DEMOKRASI.TK


AL-ISLAH no 115
Desember 23, 2007, 6:36 am
Filed under: SYARIAT

SYARIAT

 

 

Salah satu arti secara bahasa dari kata syariat adalah “jalan menuju ke tempat sumber air”, yang mana air adalah sesuatu yang sangat diperlukan dan esensial bagi kehidupan manusia, karena sangat esensialnya air bagi kehidupan manusia, sampai-sampai ada sebuah ungkapan yang menyatakan “tiada kehidupan yang tidak memerlukan air” atau ”tiada air tiada kehidupan”. Dari hal tersebut dapat ditarik pengertian bahwa syariat adalah sebuah jalan yang sangat diperlukan untuk mendapatkan kehidupan, dengan kata lain, secara bahasa dapat dikatakan bahwa syariat adalah jalan untuk mencapai/mendapatkan kehidupan.

Begitu juga pengertian syariat dalam agama, merupakan sebuah jalan untuk mendapatkan/mencapai sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan manusia di dunia dan di akhirat, sesuatu yang penting itu seperti pentingnya air bagi kehidupan makhluk hidup dan sesuatu yang penting itu dalam pandangan agama adalah rahmat dari Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat. Untuk dapat mencapai sesuatu yang penting itu –rahmat Allah SWT- manusia harus menempuh jalan/syariat yang telah disediakan oleh Allah SWT, umat-umat terdahulu oleh Allah SWT juga telah diberi syariat untuk mencapai rahmat-NYA :

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan…. QS. 22:67

dan kepada umat nabi Muhammad SAW, Allah SWT juga telah memberikan jalan/syariat yang terangkum dalam kitab al-Qur’an :

al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.

QS. 45:20

Rasulullah SAW diutus ke dunia ini adalah untuk menyampaikan dan memberi penjelasan tentang syariat agar menjadi rahmat bagi semesta alam :

Dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan.
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

QS. 7:184 dan QS. 21:107

CAKUPAN SYARIAT

diagram-syariat.gif


Bila hendak membukukan cakupan syariat Islam, bisa jadi sampai ratusan kitab setebal alQur’an akan belum cukup untuk merampungkannya, hal ini karena cakupan syariat Islam sangat luas dan luwes, luas karena syariat Islam mencakup mulai dari mengenal Allah SWT sampai mengenal seekor nyamuk, mulai cara beribadah kepada Allah SWT hingga cara berbakti dan bersikap kepada sesama makhluk baik manusia, hewan maupun tumbuhan.

Namun, untuk mempermudah pemahaman, cakupan syariat Islam tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu akidah, hukum-hukum praktis dan akhlak, akidah dipelajari dalam ilmu tauhid, hukum-hukum praktis dipelajari dalam ilmu fiqih, dan akhlak dipelajari dalam ilmu akhlak. Hukum-hukum praktis dapat dibagi lagi menjadi dua bagian besar yaitu pertama, hukum-hukum yang berhubungan dengan ibadah-ibadah formal seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain yang tata-caranya telah ditentukan dan harus diterima tanpa banyak tanya. Kedua, hukum-hukum yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan, yang kebanyakan hukum-hukumnya bersifat umum dan luwes yang sangat bermanfaat untuk menjawab tantangan-tantangan setiap generasi dan zaman yang memang perubahannya tidak dapat dihindari seperti perubahan jumlah penduduk, perubahan kebutuhan baik jumlah dan kualitas, perubahan alat-alat perang, kecepatan dalam komunikasi dan lain-lain yang semuanya mempengaruhi tingkah laku manusia yang menuntut sikap dan perlakuan yang berbeda-beda.

Syariat Islam yang berhubungan dengan mu’amalah inilah yang seringkali disebut oleh masyarakat sebagai “syariat”, dan syariat ini pulalah yang sedang diperjuangkan oleh sebagian umat Islam agar dapat ditegakkan dan dapat diamalkan oleh umat Islam yang menginginkan kehidupannya berada dalam syariat, dan perjuangan yang dimaksud adalah agar pemerintah mau melegalkan dan memformalkan penerapan syariat Islam, harus diketahui bahwa syariat –mu’amalah- tidak akan mungkin bisa diterapkan dan diformalkan tanpa adanya peran serta dan pengawalan pemerintah –lihat skema di samping-.

Pada masa Rasulullah SAW, ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, ada tiga hal yang pertama kali dilakukan, yaitu membangun masjid, mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, dan yang ketiga membuat undang-undang antara orang-orang Muslim dan non-Muslim penduduk Madinah juga kesepakatan di antara mereka untuk mengangkat Rasulullah SAW menjadi pemimpin di antara mereka.

Adanya kepemimpinan Rasulullah SAW tersebut, tidak mengherankan jika syariat Islam dapat ditegakkan baik akidah, akhlak maupun hukum-hukum praktis yang bersifat ibadah formal maupun mu’amalah. Begitu juga pada masa kekhalifahan, syariat dapat ditegakkan, kebaikan terus tumbuh dan kemungkaran dapat dicegah karena adanya pemerintahan Islam oleh para khalifah, sejarah selanjutnya juga menunjukkan hal yang sama, setiap kali pemerintahan dikuasai oleh umat Islam, maka di situ syariat dapat ditegakkan. Hal tersebut membuktikan bahwa syariat Islam tidak mungkin tegak tanpa adanya peran serta dan pengawalan pemerintah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan,

“Harus dipahami bahwa mengurusi urusan rakyat merupakan kewajiban agama yang paling besar, bahkan agama ini tidak mungkin bisa tegak tanpa adanya negara”

Mauqil Bani Marjah, Shafwah al-Rajul al-Mariidl.

Apa yang disampaikan oleh Ibnu Taimiyah sangat sesuai dengan sejarah seperti yang telah disinggung di atas dan sesuai dengan dalil-dalil yang ada misalnya :

Dari Usamah al-Bahil, dari Rasulullah saw, beliau bersabda, “sendi-sendi Islam akan runtuh satu demi satu; setiap kali satu sendi runtuh, akan diikuti oleh sendi berikutnya. Sendi Islam yang pertama kali runtuh adalah pemerintahan, dan yang terakhir adalah shalat.”

(Ahmad).

Dari hadits tersebut dapat dikatakan bahwa runtuhnya pemerintahan merupakan awal dari runtuhnya Islam. Di dalam al-Qur’an juga diisyaratkan bahwa untuk mentaati syariat juga harus mentaati pemerintah :

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu.

QS. 4:59.

Dari ayat tersebut dapat dipahami, bahwa umat Islam diperintahkan mentaati Allah SWT –sebagai sumber syariat- dan mentaati Rasul sebagai penjabar dan penjelas syariat, di samping itu, umat Islam diperintahkan juga mentaati pemerintah sebagai pengawal dan penjaga syariat.

 

WAJIB MENERAPKAN SYARIAT

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.

QS. 45:18.

 

Ayat tersebut merupakan salah satu dalil yang menunjukkan wajibnya umat Islam mengikuti syariat yang telah Allah SWT tentukan, dan karena umat Islam baru bisa mengikuti syariat Islam bila telah dilegalkan oleh pemerintah, dan karena pemerintah tidak akan melegalkan syariat Islam bila pemerintahan tidak dipegang oleh orang-orang yang menginginkan tegaknya syariat Islam, dan karena pemerintahan tidak akan terisi oleh orang-orang yang mau melegalkan syariat Islam bila umat Islam tidak mengupayakan dan memperjuangkannya, maka bagi umat Islam yang menyadari kewajiban untuk mengikuti syariat Islam, harus menyadari pula bahwa mengupayakan dan memperjuangkan agar pemerintahan diisi oleh orang-orang yang berusaha menegakkan syariat Islam merupakan kewajiban yang tidak bisa dihindari. Hal tersebut telah disepakati oleh para ulama seperti yang termaktub dalam sebuah kaidah fiqih berikut :

Sesuatu yang menyebabkan tidak dapat terlaksananya kewajiban, maka sesuatu itu adalah wajib.

Kewajiban tersebut saat ini semakin nyata dan urgen, karena di dalam pemerintahan saat ini tidak saja terisi oleh orang-orang yang tidak mau menegakkan syariat Islam, namun di sana banyak terisi oleh orang-orang yang ingin menyingkirkan syariat Islam sejauh-jauhnya dari kehidupan umat Islam.

 

MERAIH PEMERINTAHAN

Dalam konteks perpolitikan modern saat ini, demokrasi telah menjadi jalan yang lumrah untuk meraih pemerintahan, hal itu karena hampir 100% negara-negara di dunia saat ini telah menggunakan sistem demokrasi termasuk negara-negara kerajaan seperti Inggris, Perancis, Jepang dan lain-lain, umat Islam yang berusaha meraih pemerintahan agar dapat mengisi pemerintahan dengan orang-orang yang mau menegakkan syariat Islam mau tidak mau harus menempuh proses demokrasi yaitu sebuah proses melalui pemilihan umum yang sebagian ulama sudah berfatwa boleh mengikutinya, atau kalau tidak harus menempuh jalan di luar demokrasi yaitu dengan jalan revolusi, kudeta atau pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah.

Umat Islam yang menempuh jalan di luar demokrasi untuk meraih pemerintahan berargu-mentasi bahwa sistem kenegaraan haruslah sistem yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Menurut mereka sistem yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW adalah bid’ah dan haram yang harus dihindari, argumentasi tersebut didasarkan pada hadits :

“Barangsiapa mengerjakan perbuatan dan perbuatan itu bukan perintah kami maka perbuatan itu terlarang”

HR. Bukhori-Muslim

Penolakan mereka terhadap demokrasi juga dikarenakan menurut mereka demokrasi adalah sistem yang telah mengambil hak kedaulatan Allah SWT yaitu yang menentukan segala sesuatu atas suara terbanyak bukan atas dasar al-Qur’an dan al-Hadits.

Sementara itu, umat Islam yang mau menempuh jalan demokrasi menilai mustahil umat Islam dapat meraih pemerintahan bila tidak mau memanfaatkan celah yang ada pada demokrasi, penilaian ini didasarkan atas pemahaman mereka terhadap realitas yang ada (al-waqi).

Menurut mereka, ibadah-ibadah yang tidak berhubungan dengan ibadah mahdoh tidak harus ada contoh dari rasulullah SAW dan tidak harus ada tektual ayat yang memerintahkannya, menurut mereka berjuang untuk meraih pemerintahan hukumnya mubah selama tidak ada nash yang melarangnya, seperti pendapat Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Al-A’lamul Mu-waqqi’in yang intinya menyatakan bahwa tindakan politik tidak harus ada contoh dari syara’ tetapi yang penting tidak menyalahi syara’.

Bahkan menurut mereka memanfaatkan celah demokrasi dapat menjadi wajib bila hal itu merupakan jalan satu-satunya untuk dapat meraih pemerintahan, seperti sebuah kaidah fiqih ”Sesuatu yang menyebabkan tidak dapat terlaksananya kewajiban, maka sesuatu itu ada-lah wajib”, apalagi kondisi seperti saat ini, bila umat Islam tidak segera memanfaatkan celah yang ada pada demokrasi, maka pemerintahan akan diisi oleh orang-orang yang akan membuat kemudharatan, dan kalau hal tersebut tidak tangani segera, maka akan semakin banyak kemudharatan-kemudharatan
baru yang akan semakin menambah berat

nya beban perjuangan dan menjauhkan umat Islam dari pencapaian syariat Islam, oleh karenanya perjuangan meraih pemerintahan saat ini urgen untuk dilakukan dan cara yang mungkin dalam situasi urgen saat ini adalah memanfaatkan celah demokrasi, sikap semacam itu juga telah didukung oleh fatwa-fatwa para ulama ahlus sunnah wal jamaah seperti Syaikh ‘Utsaimin dan Syaikh Albani :

“Namun jika pemerintahan itu dibiarkan lalu kesempatan itu diberikan kepada orang-orang yang jauh dari cita-cita penerapan syari’at maka ini adalah sebuah kelalaian yang besar yang tidak seharusnya seseorang melakukannya.”

“dengan tidak ada keraguan bahwasanya WAJIB atas ummat Islam adanya wakil-wakil dan pemilih-pemilih yang memihak pada wakil-wakil yang berada di atas kebenaran (haq).

AL-ISLAH no 101

Sahabat ‘Umar Ibn al-Khaththab berkata, “Bukanlah orang yang berakal itu adalah yang dapat mengetahui kebaikan dari keburukan, namun orang yang berakal adalah yang mampu mengetahui yang terbaik dari dua keburukan.”

kitab Raudhatul Muhibbin, karya Ibnul Qayyim

Semoga Allah SWT memberikan rahmatnya kepada yang berjuang baik melalui demokrasi maupun yang tidak, dan semoga Allah SWT membukakan mata hati bagi orang-orang yang sama sekali tidak berjuang yang bisanya hanya mencela dan menghujat tak ubahnya penonton bola dan semoga jihad yang mereka dengung-dengungkan bukan sikap untuk menghindari perjuangan dan meninabobokan jamaah.

■ Malang, 23 Desember 2007

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: