DEMOKRASI.TK


AL-ISLAH no 117
Desember 23, 2007, 6:57 am
Filed under: REALIS DAN UTOPIS

REALIS DAN UTOPIS

 

 

Realis adalah orang yang dalam segala hal bersandar kepada kenyataan, bukan pada pemikiran semata, lawan kata dari realis adalah utopis yang artinya orang yang mempunyai rencana impian-impian akan sesuatu yang ideal, atau pembaharuan-pembaharuan yang tak mungkin dapat tercapai atau sesuatu yang berwujud cita-cita atau khayalan semata.

Pada kesempatan yang lalu, yaitu pada buletin AL-ISLAH no 115 dan 116, telah disajikan bahasan bahwa agar umat Islam dapat menunaikan kewajibannya dalam mengikuti syariat Islam, maka umat Islam harus memperjuangkan agar dapat meraih kepemimpinan dan penguasaan pemerintahan oleh umat Islam, bukti sejarah yaitu sejak masa Rasulullah SAW hingga sejarah jauh masa-masa sesudahnya menunjukkan bahwa tegaknya syariat Islam selalu diikuti oleh tegaknya pemerintahan Islam.

Tindakan para sahabat dalam bermusyawarah untuk menentukan siapa pengganti kepemimpinan nabi SAW pasca wafatnya beliau yang menyebabkan pemakaman beliau SAW tertunda karena musyawarah tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan sebuah pemerintahan oleh Islam mutlak diperlukan.

Pendapat-pendapat para alim ulama seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Aqil dan ulama-ulama ahlus sunnah wal jama’ah kontemporer seperti Syaikh Utsaimin dan Syaikh Albani menunjukkan bahwa penguasaan pemerintahan merupakan sebuah kewajiban untuk menegakkan Islam, Rasulullah SAW bersabda :

Dari Usamah al-Bahil, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “sendi-sendi Islam akan runtuh sa-tu demi satu; setiap kali satu sendi runtuh, akan diikuti oleh sendi berikutnya. Sendi Islam yang pertama kali runtuh adalah pemerintahan, dan yang terakhir adalah shalat.”

HR. Ahmad.

Kepemimpinan pemerintahan oleh Islam, di samping untuk tujuan melegalkan penerapan syariat Islam secara kaffah, juga dimaksudkan untuk menghadapi kemungkaran-kemungkaran yang timbul saat ini yang harus dicegah saat ini pula yang tidak bisa menunggu nanti setelah tercapainya pemerintahan Islam.

Umat Islam yang menginginkan tegaknya syariat Islam terbagi menjadi dua golongan yaitu yang realis dan utopis, yang realis atau yang mau melihat kenyataan adalah mereka yang bergerak untuk menerapkannya baik melalui demokrasi maupun tidak, yang utopis adalah mereka yang menginginkan tegaknya syariat Islam tetapi tidak mengusahakan apa-apa agar syariat Islam dapat ditegakkan.

Kelompok-kelompok yang dapat disebut realis itu misalnya MMI, HTI, FPI, IM, FPIS (front Pemuda Islam Surakarta), KPPSI (Komite Persiapan Penegakkan Syariat Islam), partai-partai yang berazaskan Islam -nama-nama partainya tidak disebut untuk tidak mengkampanyekannya- dan lain-lain.

Sedang kelompok-kelompok yang dapat disebut utopis misalnya Salafy Yordan dan kelompok-kelompok yang tidak bernama, tidak adanya nama dari kelompok tersebut karena kelompok-kelompok tersebut menilai bid’ah/haram membuat organisasi karena menurutnya tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Sebuah kelompok dapat dikatakan realis adalah bila kelompok tersebut bergerak dan berjuang agar syariat Islam –utamanya yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan-bisa dapat diterapkan oleh umat Islam, dan karena Syariat Islam hanya pemerintah yang dapat melegalkannya, maka kelompok-kelompok realis ini berjuang agar pemerintah mau melegalkannya, ada yang berjuang dengan cara meraih penguasaan pemerintahan seperti yang dilakukan oleh partai-partai yang berazaskan Islam, atau sebatas menyarankan agar pemerintah mau melegalkan penerapan syariat Islam seperti yang dilakukan oleh MMI, atau memaksa pemerintah agar mau menerapkan syariat Islam seperti yang dilakukan oleh FPI, FPIS dan KPPSI atau ada yang berusaha mengganti pemerintahan secara total menjadi sebuah kekhalifahan seperti yang dilakukan oleh HTI.

Sebuah kelompok dikatakan utopis bila keinginannya untuk menunaikan kewajiban menegakkan syariat Islam–utamanya yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan- tidak dibarengi dengan perjuangan agar syariat Islam dapat dilegalkan pemerintah, seperti yang disinggung-singgung sebelumnya, syariat tidak akan mungkin dapat ditegakkan tanpa adanya peran serta, dukungan dan legalitas pemerintah. Sa-lafy Yordan misalnya, meyakini bahwa mene-gakkan syariat Islam itu wajib hukumnya dan menegakkannya wajib hukumnya tapi tidak ada perjuangan agar pemerintah mau mele-galkan syariat Islam, bahkan kelompok ini ber-pendapat terapkan syariat Islam dalam hatimu terlebih dahulu maka syariat Islam akan tegak di dalam masyarakat. Ada juga kelompok-ke-lompok yang tidak bernama yang mengingin-kan tegaknya syariat Islam dan mengharamkan demokrasi dan menyatakan hanya jihad qital jalan satu-satunya untuk dapat menegakkan syariat Islam, namun kelompok ini sama sekali tidak pernah bergerak untuk melakukan jihad qital agar pemerintah mau melegalkan syariat Islam, oleh karenanya kelompok ini juga dapat disebut sebagai kelompok utopis atau berkha-yal belaka. Allah SWT berfirman :

…..Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri……

QS. 13:11

Syariat Islam tidak akan tegak hanya dengan teriakan jihad namun perlu implementasi dari teriakan tersebut, Rasulullah saw di dalam banyak riwayat telah mencontohkan bahwa beliau tidak hanya saja berdakwah tetapi beliau juga berjuang secara fisik menghadapi musuh berkorban harta, raga dan jiwa.

Kembali lagi pada konteks penerapan Syariat Islam di era generasi yang lahir di alam hegemoni demokrasi, dalam buletin AL-ISLAH no 099 beberapa bulan yang lalu dengan judul “Mengharamkan Parlemen (1)” pada halaman 3 telah disinggung tentang ke-utopis-an kelompok ini sehubungan sikapnya terhadap demokrasi :

ada kelompok yang mengharamkan parlemen dan mengharamkan masuk parlemen dan tidak mau taat kepada pemerintahan parlementer, tetapi kelompok ini tidak menunjukkan adanya usaha untuk mengubah sistem parlemen menjadi sistem yang menurutnya Islami, ada kemungkinan kelompok ini menyadari ketidak-mampuan yang luar biasa untuk mengubah bentuk negara ini menjadi negara yang bersistem Islami.

Itulah yang telah lama disinyalir oleh buletin AL-ISLAH, dan dalam nomor-nomor yang telah lalu pula dalam konteks perpolitikan saat ini, AL-ISLAH menyebut kelompok ini sebagai kelompok “Manhaj Tanpa Nahi Mungkar” utamanya yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan, karena memang tidak mungkin bisa nahi mungkar kalau tidak meraih pemerintahan dan tidak mungkin meraih pemerintahan kalau tidak ada pergerakan dan perjuangan untuk itu, keberhasilan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab juga karena adanya perjuangan yang akhirnya mendapatkan dukungan pemerintah.

 

KONSEKUENSI UTOPIS DAN REALIS

 

MMI dan HTI adalah contoh-contoh kelompok-kelompok realis yang memperjuangkan formalisasi tanpa melalui proses demokrasi, hal itu karena menurut kelompok-kelompok tersebut demokrasi merupakan produk orang kafir dan dapat bernilai syirik, tetapi karena kelompok-kelompok tersebut melihat adanya relita lapangan, akhirnya kelompok tersebut dapat mengetahui celah mana dari demokrasi yang tidak bernilai syirik, misalnya MMI dan HTI telah mengikuti pemilu untuk memilih Presiden dan wakilnya, bahkan melarang pengikutnya untuk golput, MMI dan HTI sampai kini tetap melakukan demontrasi jika diperlukan, dimana demontrasi juga merupakan produk dari demokrasi.

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang seorang realis dalam berjuang, sering menyebut bahwa UUD 45 adalah din manusia, karena dibuat oleh manusia dan menurutnya tidak boleh diikuti, tetapi karena ustadz Abu terjun secara langsung ke lapangan dalam berjuang, akhirnya beliau dapat melihat ada UU buatan manusia yang bisa dimanfaatkan tanpa bernilai syirik, sehingga tanpa ragu beliau menyerahkan urusannya kepada TPM –tim Pembela Muslim- untuk membelanya, dan juga beliau telah menggugat POLRI untuk membubarkan Densus 88, di mana semua itu tidak bisa lepas dari penggunaan hukum positif yang dibuat oleh manusia, karena pembelaan-pembelaan dan gugatan-gugatan tidak bisa lepas/keluar dari pasal-pasal yang telah ditetapkan di Indonesia oleh manusia, dengan realistis akan mampu memilah/memilih mana yang boleh dan yang tidak secara cermat.
Berbeda dengan kelompok-kelompok utopis, karena tidak mau melihat kenyataan dan realitas yang ada –al-waqi- maka kelompok ini dalam memandang segala sesuatu hanya hitam dan putih, halal dan haram dan cenderung melihat dalil secara tekstual dan dalam kondisi ideal.

Misalnya, kelompok ini menyerukan bahwa umat Islam wajib mengikuti hukum Allah SWT dan haram mengikuti hukum yang dibuat oleh manusia, seruan ini adalah salah satu seruan yang secara tekstual benar tetapi kelompok ini salah dalam menerapkannya, salahnya yaitu, seakan-akan seruan itu telah ada dua pilihan hukum yang sama-sama bisa diikuti dan diterapkan, seakan-akan seperti menyeru minumlah susu dan jangan minum racun, yang mana kalau seseorang mau mengikuti anjurannya untuk minum susu maka akan langsung bisa minum susu karena telah tersedia susu.

Seruan untuk mengikuti hukum Allah SWT tidak bisa dipahami seperti itu, karena memang saat ini manusia tidak bisa memilih hukum Allah SWT karena belum dilegalkan oleh pemerintah, oleh karenanya seruannya harus berubah menjadi perjuangkanlah hukum Allah SWT dan singkirkan hukum buatan manusia, seruan semacam itu akan merubah dari utopis menjadi realis, dan akhirnya akan dihadapkan untuk memanfaatkan celah demokrasi dan UU buatan manusia agar perjuangannya tetap berjalan seperti yang telah dicontohkan HTI dan MMI tanpa membawanya kepada kesyirikan.

Umar bin Khaththab berkata, ‘orang yang berakal itu bukanlah yang dapat mengetahui kebaikan dari keburukan, namun orang yang berakal adalah yang mampu mengetahui yang terbaik dari dua keburukan.”

Dari kitab Raudhatul Muhibbin, karya imam Ibnul Qayyim

■ Malang,28-08-2007

 

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: