanyakan adalah mantan anggota NII, yang telah diakui kemilitanannya dalam memperjuangkan syariat Islam, namun saat ini mereka melalui MMI tidak menyerukan jihad qital untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia, karena memang tidak ada sebab yang mengharuskan untuk berjihad qital, adalah aneh dan menjadi pertanyaan besar bila ada kelompok yang diam seribu bahasa pada masa orde baru, namun kemudian berteriak sangat lantang tentang jihad qital pada masa demokrasi seperti saat ini, bisa jadi inilah kemunafikan yang tak mudah disadari.

Ciri-ciri itu semakin nampak jelas ketika tidak seorangpun dari kelompok ini yang mendaftarkan diri untuk jihad qital ke Ambon, Afghanistan, Palestina, Libanon, Irak dan lain-lain, karena kalau jihad qital mereka serukan untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia saat ini, tentu jihad qital ke wilayah-wilayah konflik seperti tersebut di atas jauh lebih nyata harus mereka lakukan, tetapi nyatanya tidak dilakukannya. Sementara itu, MMI, FPI, IM yang tidak menyerukan jihad qital untuk penegakan syariat Islam di Indoneisa telah mengirimkan banyak mujahidnya ke wilayah-wilayah konflik tersebut di atas, hal ini menunjukkan seruan jihad qital untuk penegakan syariat Islam di Indonesia saat ini sangat kental aroma kemunafikannya.

Allah SWT berfirman tentang orang-orang seperti di atas :

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat.

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.

QS. 61:2-3

 

Mereka telah mengatakan jihad sebagai satu-satunya jalan untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia, namun mereka tidak melakukan apa-apa untuk menegakkan syariat Islam bahkan berupa persiapan untuk jihad qitalpun tidak mereka lakukan misalnya, adanya pemimpin perang, personil yang kuat dan besar, dana, senjata, latihan militer, penguasaan senjata modern, taktik perang, pembentukan badan intel dan lain-lain, sampai detik ini tidak satupun yang telah diupayakannya, padahal semua itu adalah komponen-komponen jihad qital yang harus dipersiapkan agar didapatkan kekuatan pasukan jihad yang tangguh dan yang dapat membuat musuh-musuh gentar melihatnya, jika mereka melakukan persiapan itu semua, maka dalam ayat selanjutnya Allah SWT menetapkannya sebagai amal yang sangat dicintai-Nya dan diridhai-Nya :

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. QS. 61:4

Jika kelompok ini tidak mempersiapkan itu semua, maka teriakan jihad qitalnya dapat menggiringnya menjadi utopis yaitu menginginkan negara/syariat Islam tegak tetapi tidak berbuat apa-apa, atau dapat menggiringnya menjadi munafik, yaitu meneriakkan sesuatu yang tidak diperbuatnya atau kalau bukan utopis dan munafik bisa jadi kelompok ini adalah kelompok yang tidak paham terhadap agama yang tidak bisa menempatkan jihad qital secara proposional, atau kalau bukan semua itu teriakan jihadnya adalah yang penting demokrasi haram atau bisa jadi telah terperalat oleh Yahudi.

Wallahu a’lam.

■ Malang, 23 Desember 2007


AL-ISLAH no 117
Desember 23, 2007, 6:57 am
Filed under: REALIS DAN UTOPIS

REALIS DAN UTOPIS

 

 

Realis adalah orang yang dalam segala hal bersandar kepada kenyataan, bukan pada pemikiran semata, lawan kata dari realis adalah utopis yang artinya orang yang mempunyai rencana impian-impian akan sesuatu yang ideal, atau pembaharuan-pembaharuan yang tak mungkin dapat tercapai atau sesuatu yang berwujud cita-cita atau khayalan semata.

Pada kesempatan yang lalu, yaitu pada buletin AL-ISLAH no 115 dan 116, telah disajikan bahasan bahwa agar umat Islam dapat menunaikan kewajibannya dalam mengikuti syariat Islam, maka umat Islam harus memperjuangkan agar dapat meraih kepemimpinan dan penguasaan pemerintahan oleh umat Islam, bukti sejarah yaitu sejak masa Rasulullah SAW hingga sejarah jauh masa-masa sesudahnya menunjukkan bahwa tegaknya syariat Islam selalu diikuti oleh tegaknya pemerintahan Islam.

Tindakan para sahabat dalam bermusyawarah untuk menentukan siapa pengganti kepemimpinan nabi SAW pasca wafatnya beliau yang menyebabkan pemakaman beliau SAW tertunda karena musyawarah tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan sebuah pemerintahan oleh Islam mutlak diperlukan.

Pendapat-pendapat para alim ulama seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Aqil dan ulama-ulama ahlus sunnah wal jama’ah kontemporer seperti Syaikh Utsaimin dan Syaikh Albani menunjukkan bahwa penguasaan pemerintahan merupakan sebuah kewajiban untuk menegakkan Islam, Rasulullah SAW bersabda :

Dari Usamah al-Bahil, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “sendi-sendi Islam akan runtuh sa-tu demi satu; setiap kali satu sendi runtuh, akan diikuti oleh sendi berikutnya. Sendi Islam yang pertama kali runtuh adalah pemerintahan, dan yang terakhir adalah shalat.”

HR. Ahmad.

Kepemimpinan pemerintahan oleh Islam, di samping untuk tujuan melegalkan penerapan syariat Islam secara kaffah, juga dimaksudkan untuk menghadapi kemungkaran-kemungkaran yang timbul saat ini yang harus dicegah saat ini pula yang tidak bisa menunggu nanti setelah tercapainya pemerintahan Islam.

Umat Islam yang menginginkan tegaknya syariat Islam terbagi menjadi dua golongan yaitu yang realis dan utopis, yang realis atau yang mau melihat kenyataan adalah mereka yang bergerak untuk menerapkannya baik melalui demokrasi maupun tidak, yang utopis adalah mereka yang menginginkan tegaknya syariat Islam tetapi tidak mengusahakan apa-apa agar syariat Islam dapat ditegakkan.

Kelompok-kelompok yang dapat disebut realis itu misalnya MMI, HTI, FPI, IM, FPIS (front Pemuda Islam Surakarta), KPPSI (Komite Persiapan Penegakkan Syariat Islam), partai-partai yang berazaskan Islam -nama-nama partainya tidak disebut untuk tidak mengkampanyekannya- dan lain-lain.

Sedang kelompok-kelompok yang dapat disebut utopis misalnya Salafy Yordan dan kelompok-kelompok yang tidak bernama, tidak adanya nama dari kelompok tersebut karena kelompok-kelompok tersebut menilai bid’ah/haram membuat organisasi karena menurutnya tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Sebuah kelompok dapat dikatakan realis adalah bila kelompok tersebut bergerak dan berjuang agar syariat Islam –utamanya yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan-bisa dapat diterapkan oleh umat Islam, dan karena Syariat Islam hanya pemerintah yang dapat melegalkannya, maka kelompok-kelompok realis ini berjuang agar pemerintah mau melegalkannya, ada yang berjuang dengan cara meraih penguasaan pemerintahan seperti yang dilakukan oleh partai-partai yang berazaskan Islam, atau sebatas menyarankan agar pemerintah mau melegalkan penerapan syariat Islam seperti yang dilakukan oleh MMI, atau memaksa pemerintah agar mau menerapkan syariat Islam seperti yang dilakukan oleh FPI, FPIS dan KPPSI atau ada yang berusaha mengganti pemerintahan secara total menjadi sebuah kekhalifahan seperti yang dilakukan oleh HTI.

Sebuah kelompok dikatakan utopis bila keinginannya untuk menunaikan kewajiban menegakkan syariat Islam–utamanya yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan- tidak dibarengi dengan perjuangan agar syariat Islam dapat dilegalkan pemerintah, seperti yang disinggung-singgung sebelumnya, syariat tidak akan mungkin dapat ditegakkan tanpa adanya peran serta, dukungan dan legalitas pemerintah. Sa-lafy Yordan misalnya, meyakini bahwa mene-gakkan syariat Islam itu wajib hukumnya dan menegakkannya wajib hukumnya tapi tidak ada perjuangan agar pemerintah mau mele-galkan syariat Islam, bahkan kelompok ini ber-pendapat terapkan syariat Islam dalam hatimu terlebih dahulu maka syariat Islam akan tegak di dalam masyarakat. Ada juga kelompok-ke-lompok yang tidak bernama yang mengingin-kan tegaknya syariat Islam dan mengharamkan demokrasi dan menyatakan hanya jihad qital jalan satu-satunya untuk dapat menegakkan syariat Islam, namun kelompok ini sama sekali tidak pernah bergerak untuk melakukan jihad qital agar pemerintah mau melegalkan syariat Islam, oleh karenanya kelompok ini juga dapat disebut sebagai kelompok utopis atau berkha-yal belaka. Allah SWT berfirman :

…..Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri……

QS. 13:11

Syariat Islam tidak akan tegak hanya dengan teriakan jihad namun perlu implementasi dari teriakan tersebut, Rasulullah saw di dalam banyak riwayat telah mencontohkan bahwa beliau tidak hanya saja berdakwah tetapi beliau juga berjuang secara fisik menghadapi musuh berkorban harta, raga dan jiwa.

Kembali lagi pada konteks penerapan Syariat Islam di era generasi yang lahir di alam hegemoni demokrasi, dalam buletin AL-ISLAH no 099 beberapa bulan yang lalu dengan judul “Mengharamkan Parlemen (1)” pada halaman 3 telah disinggung tentang ke-utopis-an kelompok ini sehubungan sikapnya terhadap demokrasi :

ada kelompok yang mengharamkan parlemen dan mengharamkan masuk parlemen dan tidak mau taat kepada pemerintahan parlementer, tetapi kelompok ini tidak menunjukkan adanya usaha untuk mengubah sistem parlemen menjadi sistem yang menurutnya Islami, ada kemungkinan kelompok ini menyadari ketidak-mampuan yang luar biasa untuk mengubah bentuk negara ini menjadi negara yang bersistem Islami.

Itulah yang telah lama disinyalir oleh buletin AL-ISLAH, dan dalam nomor-nomor yang telah lalu pula dalam konteks perpolitikan saat ini, AL-ISLAH menyebut kelompok ini sebagai kelompok “Manhaj Tanpa Nahi Mungkar” utamanya yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan, karena memang tidak mungkin bisa nahi mungkar kalau tidak meraih pemerintahan dan tidak mungkin meraih pemerintahan kalau tidak ada pergerakan dan perjuangan untuk itu, keberhasilan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab juga karena adanya perjuangan yang akhirnya mendapatkan dukungan pemerintah.

 

KONSEKUENSI UTOPIS DAN REALIS

 

MMI dan HTI adalah contoh-contoh kelompok-kelompok realis yang memperjuangkan formalisasi tanpa melalui proses demokrasi, hal itu karena menurut kelompok-kelompok tersebut demokrasi merupakan produk orang kafir dan dapat bernilai syirik, tetapi karena kelompok-kelompok tersebut melihat adanya relita lapangan, akhirnya kelompok tersebut dapat mengetahui celah mana dari demokrasi yang tidak bernilai syirik, misalnya MMI dan HTI telah mengikuti pemilu untuk memilih Presiden dan wakilnya, bahkan melarang pengikutnya untuk golput, MMI dan HTI sampai kini tetap melakukan demontrasi jika diperlukan, dimana demontrasi juga merupakan produk dari demokrasi.

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang seorang realis dalam berjuang, sering menyebut bahwa UUD 45 adalah din manusia, karena dibuat oleh manusia dan menurutnya tidak boleh diikuti, tetapi karena ustadz Abu terjun secara langsung ke lapangan dalam berjuang, akhirnya beliau dapat melihat ada UU buatan manusia yang bisa dimanfaatkan tanpa bernilai syirik, sehingga tanpa ragu beliau menyerahkan urusannya kepada TPM –tim Pembela Muslim- untuk membelanya, dan juga beliau telah menggugat POLRI untuk membubarkan Densus 88, di mana semua itu tidak bisa lepas dari penggunaan hukum positif yang dibuat oleh manusia, karena pembelaan-pembelaan dan gugatan-gugatan tidak bisa lepas/keluar dari pasal-pasal yang telah ditetapkan di Indonesia oleh manusia, dengan realistis akan mampu memilah/memilih mana yang boleh dan yang tidak secara cermat.
Berbeda dengan kelompok-kelompok utopis, karena tidak mau melihat kenyataan dan realitas yang ada –al-waqi- maka kelompok ini dalam memandang segala sesuatu hanya hitam dan putih, halal dan haram dan cenderung melihat dalil secara tekstual dan dalam kondisi ideal.

Misalnya, kelompok ini menyerukan bahwa umat Islam wajib mengikuti hukum Allah SWT dan haram mengikuti hukum yang dibuat oleh manusia, seruan ini adalah salah satu seruan yang secara tekstual benar tetapi kelompok ini salah dalam menerapkannya, salahnya yaitu, seakan-akan seruan itu telah ada dua pilihan hukum yang sama-sama bisa diikuti dan diterapkan, seakan-akan seperti menyeru minumlah susu dan jangan minum racun, yang mana kalau seseorang mau mengikuti anjurannya untuk minum susu maka akan langsung bisa minum susu karena telah tersedia susu.

Seruan untuk mengikuti hukum Allah SWT tidak bisa dipahami seperti itu, karena memang saat ini manusia tidak bisa memilih hukum Allah SWT karena belum dilegalkan oleh pemerintah, oleh karenanya seruannya harus berubah menjadi perjuangkanlah hukum Allah SWT dan singkirkan hukum buatan manusia, seruan semacam itu akan merubah dari utopis menjadi realis, dan akhirnya akan dihadapkan untuk memanfaatkan celah demokrasi dan UU buatan manusia agar perjuangannya tetap berjalan seperti yang telah dicontohkan HTI dan MMI tanpa membawanya kepada kesyirikan.

Umar bin Khaththab berkata, ‘orang yang berakal itu bukanlah yang dapat mengetahui kebaikan dari keburukan, namun orang yang berakal adalah yang mampu mengetahui yang terbaik dari dua keburukan.”

Dari kitab Raudhatul Muhibbin, karya imam Ibnul Qayyim

■ Malang,28-08-2007

 




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.