DEMOKRASI.TK


AL-ISLAH no 119
Desember 23, 2007, 7:12 am
Filed under: MENGIKUTI AHLI TSUGUR

MENGIKUTI

AHLI TSUGUR

 

 

Sejarah telah membuktikan bahwa tidak ada syariat Islam yang tegak kecuali disertai dengan tegaknya pemerintahan/negara Islam, para Salafus shaleh dan tabiut-tabiin setelahnya juga memahami demikian bahwa tegaknya pemerintahan/negara Islam merupakan hal yang mutlak bagi tegaknya syariat Islam.

Rasulullah SAW bersabda :

Dari Usamah al-Bahil, dari Rasulullah saw, beliau bersabda, “sendi-sendi Islam akan runtuh satu demi satu; setiap kali satu sendi runtuh, akan diikuti oleh sendi berikutnya. Sendi Islam yang pertama kali runtuh adalah pemerintahan, dan yang terakhir adalah shalat.”

Ahmad

Sehingga, ketika Rasulullah SAW wafat, para sahabat langsung bermusyawarah mencari pengganti kepemimpinan Rasulullah SAW sampai-sampai pemakaman jenazah Rasulullah SAW tertunda karenanya yang menunjukkan bahwa pemerintahan Islam adalah hal yang sangat mutlak diperlukan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berpendapat tentang kemutlakan adanya pemerintahan Islam :

“Harus dipahami bahwa mengurusi urusan rakyat merupakan kewajiban agama yang paling besar, bahkan agama ini tidak mungkin bisa tegak tanpa adanya negara”

Ibnu Taimiyah

Hal tersebut mendorong umat Islam yang menyadari kewajibannya untuk dapat menerapkan syariat Islam untuk merebut pemerintahan yang sekarang ini juga diperebutkan oleh orang-orang kafir dan oleh orang-orang Islam yang membenci tegaknya syariat Islam, dan mereka saat ini bahkan sejak 400 tahun yang lalu telah menguasai pemerintahan di tanah air ini, oleh karenanya tidak ada jalan untuk dapat menerapkan syariat Islam kecuali dengan merebutnya dari kekuasaan mereka.

Dan oleh karenanya sebagian umat Islam memutuskan untuk melakukan evolusi yaitu mengikuti proses demokrasi yang menurutnya tidak ada jalan lain kecuali mengikutinya, menempuh jalan di luarnya berarti harus menempuh jalan revolusi, tidak menempuh evolusi atau revolusi berarti hanya basa-basi.

Para ulama kontemporer dan bukan ulama harakiyyun, banyak yang mendukung umat Islam yang berjuang meraih pemerintahan melalui proses evolusi, di antaranya Syaikh Utsaimin, Syaikh Bin Baz, Syaikh Albani, Syaikh Shaleh al-Fauzan dan lain-lain :

“Namun jika pemerintahan itu dibiarkan lalu kesempatan itu diberikan kepada orang-orang yang jauh dari cita-cita penerapan syari’at maka ini adalah sebuah kelalaian yang besar yang tidak seharusnya seseorang melakukannya.”

Syaikh Utsaimin

“dengan tidak ada keraguan bahwasanya WAJIB atas ummat Islam adanya wakil-wakil dan pemilih-pemilih yang memihak pada wakil-wakil yang berada di atas kebenaran (haq). Syaikh al-Bani

Untuk dukungan-dukungan selengkapnya dapat dilihat pada buletin AL-ISLAH no 101 dan 104.

Ada orang-orang Islam yang menentang keras jalan evolusi untuk dapat meraih pemerintahan dan mereka memandang hanya pendapatnya sendiri yang benar dan pendapat yang lain bathil tanpa sedikitpun mencoba memahami pendapat orang lain, dan merupakan sangat kebetulan orang-orang yang tidak berempati tersebut adalah orang-orang yang tidak pernah menempuh gerakan/perjuangan apapun untuk menegakkan syariat Islam, dari orang-orang tersebut ada yang berpendapat bahwa untuk dapat menegakkan syariat Islam harus dimulai dari diri sendiri dahulu lalu masyarakat lalu secara otomatis syariat Islam akan tegak dalam skala negara, pendapat ini menyebabkan mereka terbuai untuk tidak berbuat apa-apa, bahkan kelompok ini akhir-akhir ini nampak sangat kuat menghilangkan jihad qital di manapun di belahan dunia ini, sehingga dari kelompok ini tidak ada yang pernah berada di front perjuangan mengahadapi orang-orang kafir dan fasiq, bahkan muslim yang ada di Philipina sangat kecewa terhadap kelompok yang mengaku diri Salafy tersebut karena mereka tidak membantu sedikitpun baik moril, material apalagi tenaga.

Ada juga kelompok yang sangat keras menyalahkan dan mengharamkan perjuangan umat Islam melalui demokrasi dan sangat merasa benar sendiri, mereka adalah kelompok yang menyerukan jihad qital sebagai satu-satunya jalan untuk dapat meraih pemerintahan, tetapi seperti yang disebutkan di atas mereka adalah termasuk kelompok yang tidak melakukan gerakan/perjuangan apapun untuk meraih pemerintahan, seruan jihad qitalnya sampai saat ini hanya sebatas kerongkongan belaka seperti dasi yang menghiasi leher, tiada fungsi apapun kecuali untuk keindahan.

Dua kelompok tersebut di atas yang sangat keras dalam menyalahkan pendapat kelompok lain dan yang sangat merasa benar sendiri dalam beragama adalah kelompok-kelompok yang sangat kebetulan sampai saat ini sangat nyata belum pernah melakukan jihad qital. Terhadap kelompok-kelompok yang pendapatnya menyelisihi pendapat para pejuang/mujahid tersebut Imam Abdullah bin Mubarak dan Ahmad bin Hambal dan yang lainnya berkata : “Jika manusia berselisih di dalam sesuatu maka lihatlah (kem-balikan) kepada ahli syugur, karena kebenaran ada pada mereka”.Pendapat para Imam tersebut didasarkan pada firman Allah SWT :

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

QS. 29:69

Berdasarkan pendapat para imam tersebut, jika ada orang yang berselisih pendapat dengan orang-orang yang secara nyata telah berjuang di medan jihad sedang dirinya sendiri sama sekali belum pernah ke medan jihad maka pendapatnya harus ditinggalkan dan mengambil pendapat orang yang berjuang.

Bila direnungkan pendapat para imam tersebut, memang logis dan dapat dinalar, pasalnya orang-orang yang pernah ke medan jihad adalah orang-orang yang ikhlas dalam beragama dan zuhud terhadap dunia, sehingga ketika berpendapat, pendapatnya adalah semata-mata karena kecintaanya kepada Allah SWT.

Majalah “Al-Jihad” yang terbit pada bulan Maret 1986 edisi no. 53, menurunkan artikel berjudul Ja’al Haqq wa Zahaqal Bathil buah pena DR. Abdullah Azzam. Beliau menulis :

“Saya benar-benar yakin bahwa al-Qur’an tidak akan membuka rahasianya kepada seorang faqih yang qa’id (pasif/duduk berpangku tangan). Dan agama ini tidak akan dapat diselami kedalamannya serta dimengerti makna-maknanya oleh para penghafal matan (teks) dan hawasyi (footnote/catatan kaki) yang tidak bergerak dengannya, dan tidak hidup untuk menyokongnya. Saya kini lebih yakin lagi daripada sebelumnya tentang rahasia adanya kesepakatan tegas para fuqaha berkaitan dengan tidak adanya kewajiban baiat kepada seorang penguasa fasik dan disyaratkannya ilmu dan taqwa bagi siapapun yang mengurusi urusan kaum muslimin atau mengendalikan kepentingan-kepentingan mereka.”

Ikhwanul Mislimin, Hizbut Tahrir, Majelis Mujahidin Indonesia, Front Pembela Islam dan lain-lain adalah contoh-contoh organisasi yang orang-orangnya telah banyak yang pergi ke medan jihad sampai sekarang ini.

Ikhwanul Muslimin dengan Tandzimul Jihadnya, yaitu sebuah institusi jihad dalam struktur Ikhwanul Muslimin yang sangat rahasia, telah mengirimkan pasukannya ke Palestina guna menghadapi Israel yang telah memproklamirkan negara Israel di atas wilayah muslim, asy-Syahid Hasan al-Banna’ –semoga Allah merahmati-nya- bersama saudara seperjuangannya Taqiyuddin Nabhani –yang kemudian mendirikan Hizbut Tahrir- turut serta pergi ke medan jihad menghadapi Israel.

Ketika beliau kembali ke Mesir, beliau berpendapat “tidak masalah umat Islam menerima sistem demokrasi dan nasionalisme, yang penting kehidupan syariat Islam berjalan dalam suatu negara”, bila berpatokan kepada pendapat para Imam, maka bila ada orang yang tidak pernah berjihad lalu menyalahkan pendapat asy-Syahid Hasan al-Banna yang memaklumkan perjuangan melalui demokrasi, maka pendapat orang tersebut harus ditinggalkan dan semestinya mengikuti pendapat asy-Syahid Hasan al-Banna’.

Asy-Syahid DR. Abdullah Azzam memberikan pendapatnya tentang Ikhwanul Muslimin :

“Sesuatu yang ingin sekali aku jelaskan kepada publik adalah bahwa gerakan islam Ikhwanul Muslimin yang menjadi penggerak pertama, pemicu serta pembangkit jihad. Jama’ah inilah yang dengan izin Allah menjadi inti kepeloporan aktivitas penuh berkah ini.”

[Aayatur Rahmaan, cet. II, hal. 28].
http://abusalma.wordpress.com/2007/05/23/dr%E2%80%98abdullah-azzam-dan-para-penghafal-matan/

Beliau adalah salah satu da’i al-Ikhwan yang paling dekat dengan salafiyun dari segi akidah. Beliau pernah berguru kepada al-‘Allamah al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahu dan senantiasa menisbatkan diri sebagai muridnya. Namun beliau berselisih dengan al-Allamah al-Albani setelah al-Albani mentahdzir jama’ah Ikhwanul Muslimin. DR. Abdullah Azzam aktif mempropagandakan Jihad Afghanistan ke seluruh dunia. Beliau gugur dalam serangan bom yang dipasang di mobilnya setelah mengisi khutbah Jum’at beserta putera-puteranya. Semoga Allah menerima amalnya dan menjadikannya sebagai salah satu syuhada’ dan mengampuni semua kesalahankesalahan beliau. Beliau bergabung dengan Ikhwanul Muslimin di Palestina pada tahun 1967 setelah kepindahannya ke Yordania. Beliau adalah seorang mujahid yang diakui hampir seluruh umat Islam dunia, sampai kini belum pernah didapatkan beliau sampai akhir hayatnya pernah mempermasalahkan Ikhwanul Muslimin yang memaklumkan demokrasi, bila ada orang yang menyelisihi beliau tentang Ikhwanul Muslimin dan orang itu sama sekali tidak pernah berjihad, maka pendapatnya harus ditinggalkan dan kembali kepada sikap beliau sebagai ahli tsugur.

HAMAS, sebuah organisasi perlawanan yang begitu gigih melawan gempuran rudal-rudal Israel juga memaklumkan perjuangan melalui demokrasi dengan ikut sertanya HAMAS dalam pemilu di Palestina, maka jika ada orang yang tidak pernah berjihad menyelisihi sikap HAMAS, maka menurut pendapat para imam tersebut, pendapat orang tersebut harus ditinggalkan dan kembali kepada pendapat HAMAS yang dapat disebut sebagai ahli tsugur.

MMI dan FPI yang orang-orangnya banyak yang pergi ke wilayah-wilayah konflik seperti Palestina, Afghanistan, Libanon dan lain-lain untuk menghadapi kedzaliman orang-orang kafir juga memaklumkan demonstrasi, di mana demontrasi juga merupakan produk dari demokrasi, sehingga kalau ada orang yang menyelisihi sikap MMI dan FPI sementara orang tersebut tidak pernah berjihad, maka pendapat tersebut juga harus ditinggalkan dan kembali kepada pendapat MMI dan FPI yang memaklumkan demonstrasi, karena mereka dapat disebut ahli tsugur.

Hizbut Tahrir, yang didirikan oleh Taqiyuddin Nabhani, seseorang yang pernah pergi ke Palestina untuk berjihad, juga memaklumkan demokrasi yaitu mengikuti pemilu, bahkan di Libanon dan di Yordania, Hizbut Tahrir telah berpartai politik dan sangat diperhitungkan oleh lawan-lawannya, di Indonesia pada pemilu 2004 yang lalu telah mengikuti pemilu dan menghimbau pengikutnya untuk tidak golput bahkan terdengar kabar bahwa HTI akan membuat partai politik mengikuti jejak saudaranya Ikhwanul Muslimin yang telah terlebih dahulu membentuk partai politik. Jika kemudian ada orang yang tidak pernah berjuang menyelisihi sikap Hizbut Tahrir tersebut, maka menurut pendapat para imam tersebut, harus kembali kepada sikap Hizbut Tahrir yang dapat disebut sebagai ahli tsugur dan meninggalkan pendapat orang yang sama sekali tidak pernah pergi ke medan jihad yang oleh asy-Syahid DR. Abdullah Azzam disebut sebagi seorang faqih yang qa’id/duduk manis berpangku tangan.

Memang orang-orang yang tidak pernah turun ke medan jihad atau tidak pernah bergerak untuk menegakkan syariat/negara Islam tidak pernah mengetahui keadaan lapangan yang sesungguhnya dan apapun pendapatnya tidak punya resiko apapun karena memang tidak ada sesuatu yang dipertaruhkan.

Berbeda dengan orang yang berjihad/berjuang, misalnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, karena kepahaman beliau terhadap situasi lapangan, akhirnya beliau tidak semena-mena menolak seluruhnya hukum buatan manusia, selama hukum tersebut bisa dimanfaatkan untuk tetap menghidupkan lokomotif perjuangan dan tidak menyebabkan kesyirikan maka beliaupun memanfaatkannya, seperti gugatan beliau terhadap POLRI untuk membubarkan Densus 88 dan untuk membela diri beliau dalam persidangan yang mendzaliminya, kalau beliau tidak memanfaatkannya maka hidup/mati perjuangan beliau adalah taruhannya.

Padahal perjuangan untuk menegakkan negara/syariat Islam tidak boleh padam, selama dunia ini belum kiamat, perjuangan tersebut harus tetap dikobarkan, sehingga orang yang berjuang akan terus mencari jalan agar perjuangannya tidak berhenti, hingga akhirnya yang kita saksikan saat ini, HTI mau tidak mau harus mulai memikirkan untuk membentuk partai politik, MMI mau tidak mau harus memanfaatkan hukum-hukum positif yang tidak bertentangan dengan Islam dan tidak menyebabkan kesyirikan, Ikhwanul Muslimin mau tidak mau harus memanfaatkan demokrasi.

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dalam tausiyahnya di Masjid al-Jihad Kranggan ketika ditanya tentang HTI, beliau menjawab “selama HTI memperjuangan agama Allah maka HTI adalah hizbullah” dan ketika beliau di minta tausiyahnya oleh Sekertaris Majelis Syuro dari PBB beliau menyampaikan “Satu yang menjadi perhatian adalah bagaimana parpol Islam bisa menerjemahkan dengan tepat demokrasi. Jangan sampai demokrasi bernilai syirik,”

Detik.com 30/08/2005 18:48 WIB

Orang-orang yang terjunke lapangan, akan dengan sendirinya memanfaatkan celah-celah yang ada, sedang orang-orang yang berpangku tangan akan menutup semua celah yang ada dan akan cenderung mengharamkannya.

Wallahu a’lam.

■ Malang, 23 Desember 2007

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: