DEMOKRASI.TK


AL-ISLAH no 122
Desember 23, 2007, 7:40 am
Filed under: DEMOKRASI TIDAK TASYABBUH

DEMOKRASI

TIDAK TASYABBUH

 

 

Menyerupai orang-orang kafir, golongan orang-orang kafir, pengikut orang-orang kafir atau pengikut millah orang kafir, itulah tuduhan dan hujatan yang di arahkan kepada orang-orang yang berjuang melalui demokrasi, tujuannya jelas, agar perjuangan umat Islam di parlemen menjadi lemah dan bahkan kalau bisa parlemen kosong sama sekali oleh umat Islam yang memperjuangkan Islam dan diisi/dikuasai oleh orang-orang kafir dan Islam sekular.

Pada mulanya, umat Islam digiring kepada satu pemahaman bahwa menyerupai orang-orang kafir berarti telah menjadi golongan orang-orang kafir, salah satu hadits yang digunakan sebagai dalil untuk pemahaman ini adalah :

“Dari Ibn Umar ra berkata : Bersabda Rasulullah s.a.w : Barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia telah menjadi golongan mereka”

HR. Ahmad,Abu Daud dan at Tabrani.

Setelah umat Islam ini berhasil diberi pemahaman tersebut, maka fase berikutnya adalah penggiringan kepada pemahaman bahwa demokrasi itu berasal dari Barat atau orang-orang Kafir, fase berikutnya lagi, akan digiring ke pemahaman bahwa mengikuti demokrasi berarti telah mengikuti cara-cara orang Barat/Kafir, lalu pada fase yang lebih jauh lagi, umat Islam akan digiring ke pemahaman bahwa mengikuti cara Barat/Kafir berarti telah menyerupai orang-orang Barat/kafir, selanjutnya sebagai fase terakhir umat Islam akan digiring untuk menyimpulkan bahwa berjuang melalui demokrasi berarti telah menjadi satu golongan dengan orang-orang Barat/Kafir.

Penggiringan pemahaman semacam itu, sangat ampuh untuk mengelabui dan menyesatkan pemahaman umat Islam atau jamaah yang hanya duduk-duduk di majlis ta’lim yang jauh dari kepedulian akan permasalahan Islam dan umat Islam, hal itu bisa terjadi, karena orang yang hanya fokus pada kajian ilmu namun kosong dalam pengamalan, akan tidak menyadari bahwa retorika-retorika yang mereka dengarkan dari ustadz mereka dengan seksama sebenarnya telah menyimpang jauh dari maksud dalil dan sangat jauh dari kenyataan yang sebenarnya.

Namun, bagi aktivis yang fokus terhadap ilmu dan permasalahan Islam dan umat Islam, tentu akan mudah menge-tahui, retorika semacam itu hanyalah retorika yang lahir dari orang-orang yang gemar duduk-duduk dalam majelis ta’lim dan tidak mau turun lapang-an untuk kepentingan Islam dan umat Islam atau sebagai retorika yang lahir dari orang-orang yang tidak memahami kontekstual dalil atau sebagai retorika yang JAUH PANGGANG DARI API, antara maksud dalil dengan obyek yang dikenai dalil sama sekali tidak bersentuhan atau sebagai retorika KOSONG.

 

MENINJAU DALIL

“Dari Ibn Umar ra berkata : Bersabda Rasulullah s.a.w : Barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia telah menjadi golongan mereka”

HR. Ahmad,Abu Daud dan at Tabrani.

 

Ketika Islam mulai berkembang di Madinah, banyak orang-orang Yahudi (ahlul kitab) yang telah masuk ke dalam agama Islam. Rasulullah SAW ingin mengetahui jumlah umat Islam pada saat itu, oleh karenanya harus dapat dibedakan antara orang-orang Yahudi yang sudah masuk Islam dan orang-orang Yahudi yang tidak masuk Islam, hal itu sangat penting bagi syiar Islam dan untuk mengetahui kekuatan Islam juga untuk menghindari penyusupan musuh-musuh Islam ke dalam tubuh Islam, untuk mencapai tujuan ini Rasulullah SAW memerintahkan untuk membedakan diri dengan orang-orang Yahudi, pada saat itu yang paling menunjukkan ciri khas Yahudi dan Nasrani adalah mencukur jenggot dan memanjangkan kumis, maka untuk membedakan diri dengan mereka Rasulullah SAW memerintahkan agar umat Islam memanjangkan jenggot dan menipiskan kumis.

Imam Ahmad [Lihat Al-Musnad II/366] meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : ”Panjangkanlah jenggot dan potonglah kumis. Janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi dan Nasrani”.

Perintah Rasulullah SAW pada hadits kedua tersebut, nampaknya sebagai penjelas bahwa hadits yang pertama di atas larangan penyerupaannya adalah dalam hal jenggot dan kumis dan tidak dimaksudkan untuk hal-hal yang lainnya, sunnah Rasulullah SAW dan para sahabat memperkuat bahwa tidak semua perbuatan harus diselisihi :

1. Bekam, adalah pengobatan yang telah dilakukan oleh orang-orang jahiliyah, namun Rasulullah SAW dan para sahabat melakukannya, bila hadits yang pertama mempunyai makna yang umum, maka semestinya Rasulullah SAW dan para sahabat tidak melakukannya.


2. Perang, adalah sesuatu yang biasa dilakukan oleh orang-orang kafir dan jahiliyah sebelum Rasulullah saw lahir.


3. Membuat parit untuk strategi perang oleh Rasulullah SAW atas saran sahabatnya, ide ini bukanlah dari Islam tetapi dari orang-orang Persia yang tentu orang-orang kafir.


4. Bentuk kerajaan untuk sebuah pemerintahan seperti pada masa setelah Muawiyyah, bentuk kerajaan, asal muasalnya bukanlah dari Islam tetapi berasal dari bangsa-bangsa kafir sebelum masa Rasulullah SAW bahkan hingga pada zaman kita sekarang ini tetap dipertahankan oleh bangsa kafir seperti Inggris, Perancis dan lain sebagainya, tidak seorang ulamapun memerintahkan untuk menyelisihi bentuk negara kerajaan.


5. Pembuatan penjara pada masa Umar ra, di mana penjara telah biasa dibuat oleh pemerintahan kafir di negeri-negeri di luar wilayah Islam, dan masih banyak contoh perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah dan kafir namun tidak diselisihi oleh umat Islam baik pada masa Rasulullah SAW maupun pada masa kekhalifahan.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa kalimat “Barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia telah menjadi golongan mereka” dalam hadits pertama di atas tidak memiliki arti secara umum atau global, nampaknya hanya perbuatan-perbuatan tertentu saja yang harus diselisihi, dan setiap perbuatan yang harus diselisihi Allah SWT dan RasulNya SAW akan menunjukkan perbuatan mana yang harus diselisihi dan akan menjelaskan pula alasan dan tujuan dari penyelisihan tersebut, Allah SWT dan Rasulnya tidak hantam kromo, yang baik dari orang-orang kafir dan menguntungkan Islam dan umat Islam maka akan dipakai selama hal itu menyangkut urusan antar manusia, sebaliknya bila akan merugikan Islam dan umat Islam dan menguntungkan musuh-musuh Islam maka Allah dan Rasulnya akan memerintahkan untuk menyelisihinya, berikut salah satu contoh ayat al-Qur’an tentang hal tersebut :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (Muhammad):”Raa’ina”, tetapi katakanlah:”Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir sik-saan yang pedih.

QS. 2:104

Ayat tersebut adalah larangan bagi umat Islam untuk menyerupai orang-orang Musyrik dan Yahudi yang biasa mengatakan Raa’inah (perhatikan dan dengarkan Muhammad), walaupun kata-kata itu bagus yaitu dapat berarti untuk memperhatikan dan mendengarkan Rasulullah SAW, namun kata-kata seperti itu biasa mereka lakukan dengan tujuan mengejek dan menyepelekan perkataan dan dakwah Rasulullah SAW, maka Allah SWT memerintahkan agar umat Islam tidak ikut-ikutan mengatakan kata-kata tersebut yang dapat berarti mengejek dan menyepelekan Rasulullah SAW dan sebagai gan-tinya Allah SWT memerintahkan untuk mengatakan “Unzhurna”.

Nampak jelas, bentuk perbuatan yang harus diselisihi maupun alasan dan tujuan menyelisihinya, dan nampak jelas manfaat bila menyelisihinya.

 

Demokrasi Tidak Tasyabbuh

Orang-orang yang menghukumi perjuangan melalui demokrasi sebagai tasyabbuh – menyerupai orang-orang Barat/Kafir- hanya karena demokrasi berasal dari orang-orang Barat/Kafir sangat nyata menunjukkan bahwa mereka hanya menginginkan yang penting DEMOKRASI HARAM. Kita akan buktikan sikap mereka tersebut.

Menurut mereka, berjuang melalui Demokrasi sebagai tasyabbuh karena menurut mereka demokrasi berasal dari orang-orang kafir. Baiklah kita akan terima anggapan mereka tersebut untuk penyederhanaan.

Sekarang mari kita lihat beberapa contoh yang berasal dari orang-orang kafir :

1. Membayar pajak tahunan kendaraan, ini berasal dari ajaran Yahudi dan Nasrani yang terdapat dalam kitab mereka.

2. Sistem pendidikan berjenjang, SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi, sis-tem pendidikan ini lahir bukan dari Is-lam tetapi dari orang-orang kafir.

3. Libur sekolah atau kerja pada hari Sab-tu atau Minggu merupakan hari libur yang berasal dari Yahudi dan Nasrani, Sabtu sebagai hari suci Yahudi dan Minggu sebagai hari suci Nasrani dan semua itu berasal dari kitab mereka.

4. Penggunaan uang kertas atau logam sebagai alat pembayaran, alat pembayaran ini berasal dari orang-orang kafir dan bukan dari Islam, sedang Rasulullah dan para sahabat menggunakan logam emas atau perak sebagai alat pembayaran.

5. Gelar pendidikan seperti LC, MA, S Ag, Dr, dan lain-lain merupakan gelar-gelar yang mengikuti aturan orang-orang Barat/Kafir.

6. Membayar pajak 10% untuk setiap barang atau jasa seperti pajak tagihan telepon, beli pulsa, beli barang-barang tertentu dan lain-lain, semua itu bersumber dari kitab Yahudi dan Nasrani.

Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang berasal dari Barat/Kafir yang bersumber dari kitab Yahudi atau Nasrani –Bible-.

Namun sampai detik ini, tidak sekalipun keluar dari mulut mereka bahwa hal-hal tersebut hukumnya haram atau sebagai tasyabbuh bila diikuti/dilakukan oleh umat Islam, padahal kalau mereka menilai demokrasi sebagai tasyabbuh bila diikuti, maka contoh-contoh tersebut akan jauh lebih nyata tasyabbuhnya bila diikuti, karena sumbernya sangat nyata dan jelas dari Bible, tapi mereka hanya lantang mentasyabbuhkan demokrasi.

Ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan bungkamnya mereka terhadap hal-hal yang berasal dari Barat/Kafir tersebut :

1. Mereka hanya ingin mengharamkan demokrasi.

2. Mereka telah menikmati hal-hal yang berasal dari Barat/Kafir tersebut, misalnya anak-anak mereka bersekolah di sekolah-sekolah yang mengadopsi dari sistem Barat/Kafir, mereka bekerja karena ijazahnya di dapat dari pendidikan sistem kafir, mereka mempunyai mobil jadi tidak peduli mem-bayar pajak mobil yang mengikuti sistem kafir, mereka libur kerjanya hari Sabtu atau Minggu.

3. Mereka tidak memahami konteks dari dalil-dalil agama yang mereka kutip –tekstualisme-.

4. Mereka telah diperalat oleh Yahudi/Nasrani.

Melihat ketidak konsistenan mereka dalam menghukumi tasyabbuh hal-hal yang berasal dari Barat/Kafir, maka, merupakan sebuah kebodohan bila mengikuti pendapat yang mengatakan ikut demokrasi adalah tasyabbuh kepada orng-orang kafir.

Wallahu a’lam.

■ Malang, 23 Desember 2007

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: