DEMOKRASI.TK


AL-ISLAH no 110
Desember 22, 2007, 11:03 am
Filed under: ANA SALAFY

Ana Salafy

 

 

Atmosfir umat Islam dalam dekade terakhir ini, diwarnai oleh penggunaan kata Salafy atau Salafiyah oleh sebuah kelompok yang dilatar belakangi keinginan untuk meluruskan penyimpangan-penyimpangan umat Islam dalam beragama yang sudah jauh dari tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah, menurut mereka perlu menamakan diri sebagai Salafy atau Salafiyah guna memurnikan ajaran agama:

Di saat sekarang ini ketika sekian banyak penyimpangan pemahaman bertebaran di udara kaum muslimin maka sangat dibutuhkan adanya rambu-rambu yang jelas demi mengembalikan pemahaman Islam kepada pemahaman yang masih murni dan lurus. Apalagi mayoritas kelompok yang menyerukan pemahaman yang menyimpang itu juga mengaku sebagai pengikut Al Qur’an dan As Sunnah. Berdasarkan realita inilah para ulama bangkit untuk berupaya memisahkan pemahaman yang masih murni ini dengan pemahaman-pemahaman lainnya dengan nama pemahaman ahli hadits dan salaf atau salafiyah (lihat Limadza, hal. 36).

http://Muslim.or.id/2007/01/20/mari-mengenal-manhaj-salaf/

Merupakan sesuatu yang baik dan perlu bila penamaan Salafy hanya dimaksudkan untuk memberikan label/nama sebuah kelompok pergerakan seperti penamaan NU, JT, IM, HTI, FPI, MMI, PERSIS, Al-Irsyad, Muhammadiyah dan lain-lain. Namun kenyataan yang ada, penamaan Salafy dimaksudkan untuk memberikan gelar kepada orang-orang yang dalam beragama telah mengikuti jalan para salafus-sholeh yaitu sahabat nabi saw, tabi’in dan atba’ al-tabi’in dalam seluruh sisi ajaran dan pemahaman mereka, kutipan berikut membuktikan bahwa penamaan Salafy dimaksudkan untuk memberikan gelar kepada orang-orang yang mengikuti para salafus sholeh :

Syaikh Doktor Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql mengatakan, “Salaf adalah generasi awal umat ini, yaitu para sahabat, tabi’in dan para imam pembawa petunjuk pada tiga kurun yang menda-patkan keutamaan. Dan setiap orang yang meneladani dan berjalan di atas manhaj mereka di sepanjang masa disebut sebagai salafi sebagai bentuk penisbatan terhadap mereka.”

(Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah fil ‘Aqidah, hal. 5-6).
http://Muslim.or.id/2007/01/20/mari-mengenal-manhaj-salaf/

 

Sepintas tidak akan nampak adanya perbedaan antara penamaan Salafy untuk memberikan label kepada kelompok pergerakan dengan penamaan Salafy yang dimaksudkan untuk memberikan gelar kepada orang yang dalam beragama telah mengikuti para salafus-sholeh. Namun dari efek yang dihasilkan, akan terlihat perbedaan yang sangat signifikan antara kedua jenis penamaan Salafy tersebut.

Penamaan Kelompok Pergerakan

Bila seseorang menyebut dirinya “Ana Salafy” hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya anggota sebuah kelompok yang bernama Salafy maka pengakuan ini kurang lebih sama dengan pengakuan seseorang ketika menyebut dirinya ana NU, JT, IM, HTI, FPI, MMI, PERSIS, Al-Irsyad, Muhammadiyah dan lain-lain yang semua dimaksudkan untuk menunjukkan anggota dari sebuah kelompok pergerakan yang bergerak sesuai bidang masing-masing.

Biasanya orang-orang yang berasal dari kelompok-kelompok pergerakan dapat dengan mudah berbaur menjadi satu dalam kehidupan bermasyarakat dan bergerak dalam satu wadah baru untuk mencapai tujuan tertentu, misalnya, di Pondok Damai ada sebuah lembaga untuk menyantuni anak yatim-piatu dan orang-orang miskin yang ada di Pondok Damai dan sekitarnya, di dalam kepengurusan lembaga ini ternyata tidak hanya terdiri dari orang-orang yang berasal dari satu kelompok pergerakan namun di dalamnya orang-orangnya berasal dari anggota kelompok-kelompok pergerakan yang berbeda-beda, ada yang dari orang NU, IM, Muhammdiyah dan ada pula yang tidak berasal dari kelompok manapun.

Hal itu dapat terjadi karena kelompok-kelompok pergerakan tersebut bukanlah madzhab agama dan mereka dapat menyadari, bahwa orang-orang yang di NU, JT, IM, HTI, FPI, MMI, PERSIS, Al-Irsyad, Muhammadiyah dan lain-lain semuanya berkesempatan sama untuk dapat masuk sorga.

Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara..

QS. 49:10

Selama orang itu sudah mengaku Islam, sholat dan membayar zakat, maka wajib bagi umat Islam manapun untuk memperlakukannya sebagai saudara saudara seagama.

Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama…..

QS. 9:11

Merupakan keadaan yang memberi ketenangan dan kebahagiaan bagi umat Islam bila orang-orang NU menganggap bahwa ahlus sunnah waljamaah bukanlah orang-orang NU saja, tetapi orang-orang lain yang di luar NU juga ahlus sunnah waljamaah selama mereka mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah, begitu juga sebaliknya, bila kelompok-kelompok pergerakan yang lainnya tidak mengklaim diri orang-orang yang berada pada kelompoknyalah yang ahlus sunnah waljamaah dan mempunyai penilaian orang-orang lain yang berada pada kelompok pergerakan yang lainnya juga ahlus sunnah waljamaah selama mereka mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah. Sehingga tidak heran ada santri NU yang menggugat tahlilan dan banyak orang NU yang kalau sholat Subuh tidak mau menggunakan qunut, begitu juga pada orang-orang Muhammadiyah, ada juga yang kalau menentukan 1 ramadhan dan 1 syawal mengikuti yang menggunakan hilal.

Jadi, bila penamaan Salafy dimaksudkan untuk memberi nama sebuah kelompok pergerakan yang berusaha meluruskan penyimpangan-penyimpangan umat Islam dari al-Qur’an dan as-Sunnah, maka tidak mustahil suatu ketika orang-orang yang berasal dari kelompok Salafy suatu ketika dapat berbaur dan berjuang bersama-sama dengan kelompok-kelompok pergerakan yang lainnya, karena harus diingat, urusan umat Islam di dunia ini sangat besar dan luas dan Allah SWT telah mendeklarasikannya di hadapan para Malaikat-Nya :

Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat:

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. ……..

QS. 2:30

Tugas tersebut harus di emban secara bersamasama sesuai bidang keahliannya, ada yang fokus ke dakwah, pendidikan, menyantuni anak yatim, perekonomian, pemerintahan dll.

Penamaan Sebagai Gelar

Bila seseorang menyebut dirinya “Ana Salafy” dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah seseorang yang telah mengikuti jalan para salafus-sholeh maka penyebutan tersebut sama seperti penyebutan diri ana LDDI, Syiah, Ahlus Sunnah Waljamaah, Jama’atul Muslimin, Ahmadiyah dan lain-lain, di mana penyebutan tersebut unutk menunjukkan madzhab aqidah dalam beragama.

Karena merupakan madzhab aqidah maka antara madzhab yang satu tidak bisa membenarkan madzhab yang lainnya, LDII misalnya, mengklaim diri dialah yang benar dalam beragama dan orang Islam lain sesat bahkan kafir walaupun orang lain tesebut sholat, membayar zakat, percaya hari akhir, dan lain sebagainya, beberapa kasus menunjukkan hal tersebut, misalnya, orang-orang LDII menilai tidak sah sebuah pernikahan apabila wali perempuan adalah orang tuanya sendiri yang bukan LDDI.

Penyebutan diri “Ana Salafy” mempunyai konsep yang dapat menggiringnya kepada klaim diri kelompok yang paling benar dan yang lainnya sesat seperti kasus LDII, hal itu karena beberapa keadaan berikut :

Menurut mereka penamaan “Salafy” adalah penisbahan kepada para salafus sholeh :

Syaikh Salim Al Hilaly hafizhahullah menerangkan, “Adapun secara terminologi kata Salafy berarti sebuah karakter yang melekat secara mutlak pada diri para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Adapun para ulama sesudah mereka juga tercakup dalam istilah ini karena sikap dan cara beragama mereka yang meneladani para sahabat.” (Limadza, hal. 30).

http://Muslim.or.id/2007/01/20/mari-mengenal-manhaj-Salaf/

Jadi, menurut mereka, para ulama secara khusus dan orang Islam secara umum yang mengikuti para salafus sholeh dapat disebut sebagai Salafy atau diberi gelar Salafy. Sampai titik ini, konsep tersebut tidak ada masalah, bila dalam prakteknya setiap orang yang mengikuti para salafus-sholeh disebut Salafy tanpa terkecuali, namun pada konsep selanjutnya penyebutan diri sebagai “Salafy” dapat berpotensi melahirkan masalah yang cukup serius :

Di saat sekarang ini ketika sekian banyak penyimpangan pemahaman bertebaran di udara kaum muslimin maka sangat dibutuhkan adanya rambu-rambu yang jelas demi mengembalikan pemahaman Islam kepada pemahaman yang masih murni dan lurus. Apalagi mayoritas kelompok yang menyerukan pemahaman yang menyimpang itu juga mengaku sebagai pengikut Al Qur’an dan As-Sunnah. Berdasarkan realita inilah para ulama bangkit untuk berupaya memisahkan pemahaman yang masih murni ini dengan pemahaman-pemahaman lainnya dengan nama pemahaman ahli hadits dan Salafy atau salafiyah (lihat Limadza, hal. 36).

http://Muslim.or.id/2007/01/20/mari-mengenal-manhaj-salaf/

Kalimat yang bergaris bawah menunjukkan sebuah konsep bahwa gelar Salafy yang digunakan oleh orang-orang saat ini hanya dimaksudkan untuk memberi gelar kepada orangorang yang beragama secara murni, artinya orang-orang yang telah mencampur adukkan agama dengan yang lainnya –aqidah dengan kesyi-rikan dan ibadah dengan tahayul, bid’ah dan khurafat- tidak dapat diberi gelar Salafy, dan permasalahannya semakin nyata ketika gelar “Salafy” hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu yaitu kelompok yang manamakan diri Salafy.

Hal tersebut dapat berimplikasi yang sangat serius, yaitu ketika orang-orang yang sholeh dan murni dalam beragama tetapi tidak masuk ke dalam kelompok Salafy maka orang tersebut tidak dapat gelar Salafy, hal ini adalah kenyataan yang ada sekarang ini, bahwa gelar-gelar Salafy hanya diberikan kepada orang-orang yang berada dalam kelompok Salafy.

Implikasi selanjutnya, karena Salafy berarti orang-orang yang mengikuti para Salafus sholeh dan gelar Salafy hanya diberikan kepada orang-orang yang berada dalam kelompok Salafy, maka orang-orang yang tidak mengaku diri sebagai Salafy atau tidak menyebut diri “Ana Salafy” dapat berarti orang tersebut orang yang tidak mengikuti para salafus-sholeh.

Penyebutan diri “Ana Salafy” di tengah-tengah umat Islam yang lainnya yang tidak menyebut diri “Ana Salafy” seakan-akan mengandung arti hanya orang tersebut yang mengikuti para salafus sholeh dan orang lain yang tidak, artinya lagi dirinya saja yang benar dan murni dalam beragama dan orang lain tidak.

Syaikh Al-Bani Perihal Istilah Salaf

Sebuah kitab yang ditulis oleh salah seorang murid Syaikh Al-Bani menunjukkan bahwa penggunaan istilah Salafy oleh kelompok tertentu sekarang ini telah memberikan kerusakan yang sangat buruk terhadap istilah Salaf, berikut sebagian kutipannya :

Telah terjadi pengrusakan yang sangat buruk perihal kata “SALAF” dengan adanya penggunaan gelar kata tersebut oleh beberapa kelompok dengan merasa dia bagian dari mereka, bahwa kata itu akan mengangkat tinggi keadaan mereka dan akan membuat mereka mencapai kepada generasi pendahulu yang pertama.

Sedangkan mereka tidak berkeadaan (tidak sesuai) dengan arti nama tersebut, dan juga mereka tidak menjaga dari tindakan yang menyalahi maksudnya, dan lebih memperburuk kata tersebut ketika kata “Al-Atsari” mengikutinya, yang mana Syaikh Nasiruddin Al-Bani Rahimahullah mengatakan :
“Sesungguhnya kalau orang yang memakai gelar dirinya itu mengetahui betapa beratnya penggunaan tersebut, niscaya mereka akan menolaknya”

Sebenarnya Syaikh Rahimahullah telah memperingatkan penggunaan gelar “SALAF” untuk tidak sampai menjadi fitnah kebanggaan, pengrusakan dan penipuan, yang seperti itu menurut dugaanku merupakan fitnah dari menggunakan atribut dengan kata “Al-Atsari” karena akan banyak bergelar kepada kata tersebut.

Khaqiqatul Iimaani ‘Inda al-Syaikh Al-Bani oleh
DR. Muhammad Abu Ruhaim dan dihantar oleh
Asy-Syaikh Muhammad Ibrahim Syarqrah, diterbitkan di Amman, Jordan.

Penyebutan diri “Ana Salafy” mulai menunjukkan ekslusifisme, saran dan nasehat dari umat Islam lainnya sulit untuk diterima, penyebutan tersebut juga telah menunjukkan hasil dari cita-citanya, yaitu membedakan diri dari umat Islam lainnya yang dinilai tidak murni pemahaman agamanya.

■ Malang, 22 Desember 2007

Iklan