DEMOKRASI.TK


AL-ISLAH no 120
Desember 23, 2007, 7:21 am
Filed under: DEMOKRASI BUKAN BID'AH

DEMOKRASI

BUKAN BID’AH

 

 

Salah satu opini yang dihembuskan agar umat Islam menjauhi perjuangan melalui demokrasi adalah “Demokrasi itu Bid’ah”, opini ini memang langsung menghujam pada hal yang sangat pokok dan besar dalam agama Islam, yang mana dalam agama Islam, balasan bagi pelaku bid’ah adalah neraka.

Dalil yang sangat jelas tentang bid’ah adalah hadits berikut ini :

“Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah (al-Qur’an), dan se-baik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi Muhammad SAW, dan seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang baru, dan setiap yang baru adalah bid-’ah, dan setiap bid’ah di dalam neraka”

Opini “demokrasi itu bid’ah” memang efektif untuk menakut-nakuti umat Islam agar tidak berjuang melalui demokrasi, karena bagi umat Islam yang tidak kritis akan mudah terprovokasi oleh opini tersebut karena seakan-akan demokrasi merupakan hal yang baru dalam Islam.

Namun, benarkah perjuangan umat Islam melalui demokrasi merupakan sesuatu yang baru dan terlarang dalam Islam, benarkah segala sesuatu yang baru dapat disebut bid’ah ?

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang perlu di jelaskan jawabannya agar tidak menjadi fitnah dan keragu-raguan bagi umat Islam saat ini yang menghadapi musuh dari segala arah.

 

BARU TAPI BUKAN BID’AH

Teks hadits di atas -hal 1- memang menyebutkan “setiap yang baru adalah bid’ah”, dan dalam hadits tersebut tidak ditunjukkan adanya perkecualian, sehingga secara tekstual hadits tersebut tidak memberikan celah bagi sesuatu dalam urusan agama ini yang tidak pernah dicontohkan dan dititahkan oleh rasulullah saw.

Namun, banyak contoh dari para sahabat yang melakukan hal-hal yang baru dalam urusan agama dan ulama-ulama sesudahnya hingga saat ini, tidak seorang ulamapun yang berpendapat para sahabat telah melakukan bid’ah, seperti kisah yang diriwayatkan Zaid bin Thabit pada masa kekhalifahan Abu Bakr ra berikut :

Abu Bakr memanggil saya setelah terjadi peristiwa pertempuran al-Yamama yang menelan korban para sahabat sebagai shuhada. Kami melihat saat ‘Umar ibnul Khattab bersamanya. Abu Bakr mulai berkata :

”Umar baru saja tiba menyampaikan pendapat ini, ’Dalam pertempuran al-Yamama telah menelan korban begitu besar dari para penghafal Al-Qur’an (qurra’) dan kami khawatir hal yang serupa akan terjadi dalam peperangan lain. Sebagai akibat, kemungkinan sebagian Al-Qur’an akan musnah. Oleh karena itu kami berpendapat agar dikeluarkan perintah pengumpulan semua Al-Qur’an. ”Abu Bakr menambahkan,”Saya katakan pada ‘Umar, ’bagaimana mungkin kami melakukan satu tindakan yang Nabi Muhammad tidak pernah melakukan?’ ‘Umar menjawab, ’Ini merupakan upaya terpuji terlepas dari segalanya dan ia tidak berhenti menjawab sikap keberatan kami sehingga Allah memberi kedamaian untuk melaksanakan dan pada akhirnya kami memiliki pendapat serupa. Zaid! Anda seorang pemuda cerdik pandai dan anda sudah terbiasa menulis wahyu pada Nabi Muhammad dan kami tidak melihat satu kelemahan pada diri anda. Carilah semua Al-Quran agar dapat dirangkum seluruhnya. ”Demi Allah, jika sekiranya mereka minta kami memindahkan sebuah gunung raksasa, hal itu akan terasa lebih ringan dari apa yang mereka perintahkan pada saya sekarang. Kami bertanya pada mereka, ’Kenapa kalian berpendapat melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad?’ Abu Bakr dan ‘Umar bersikeras mengatakan bahwa hal itu boleh-boleh saja dan malah akan membawa kebaikan. Mereka tak henti-henti menenang-kan rasa keberatan yang ada hingga akhir-nya Allah menenangkan kami melakukan tugas itu, seperti Allah menenangkan hati Abu Bakr dan ‘Umar.

Setelah diberi keyakinan, Zaid dapat menerima tugas berat sebagai pengawas komisi, sedang ‘Umar, sahibul fikrah, bertindak sebagai pembantu khusus.

Al-Bukhari, Shahih, Jam’i al-Qur’an, hadits no 4986 lihat juga Ibn Abi Dawud, al-Masahif.

Khalifah ‘Umar ra pernah membuat penjara, Ali ra, pernah membakar orang-orang murtad, Utsman ra. pernah membakar mush’af agar tidak terjadi perbedaan susunan surat al-Qur’an di antara umat, perbuatan-perbuatan para sahabat tersebut adalah perbuatan-perbuatan dalam urusan agama yang tidak pernah dititahkan dan dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW.

Bila melihat tekstual hadits tersebut, maka apa yang dilakukan para sahabat merupakan sebuah kesalahan dan bid’ah, namun, seperti yang diyakini oleh umat Islam, tidak mungkin para sahabat melanggar larangan rasulullah saw karena mereka ra adalah orang-orang yang paling bertaqwa dan telah dijamin masuk sorga, dan tidak mungkin pula mereka salah dalam memahami maksud hadits tersebut, karena mereka adalah orang-orang yang digembleng seca-ra langsung oleh rasulullah saw dan selalu bersama-sama dengan beliau dalam suka dan duka..

Perbuatan-perbuatan para sahabat tersebut yang tidak sama dengan tektual hadits justru sebagai dasar untuk memahami makna hadits tersebut secara benar, dan perbuatan-perbuatan para sahabat tersebut menunjukkan bahwa hadits tersebut mempunyai makna kontekstual.

Perbuatan-perbuatan para sahabat tersebut memberikan makna bahwa frase “setiap yang baru” dalam hadits tersebut tidak berarti segala sesuatu tanpa kecuali, melainkan segala sesuatu yang baru yang khusus dan terdefinitif, dalam hal ini para ulama dan ahli fiqih sepakat bahwa segala sesuatu yang baru dalam urusan agama yang dapat disebut bid’ah adalah yang ungan dengan ibadah mahdoh seperti sholat, puasa, cara berdoa, haji, zakat dan lain-lain, bila ada orang menciptakan sholat di luar sholat-sholat yang telah diajarkan maka sholat tersebut adalah bidah, seperti sholat dalam dua bahasa.

Semua perbuatan para sahabat yang tidak pernah dicontohkan oleh rasulullah
saw tersebut adalah perbuatan-perbuatan yang berhubungan dengan politik dan muamalah atau perbuatan-perbuatan untuk kemaslahatan manusia dan urusan manusia yang dapat disebut sebagai ibadah ghoiru mahdoh. Untuk perbuatan-per-buatan semacam itu tidak perlu ada contoh dari rasulullah saw, dan sebagai acuan boleh tidaknya perbuatan tersebut adalah ada tidaknya larangan untuk melakukannya.

Jadi bila ada orang saat ini yang pukul rata menghukumi bid’ah terhadap segala sesuatu yang baru tanpa kecuali maka dengan sangat meyakinkan pen-dapat tersebut adalah bertentangan dengan para sahabat dan layak untuk ditinggalkan.

 

DEMOKRASI BUKAN BID’AH

Ada dua kategori yang menjadikan demokrasi bukan bid’ah yaitu, pertama, nilai-nilai yang ada dalam demokrasi yang sekarang ini bukan merupakan hal baru dalam Islam, karena rasulullah saw, para sahabat sudah pernah mencontohkannya, seperti pemimpin haruslah yang disepakati rakyat melalui perwakilan dan bukan pemimpin yang diktatoris, berunding dengan pihak manapun dari agama apapun untuk mencapai kedamaian bersama seperti musyawarah yang akhirnya menghasilkan piagam madinah dan perjanjian hudaibiyah, rakyat boleh memprotes pemimpin yang salah dan lain-lain.

Seperti itu juga praktek demokrasi yang ada sekarang ini, misalnya, tentang kepemimpinan, pemimpin haruslah yang disepakati oleh rakyat, begitu juga bila pemimpin berbuat salah dan dzalim, rakyat diakomodasi untuk menasehatinya dan memprotesnya.

Kedua, perjuangan melalui demokarsi dapat dikatakan bukan bid’ah adalah karena demokrasi bukan ibadah mahdoh, jadi sama sekali tidak ada kaitannya dengan bid’ah ataupun tidak. Boleh tidaknya perjuangan melalui demokrasi bukan atas ada tidaknya contoh tetapi ada tidaknya larangan untuk melakukannya.

Ibnu Qoyyim pernah menyinggung tentang perjuangan politik semacam demokrasi tersebut dalam kitabnya Al-A’lamul Muwaqqi’in :

“Berkata Ibnu Aqil : “Politik ialah adanya langkah-langkah perbuatan yang manusia dapat berada lebih dekat kepada kebaikan, dan lebih menjauhkan dari kerusakan, walaupun tidak terdapat syariat dari rasulullah saw dan juga tidak ada informasi wahyu”

Lalu Ibnu Qoyyim menyampaikan lagi :

Bila yang dimaksudkan Ibnu Aqil “Tidak ada politik kecuali yang cocok dengan syara” yaitu tidak menyalahi apa yang dinyatakan oleh syara’ maka ini adalah benar, tetapi jika yang dimaksudkan Ibnu Aqil harus sesuai dengan yang disebutkan oleh syara’ saja, maka ini suatu kesalahan, juga dapat menyalahkan para sahabat”

Seperti itulah perjuangan umat Islam melalui demokrasi, pertimbangannya adalah kadar kemaslahatan yang akan dicapai dan kadar kemudharatan yang akan dihindari, yang mana tindakan yang akan diambil dan dipilih sangat dipengaruhi oleh politik yang melingkupinya.

Seperti keputusan Abubakar ra ketika memerintahkan untuk mengumpulkan tulisan-tulisan al-Qur’an, ‘Umar ra ketika membuat penjara, Utsman ketika membakar mushaf dan ‘Ali ra ketika tidak melakukan hukum qishas atas pembunuh Utsman ra dan ketika membakar orang-orang murtad, yang mana semua tindakan itu sangat bergantung dari keadaan dan politik yang ada pada saat itu dan tidak pernah dicontohkan rasulullah saw dan tindakan-tindakan tersebut diambil atas dasar kadar kebaikan yang akan di-capai dan kadar kemudharatan yang akan dihindari.

Keputusan para pemimpin umat saat ini untuk berjuang melalui demokrasi merupakan keputusan yang paling mungkin dan paling tepat serta tidak menyalahi syara. Dan kini umat Islam dapat melihat hasilnya yang gemilang dan sampai saat ini para pembid’ah demokrasi belum menunjukkan realisasi apapun dari agamanya.

Wallahu a’lam.

Malang, 23 Desember 2007

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: