DEMOKRASI.TK


AL-ISLAH no 106
Desember 21, 2007, 11:57 am
Filed under: Kerancuan SALAFY YAMANI

KERANCUAN

Salafy Yamani

 

Akhir-akhir ini, ada sebuah kelompok dari umat Islam yang mempunyai empat kaidah yang rancu antara satu dengan yang lainnya :

Kaidah pertama, pemilu dan demokrasi adalah sistem yang haram dan haram pula bagi umat Islam untuk memasukinya.

Kaidah kedua, wajib hukumnya mentaati dan menjaga kewibawaan presiden dan pemerintah termasuk Indonesia.

Kaidah ketiga, presiden dan pemerintahan termasuk Indonesia yang dihasilkan dari pemilu dan demokrasi adalah sah menurut agama.

Kaidah keempat, dalam menasehati presiden atau pemerintah harus ketika dalam keadaan sendirian, secara empat mata dan khalayak ramai tidak boleh mengetahui agar terjaga kewibawaan presiden dan pemerintah.

Dari keempat kaidah tersebut, kelompok ini mengambil sebuah sikap yaitu mewajibkan pengikut-pengikutnya untuk mentaati presiden dan pemerintah –dalam hal kebaikan dan bukan hal kemaksiatan- walaupun presiden dan pemerintah tersebut dihasilkan dari cara yang menurutnya haram seperti pemilu dan demokrasi, dan melarang pengikut-pengikutnya untuk memilih presiden dan pemerintah, dalam waktu yang bersamaan, kelompok ini memberi label-label negatif bahkan menilai sesat saudara-saudara muslim yang telah bersusah payah memilih presiden dan pemerintahan.

Ibarat ayam panggang, disalahkannya orang yang menyajikannya yang katanya cara memperolehnya tidak halal, mungkin menurut mereka ayamnya hasil curian atau cara menyembelihnya yang tidak benar, tetapi dalam waktu yang bersamaan mereka menilai halal ayam panggang yang tersaji untuk mereka, “mari makan jangan sampai mubazir, walau daging ayam ini telah diperoleh oleh yang menyajikan dengan cara yang haram, tapi halal kita makan, karena bukan kita yang melakukan”.

Sulit untuk mengatakan tidak rancu terhadap kelompok yang mengharamkan pemilu dan demokrasi tetapi tidak mengharamkan presiden dan pemerintah yang dihasilkan dari pemilu dan demokrasi. Terlebih lagi kelompok ini menyatakan sah presiden dan pemerintahan yang dihasilkan dari cara yang menurutnya haram, sehingga mereka mewajibkan pengikutnya unuk mentaati presiden dan pemerintah.

Mari kita cermati ungkapan sikap mereka yang saya kutip dari salah satu situs mereka :

SBY -hafidzhahulloh-

Semoga Alloh menjaga SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) dalam memimpin negeri ini, negeri yang penduduknya gemar menghujat pemimpinnya sendiri dijalanjalan, koran-koran dan majalah tak terkecuali internet, negeri yang memiliki seabrek orang-orang pintar ‘ngoceh’ dan tokoh agama ‘jahat’ yang gampang memprovokasi ummat untuk ‘memberontak’ kepada SBY sembari mengutip ayat-ayat yang mereka sendiri tidak faham akan kalimatnya…. http://smd.antibidah.net/?p=314

Tulisan tersebut sangat kuat dapat ditafsirkan bahwa mereka mengakui, merasa memiliki dan membela SBY sebagai presiden yang sah, dan menilai jahat orang-orang yang mengkritik presiden dan kebijakannya, kalau boleh berkomentar, sikap semacam itu sebenarnya hanya pantas bila dilakukan oleh orang-orang yang mendukung dan memilih SBY dalam pemilu, bukan oleh mereka yang tidak memilih, mendukung dan mengharamkan pemilu.

Sikap semacam itu, dapat mengundang penilaian yang bermacam-macam terhadap kelompok tersebut, bisa jadi orang akan menilai “sikap cari amannya” dengan mengatakan “”mungkin takut dengan SBY, takut di ciduk, buktinya partai Islam yang mendukung SBY dinilai negatif terus, mungkin karena partai tersebut orang-orangnya lemah, tidak punya kekuatan”. Kalau ada penilaian semacam itu, bisa jadi benar adanya, bisa jadi juga salah yang timbul karena adanya rasa tidak suka terhadap kelompok tersebut yang terus menilai orang lain salah. Agar penilaian terhadap sikap kelompok ini obyektif, mari kita cermati pernyataan yang ada dalam salah satu situs mereka :

“Bila saudara merasa terusik oleh sikap ikhwan salafiyyin yang mengkritik kesesatan sekte-sekte berbagai tokoh firqoh yang ada, maka ini pulalah yang akan dilakukan oleh para pemimpin/penguasa yaitu akan marah dan tersinggung. Akan tetapi antara kemarahan penguasa dengan sekte-sekte yang ada terdapat perbedaan, yaitu bila yang marah pemerintah, maka akan terjadi kerusakan yang luas, sedangkan bila yang marah ketua sekte/firqah, maka mereka tidak dapat berbuat apa-apa”.

http://muslim.or.id/2007/01/31

Bisa jadi argumentasi yang terdapat dalam tulisan tersebut benar adanya, tapi perlu penjelasan lebih detil dari yang empunya argumen, karena dari tulisan tersebut, harus dimaklumi bila orang menilai kelompok tersebut mencari amannya saja, dan karena yang punya argumen kadang sungkan untuk menjelaskan face to face, mau tidak mau kita tunggu saja kiprahnya di kemudian hari, bagaimana sikapnya bila partai Islam gagal memilih presiden dan yang terpilih adalah presiden yang didukung partai kafir dan sekular bahkan presidennya sendiri seorang kafir. Tetapi demi Allah semoga hal semacam itu tidak terjadi.

Tapi kalau boleh menilai, bisa jadi sikap mereka tersebut karena memang pilih amannya saja untuk menghindari konfrontasi dengan kekuatan yang besar, karena yang saya dengar, mereka juga menyalahkan muslim Palestine yang berjuang melawan gempuran rudal-rudal Israel, mereka menyalahkan bom syahid muslim Palestine sementara mereka tidak memberikan solusi apa-apa untuk dapat melawan rudal-rudal Israel kecuali saran agar muslim Palestine mendahulukan ilmu daripada amal, tentu saja yang mereka maksud adalah menyarankan muslim palestine untuk jihad ilmu, jelasnya, mengubah jihad qital menjadi jihad ilmu. Begitu juga pejuang-pejuang di Irak dan Afghanistan, tidak lepas dari kritikan kelompok ini, sehingga tidak aneh, bila sampai detik ini tidak seorangpun tokoh dari kelompok ini yang berada di front untuk melawan orang-orang kafir, baik melalui jihad qital maupun jihad pemikiran, semoga saja semua itu salah, tetapi kalau benar semoga saja bukan karena cari aman, tetapi berdasarkan hujjah yang nyata dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Dan merekalah yang dapat menjelaskan dengan baik atas sikapnya tersebut, karena orang lain bisa jadi hanya tahu kulitnya saja sehingga salah dalam menilainya, perlu kearifan bagi mereka untuk menjelaskan.

Sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah ?

Benarkah sikap mereka sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dalam hal mentaati presiden atau pemerintah padahal dengan jelas mereka menyatakan presiden SBY atau pemerintah telah dipilih melalui cara yang haram, sampaisampai mereka sendiri tidak mau untuk memilihnya ? Mari kita lihat argumentasi dari mereka yang saya kutip dari situs mereka :

….. khilafah Umawiyyah, Abbasiyyah, Utsmaniyyah. Ketiga dinasti (baca: khilafah) islam ini dimulai dengan kesalahan, yaitu menentang dan melawan khalifah yang sah. Khilafah Umawiyyah dimulai dari perlawanan sahabat Mu’awiyyah terhadap khalifah yang sah yaitu sahabat Ali bin Abi Thalib, dan setelah melalui berbagai kejadian sejarah, akhirnya terjadilah penyerahan kekuasaan oleh sahabat Hasan bin Ali bin Abi Thalib kepada sahabat Mu’awiyyah….

Walau proses perebutan kekuasaan ini telah disepakati oleh ulama’ sebagai tindakan yang diharamkan, dan pelakunya berdosa karenanya, akan tetapi bila kekuasaan berhasil direbut, dan para pemberontak berhasil menata kekhilafahan sehingga terciptalah stabilitas keamanan, kekuatan, perekonomian dll, maka umat islam semenjak dahulu telah sepakat untuk mengakui khalifah hasil pemberontakan tersebut. Jadi bisa jadi metode perebutan kekuasaan diharamkan, akan tetapi bila telah berhasil direbut dan yang merebutnya memiliki kemampuan untuk menjalankan khilafah, maka umat islam seluruhnya diwajibkan untuk mengakui khalifah tersebut, dan khalifah tersebut menjadi khalifah yang sah dan wajib ditaati.

http://muslim.or.id/2007/01/31

Ini adalah argumentasi yang paling berani, per pertama, secara tidak langsung telah menyatakan Mu’awiyyah ra telah melakukan cara yang haram, padahal Ali ra telah memujinya :

Ali bin Abi Thalib ra. berkata sepulangnya dari Perang Shiffin : “Wahai manusia, janganlah kalian membenci kepemimpinan Mu’awiyah, seandainya kalian kehilangan dia, niscaya kalian akan melihat kepala-kepala bergelantungan dari badannya -banyak pembunuhan-.

Al Bidayah 8/134 oleh Ibnu Katsir

apalagi Mu’awiyyah ra adalah pencatat wahyu yang diangkat langsung oleh rasulullah saw, dan tidak seorangpun dari salafus sholeh yang menyatakan Mu’awiyyah telah melakukan hal yang haram. Menilai tindakan politik yang dilakukan oleh Mu’awiyyah sebagai tindakan yang haram dapat bertentangan dengan pendapat para salafus sholeh tentang Mu’awiyah. Dan oleh karena kelompok ini telah mengaku menggunakan pendapat para ulama dalam menilai haram tindakan Mu’awiyyah, maka sebaiknya, kelompok ini mengutip pendapatpendapat tersebut agar dapat dipetanggungjawabkan.

Kedua, Mu’awiyyah termasuk salafus sholeh, padahal mereka mengaku dalam beragama ini mengikuti para salafus sholeh, mengapa mereka tidak menempuh cara Mu’awiyah agar diperoleh kemaslahatan seperti kemaslahatan yang diperoleh Mu’awiyyah. Sikap yang demikian dapat mengundang penilaian negatif terhadap mereka, misalnya menilai mereka memilih amannya saja untuk menghindari konfrontasi fisik, apalagi tidak seorangpun dari mereka yang berada di front untuk mendapatkan kekhilafahan/kepemimpinan negara.

Ketiga, katakanlah yang dilakukan oleh Mu’awiyyah memang haram dan menurutnya para ulama juga sepakat demikian, lalu mengapa mereka tidak masuk demokrasi yang sama-sama haramnya seperti yang ditempuh Mu’awiyyah, bukankah menurut mereka nanti akan menjadi halal kalau berhasil dan memperoleh kemaslahatan dan dapat menghindarkan dari kemudharatan yang jauh lebih besar daripada jika membiarkan presiden dan pemnerintahan dipegang oleh orang-orang kafir ?

Ini adalah kerancuan yang ada pada mereka, di satu sisi mengharamkan untuk memilih presiden melalui pemilu dan demokrasi, di sisi yang lainnya harus mentaati presiden yang menurutnya dipilih dengan cara yang haram, sehingga dengan sangat berani harus menyatakan Mu’awiyyah juga telah menempuh cara yang haram.

Kerancuan dalam pemahaman, pastilah datangnya bukan dari al-Qur’an, karena Allah SWT telah menginformasikan :

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.

QS. 4:82

Bila mereka menyatakan pemahamannya tidak rancu, sementara orang lain mengatakan rancu, maka mereka harus dapat menjelaskan bahwa pemahamannya tidak rancu, karena bisa jadi ia yang salah bisa jadi juga orang lain yang salah.

Kerancuan Yang Lain

Menurut mereka –yang mengharamkan demokrasi dan yang taat pada presiden hasil demokrasi- bila ada kesalahan dari SBY, maka akan menasehatinya secara empat mata :

“Barang siapa yang hendak menasehati seorang penguasa dalam suatu urusan, maka janganlah disampaikan di depan khalayak ramai, akan tetapi hendaknya ia sampaikan di saat ia menyendiri dengannya, dan bila ia menerima nasehatnya, maka itulah yang diinginkan, dan bila tidak menerima, maka ia telah menunaikan kewajibannya.”

HR Ibnu Abi ‘Ashim, dan dishahihkan oleh Al bani

Oleh karenanya, menurut mereka tidak boleh melakukan demo ataupun mengkritik kebijakan presiden secara terbuka.

Dari sikap mereka ini dan caranya menafsirkan hadits tersebut ada sedikit kerancuan, bagaimana bisa, mereka yang berada di luar parlemen dapat menunggu kesempatan menyendiri dengan presiden untuk menasehati presiden, perlu diketahui, orang yang ingin bertemu presiden jumlahnya ribuan bahkan bisa jadi jutaan, dan tidak mungkin presiden menemui semuanya satu persatu, harus berdasarkan skala prioritas, kalau yang datang hanya seorang tukang beca yang ingin meminta uang untuk beli ban, tidak mungkin akan ditemui presiden, karena hal itu justru akan mengganggu urusan rakyat, begitu juga kalau yang datang hanya seorang Ustadz tingkat desa yang tidak ketahuan kiprahnya di masyarakat, jangan harap bisa menemui presiden, karena kalau ditemui dapat menyebabkan ribuan ustadz yang lainnya berbondong-bondong ke istana. Jadi sederhana saja, pernahkah mereka menasehati presiden secara empat mata ? saya meyakini belum pernah, keadaannya sudah jauh berbeda dengan masa rasulullah saw dan para khalifah, dahulu memang para khalifah dapat ditemui kapan dan di mana saja, di pasar, jalan, masjid atau di rumahnya, tetapi sekarang situasi dan kondisinya sangat berbeda, dan hal itu hanya bisa dicapai kalau mereka masuk ke pemerintahan atau organisasi resmi semacam Muhammadiyah, NU, MUI atau yang lainnya yang telah menunjukkan kiprahnya di Indonesia, maka kesempatan menasehati presiden secara empat mata akan dapat dicapai, tetapi sayang, semua itu mereka haramkan, karena menurutnya bid’ah.

Kerancuan yang lain lagi, SBY adalah nyata-nyata pendukung demokrasi, dan menurut mereka kalau ada kesalahan harus dinasehati secara empat mata agar tidak menurunkan kewibawaannya, tetapi mereka telah dengan sangat lantang menyuarakan haramnya demokrasi yang nyata-nyata diperjuangkan oleh presiden yang di taatinya, jadi kalau boleh berkomentar, bukankah hal itu sama saja dengan menohok SBY secara terbuka ?.

Kerancuan yang lain lagi, bukankah partai Islam yang telah memilih SBY menjadi presiden juga telah menjadi bagian dari pemerintah, misalnya menjadi anggota DPR, MPR, -bahkan ketua MPR-, walikota dan menteri, mengapa SBY tidak dihujat sementara partai Islam yang orang-orangnya ada dalam pemerintahan di hujat ? bukankah antara SBY dan orang-orang yang dari partai Islam juga telah menjadi pemimpin mereka ? Apakah karena SBY dari militer dan kuat sedang orang-orang yang dari partai Islam lemah, sehingga diperlakukan berbeda ?, kalau begitu apa artinya dalil-dalil di atas yang mereka gunakan untuk taat dan menasehati pemerintah secara tertutup ? Ataukah ada sebab lain, kebencian misalnya, sehingga mereka tidak adil dalam bersikap, kalau benar demikian, Allah SWT telah mengingatkan :

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. QS. 5:8

merekalah yang lebih tahu apa-apa yang ada di dalam hatinya dari pada orang lain, semoga tulisan ini dapat menjadi nasehat bagi kita semua umat Islam. Amin.

Malang, 21 Desember 2007

Iklan