DEMOKRASI.TK


AL-ISLAH no 107
Desember 21, 2007, 11:46 pm
Filed under: Salahkah Bilang Yamani

Salahkah Bilang Yamani

Dulu ketika masih SD –kira-kira kelas empat- saya pernah di bilang oleh teman-teman, saya ini Wahabi, waktu itu, sebisa mungkin saya membela diri, “saya bukan Wahabi, kalianlah yang Wahabi”, karena di keroyok, akhirnya saya kalah dan mereka berhasil menempelkan label Wahabi ke diri saya, dan kalau tidak salah, saat itu saya hampir-hampir menangis. Padahal saya tidak tahu sedikitpun tentang Wahabi dan saya yakin teman-teman saya saat itu juga tidak tahu, karena sebagai anak-anal, saya dan teman-teman yang melabeli saya, tidak terposisikan untuk mengetahui dan membahas apa itu Wahabi, dan kalau saya menolak dibilang Wahabi, hal itu karena saya dalam posisi di olok-olok.

Biasalah, namanya anak-anak, kalau memberikan sebutan apapun kepada temannya dalam situasi yang satu mengolok-olok yang lain atau sebaliknya, pastilah sebutan macam apapun akan langsung ditolaknya, seperti halnya ketika dibilang Wahabi dalam kondisi mereka ingin mengolok-olok, maka namanya anak kecil yang kalau boleh dibilang masih polos, wajar saja kalau berpikiran Wahabi itu orangnya jelek fisik atau jelek perbuatan atau kedua-duanya, padahal bisa jadi label itu terpuji adanya, mungkin kalau saat itu mereka mengolok-olok dengan sebutan Taimiyah, saya juga akan menolaknya seperti ketika saya menolak dibilang Wahabi.

Setelah dua puluhan tahun kemudian, saya mulai tahu yang dimaksud Wahabi, yaitu pelabelan yang dinisbatkan kepada gerakan Syaikh Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahab yaitu seorang tokoh pembaruan Islam di Jazirah Arab (1702-1791), dan ji-ka saat itu saya diberi label Wahabi, kemungkinan besar saya akan tersenyum bahkan bersyukur, terlebih lagi kalau saya betul-betul mampu beramal sholeh seperti Syaikh Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahab yang mendakwahkan pemurnian akidah dari syirik dan pemurnian ibadah dari TBC (tahayul, bid’ah dan churafat) sekaligus mampu bergerak secara fisik membersihkan praktek-praktek syirik dan TBC yang ada di dalam masyarakat, bahkan mungkin saya akan senang dan bangga kalau disebut sebagai Wahabi.

Namun, beberapa tahun kemudian, seiring dengan bertambahnya informasi, pendapat saya terhadap pelabelan Wahabi, kembali seperti ketika saya kelas empat SD, yaitu, saya akan menolak pelabelan-pelabelan semacam itu, karena ternyata banyak akibat buruknya, antara lain, menyebabkan Syaik Muhammad Ibn ‘Abd al-Wahab menjadi tertuduh pembawa ajaran radikal, intoleran dan lain lain dan dapat juga menyebabkan perpecahan di antara umat Islam.

Pada sejarah India misalnya, ketika penjajah Inggris mendapat perlawanan berat dari gerakan Syaikh Ahmad Irfan, bahkan perlawanan ini hampir berhasil mendirikan daulah yang merdeka, Inggris berusaha menerapkan strategi belah bambu dengan menyematkan label Wahabi kepada gerakan Syaikh Ahmad Irfan dan menghasut para pemimpin suku yang bermadzhab Hanafi dengan hasutan bahwa paham Wahabi yang dimiliki Syaikh Ahmad Irfan akan menggusur madzhab Hanafi yang telah mereka yakini, alhasil, dengan pelabelan itu, suku-suku yang bermadzhab Hanafi terprovokasi dan berhasil menumbangkan gerakan syaikh Ahmad Irfan, Inggrispun tersenyum telah berhasil menumbangkan perlawanan umat Islam dengan meminjam tangan umat Islam sendiri, maka muluslah penjajahan Inggris di India.

Kini, pelabelan-pelabelan semacam itu, diterapkan Barat untuk memuluskan hegemoninya (penjajahan) atas Islam dengan alur yang jauh lebih canggih, obyek pelabelannyapun telah dipersiapkan, yaitu Osamah Bin Laden, seorang tokoh yang sangat dihormati oleh bangsa dan rakyat Afghanistan dan sebagai representasi penerap syariat Islam, Barat berusaha keras agar label radikal, fundamentalis, teroris dan lain-lain menempel secara alami pada Osama bin Laden, namun arah tuduhan sebenarnya adalah Wahabi, lebih jauh lagi tertuduhnya adalah Islam, artinya, Barat berusaha membuat opini agama Islam adalah agama teroris, alhasil, dari fenomena Osama bin Laden ini, Barat untung besar, sebagian umat Islam yang satu menyematkan label Khawarij kepada sebagian umat Islam yang lain, dan sebagian yang lain menyematkan Murjiah, yang lainnya lagi menyematkan teroris dan yang lainnya lagi menyematkan antek Barat dan lain-lain. itulah sasaran tembak Barat yang sesungguhnya. Dan kalau pembaca jeli terhadap fenomena tertangkapnya Abu Dujana yang telah dilabelisasi teroris dan komentar Ustad Ja’far Thalib terhadap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang katanya mengetahui persembunyian Noordin M Top, maka akan nampak walau samar adanya skenariao canggih yang saling berhubungan antara peristiwa 11 September, invansi Amerika ke Afghanistan, Irak dan label Jama’ah Islamiyah oleh Barat, di mana fenomena tersebut sangat menguntungkan Barat dalam menghegemoni Islam, dan semua umat Islam yang ingin menerapkan syariat Islam satu persatu akan dihancurkan dengan penyematan label teroris, radikal, intoleran dan lain sebagainya dan tidak mustahil suatu saat nanti sasarannya juga umat Islam yang sekarang memusuhi umat Islam yang lainnya seperti kasus sejarah India yang memang selalu menjadi korban strategi belah bambu. Untuk memperjelas skenario tersebut silahkan baca buletin Al-Islah :

No 036 dengan judul 9-11

No 040 dengan jedul Kebohongan Bom Bali

Secara politis, orang-orang Islam yang memberikan label kepada orang-orang Islam lainnya yang berbeda paham, adalah orang-orang yang secara tidak sadar telah terprovokasi oleh kemauan Barat. Tidak sulit mengindentifikasinya, pelabelan itu sesungguhnya menguntungkan Islam atau menguntungkan Barat, kalau menguntungkan Barat berarti pelabelan itu kuat indikasinya telah mengikuti kemauan Barat dan bukan kemauan Islam, karena tidak mungkin Allah SWT dan rasulnya SAW mengajarkan agama ini untuk menguntungkan musuhmusuh Islam dalam menghancurkan Islam.

Kalau kita mau jeli dan teliti, sesungguhnya tida ada pelabelan-pelabelan semacam itu yang tidak menyebabkan perpecahan di antara umat Islam, bukti-bukti sejarah telah nyata menunjukkan setiap pelabelan selalu berakibat tercerai-berainya umat Islam, yang mengherankan, hal itu masih saja tetap terjadi hingga saat ini, padahal sangat nyata larangan Allah SWT :

….dan janganlah kamu bercerai-berai…. QS. 3:103

maka sudah seharusnya di antara umat Islam menghindari pelabelan-pelabelan kepada sesama umat Islam, jangan sampai umat Islam bercerai berai oleh sebab yang pernah menyebabkan umat Islam bercerai berai, karena sebodohbodohnya keledai, tidak akan tersandung batu yang sama untuk kedua kalinya :

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal… dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.

QS 12:111 QS. 43:56

PROPOSIONAL

Pelabelan-pelabelan seperti Wahabi, Nahdho, Khawarij, Murjiah, Haraki, Sururi, hizbi, radikal, fundamentalis dan lain-lain pada saat ini oleh umat Islam yang satu kepada umat Islam yang lain telah memberikan efek negatif bagi umat Islam itu sendiri, antara lain berbangga diri dengan kelompoknya dan merasa paling benar, sepertinya kalau kita lihat fenomenanya saat ini, pelabelan-pelabelan tersebut sudah pada taraf menilai kelompok lain salah secara mutlak dan menilai kelompoknya sendiri benar secara mutlak sehingga antara umat Islam yang berbeda paham saling memberikan label buruk sehingga bercerai-berai.

Dapat dipahami bila yang melakukan pelabelan secara membabi buta hanya seorang anak SD yang tidak paham ajaran agama, namun bila yang melakukan orang dewasa –mukallaf- apalagi dari segi keilmuan boleh dibilang cukup mumpuni, maka sulit untuk dipahami, padahal Allah SWT telah melarangnya :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain …dan janganlah ka-mu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.

QS. 49:11

Begitu juga rasulullah saw telah melarangnya :

……Dan barangsiapa dari umatku berbuat atas umatku yang lain, menghujat orang-orang baiknya dan juga orang-orang jahatnya, tidak mengecualikan orang-orang mukminnya dan tidak menjaga kehormatan orang-orang yang konsisten dari umat yang dia hujat, maka dia bukan golonganku.

HR. Muslim dari Abu Hurairah ra.

Tetapi, akhir-akhir ini hal itu betul-betul terjadi, efeknya sama dengan efek kalau anak SD memberi label kepada teman-temannya, yaitu kesan buruk terhadap orang-orang yang dilabeli, misalnya label Quthbiy, orang akan memandang buruk orang-orang yang sepaham dengan Sayyid Quthb, label Sururi, orang akan memandang buruk orang-orang yang sepaham dengan Muhammad Surur ibn Zain al-‘Abidin, label Haraki, orang akan memandang buruk salafiyyun yang bersikap proposional terhadap pergerak-an-pergerakan Islam, ada juga pelabelan yang memlesetkan nama dari tokoh-tokoh panutan tertentu, misalnya DR. Yusuf al-Qaradhawy diplesetkan menjadi Yusuf al-Qurazhi, orang akan memandang beliau seperti salah satu kabilah Yahudi di Madinah, yaitu Bani Quraizhah, atau Yu-suf al-Qaradha yaitu Yusuf sang penggunting syariat Islam, ada lagi pelabelan yang memlesetkan nama organisasi tertentu misalnya Ikhwanul Muslimin menjadi Ikhwanul Muflisin dan masih banyak lagi pelabelan-pelabelan yang tujuannya tidak jauh dari menilai jelek orang lain.

Sekarang mari kita uji kasus, misalnya ada kelompok yang dilabeli sebagai Quthbiyyun, apa yang ada dalam benak kita dengan pelabelan tersebut ? jujur saja, akan otomatis menilai kelompok tersebut adalah kelompok yang salah bahkan sesat walaupun kita tidak tahu tentang Quthbiyyun, dan andaikata tahu bahwa Quthbiyyun itu dinisbatkan kepada Sayyid Quthb, itupun akan menilai Sayyid Quthb sesat, efek yang lebih jauh, bagi orang awam akan membabi-buta menilai Sayyid Quthb dan pengikutnya berpaham sesat, sehingga tidak heran jika karya-karyanya akan disingkirkan jauh-jauh, seperti Tafsir Fi Zilalil Qur’an atau yang lainnya, memang itulah sasaran sesungguhnya. Padahal kalau mau bersikap proposional, tidak mustahil akan didapat kesimpulan yang obyektif, bisa jadi Sayyid Quthb itu memang sesat pemahamannya bisa jadi sebaliknya, tetapi jangan sampai penilaian sesat tersebut karena propvokasi dari yang tidak suka dan jangan sampai pula penialain tidak sesat karena propaganda dari yang menyukainya. Mari kita cermati contoh kasus pro dan kontra berikut :

Setelah menulis buku yang penuh tuduhan dan caci maki terhadap Asy-Syahid Sayyid Quthub yang berjudul :

“Adhwa` Islamiyyah ‘Ala ‘Aqidati Sayyid Quthb wa Fikrih,”

Syaikh Robi’ bin Hadi bin Umair Al-Madkholi meminta Syaikh DR. Bakr bin Abdillah Abu Zaid (anggota Hay`ah Kibar Al-‘Ulama di Saudi dan anggota Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wal Ifta`) untuk memberikan kata pengantar bagi buku beliau tersebut. Namun, di luar dugaan, sebagai seorang ulama besar yang bijak dan berpengetahuan luas, Syaikh Bakr Abu Zaid dengan halus menolak memberikan kata pengantarnya.

Lalu, Syaikh Bakr pun menulis surat atau risalah kecil yang beliau beri judul “Al-Khithab AdzDzahabi” (surat emas) yang beliau tujukan kepada Syaikh Robi’. Yang intinya di dalam surat tersebut Syaikh Bakr membantah tuduhan-tudahan Syaikh Robi’ kepada Sayyid Quthb :

Mari kita lihat sebagian isi surat tersebut :

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata, “Dan di antara daftar isi tertulis ‘Perkataan Sayyid Quthub tentang Khalqul Qur`an dan Bahwa Kalam Allah adalah Ibarat dari Suatu Kehendak’……… Akan tetapi, ketika saya membaca halaman-halaman yang disebutkan, saya tidak mendapatkan satu huruf pun yang di dalamnya menunjukkan bahwa Sayyid Quthub rahimahullahu Ta’ala mengatakan Al-Qur`an itu makhluk. Kenapa begitu mudahnya anda melemparkan tuduhan takfir ini kepada Sayyid Quthb ?”

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata, “Sungguh bergidik bulu kuduk saya ketika saya membaca daftar isi buku anda, di mana tertera “Sayyid Quthub Membolehkan Orang Lain Selain Allah Untuk Membuat Syari’at.” Maka, saya pun segera membaca semua perkataan Sayyid dalam bukunya “Al-‘Adalah Al-Ijtima’iyyah,” dimana engkau menukil perkataannya; namun ternyata apa yang dikatakannya tidak layak untuk diberi judul yang sensasional seperti yang engkau lakukan. Taruhlah apa yang dikatakannya terdapat ibarat yang masih samar maknanya, tapi bagaimana engkau bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang mengkafirkan? Engkau telah melenyapkan semua kebaikan yang telah dibangun oleh Sayyid Rahimahullah sepanjang hidupnya dan juga segala yang ditulis oleh penanya dalam rangka dakwah kepada Allah Ta’ala dalam masalah hukum dan syariat, dimana beliau menolak undang-undang buatan manusia serta berdiri tegak menentang kemungkaran ini.”

Dan bantahan-bantahan lainnya dapat dilihat di situs berikut ini :

http://www.islamgold.com/view.php?gid=7&rid=94

Contoh kasus tersebut membuktikan bahwa belum tentu orang yang dilabelisasi negatif adalah benar negatif, ternyata yang terjadi bisa sebaliknya, orang tersebut justru mulia di mata ulama-ulama lainnya.

SALAFY YAMANI & PELABELAN

Namun, walaupun pelabelan-pelabelan semacam itu dilarang oleh agama dan dapat menyebabkan perpecahan di antara umat Islam, ada saja sekelompok umat Islam yang gemar melakukannya dengan mengatas-namakan agama, menurut mereka, kesesatan sebuah kelompok harus dibeberkan dan tidak boleh membeberkan kebaikan-kebaikannya karena dikwatirkan dapat menyesatkan.

Kelompok ini dikenal membabi buta dalam mentahdzir kelompok lain yang berbeda paham sebagai tindak lanjut Hajr Mubtadi’ (Pengisoliran terhadap pelaku bid’ah), kelompok ini juga dikenal fokus pada kajian ilmu namun miskin dalam aplikasi, utamanya dalam hal nahi mungkar, dan kelompok ini juga mulai nampak menghindari jihad qital dan mengubahnya menjadi jihad ilmu, dan kalau ditelusuri lebih jauh lagi, ternyata kelompok ini banyak mengadopsi pemikiran-pemikiran dan karakter Syaikh Robi al-Madkhaly di Madinah dan Syaikh Muqbil al-Wadi’i di Yaman (w. 2002), dan yang lebih mencengangkan, kelompok ini telah menyusun daftar 86 ustadz-ustadz yang dapat dipercaya untuk dijadikan rujukan dari Aceh sampai Papua, ‘uniknya’ nama-nama itu didominasi oleh murid-murid Syaikh Muqbil al-Wadi’i dari Yaman, lihat Daftar Ustadz yang Terpercaya di http://www.salafy.or.id.

Dengan kaidah yang sama, dengan yang digunakan oleh kelompok tersebut dalam melabelisasi kelompok yang lainnya, maka kelompok inipun dapat dilabelisasi untuk menjaga umat Islam dari kesalahan fatal yang ada pada kelompok tersebut, misalnya dengan memberi label Salafy Yamani, atau suatu saat nanti bila dipandang perlu umat Islam boleh saja memberi label Salafy Yordan atau Salafy Cileungsi kepada kelompok tertentu.

Alhamdulillah, hal itu tidak dilakukan oleh kelompok-kelompok yang telah dilabelisasi, sehingga tidak semakin menguntungkan Barat. Semoga tulisan ini dapat menjadi nasehat agar tidak terjebak oleh skenario Barat.

■ Malang, 22 Desember 2007

Iklan