DEMOKRASI.TK


AL-ISLAH no 118
Desember 23, 2007, 6:59 am
Filed under: UTOPIS apa MUNAFIK

Utopis apa Munafik

 

Seperti yang telah dipaparkan dalam buletin ini, ternyata sebagian kelompok dari umat Islam yang mengharamkan perjuangan melalui demokrasi adalah kelompok yang terdiri dari orang-orang yang dapat disebut sebagai utopis atau orang-orang yang berada dalam dunia khayal atau mimpi belaka, hal itu karena orang-orang tersebut sama sekali tidak mempunyai solusi apapun yang dapat direalisasikan untuk dapat menegakkan syariat Islam atau nahi mungkar.

Solusi-solusi yang diberikan memang terasa sangat mengagumkan dan meyakinkan apalagi oleh pengikut-pengikutnya yang telah terindoktrinasi, namun solusi-solusi tersebut sangat jauh dari dapat direalisasikan agar syariat Islam dapat ditegakkan atau nahi mungkar dapat dijalankan, misalnya solusi yang diteriakkan oleh kelompok yang menyebut diri sebagai Salafy berikut :

Negara Islam itu hanya akan bisa didirikan dengan menegakkan tauhid dan memberantas kesyirikan dari diri kita terlebih dahulu kemudian dari keluarga kita dan masyarakat kita.

http://www.Muslim.or.id/?p=406—–Bagaikan menegakkan benang basah

Solusi tersebut harus diakui sebagai slogan yang sangat indah dan membangkitkan optimisme karena menyebut-nyebut masalah kemurnian tauhid, namun sejak kelompok ini lahir dan slogan itu diteriakkan di mana-mana, tidak satupun negara Islam yang telah tegak oleh kelompok ini, bahkan tidak satu nahi mungkarpun yang telah dilakukan oleh kelompok ini sebagai implementasi dari akidah yang diklaimnya shahih, tidak pernah terlihat kelompok ini mencegah kemaksiatan yang dilakukan oleh orang lain, kemaksiatan-kemaksiatan yang ada di lingkungannyapun nampak di diamkan seperti pelacuran oleh para waria yang ada di kolong jembatan layang Cileungsi, padahal kalau seperempatnya saja dari pengikut kelompok ini berbaris mengitari jembatan niscaya para waria lari terbirit-birit, tetapi sayang, nahi mungkar yang skalanya sekecil itupun tidak dilakukannya apalagi jika skalanya seluas negara yang kemaksiatannya terorganisir dengan rapi, akan semakin membuat kelompok ini jauh dari bergerak.

Yang menyebabkan dengan slogan tersebut tidak dapat merealisasikan negara Islam adalah karena timbulnya keyakinan bahwa akidah itu merupakan wilayah hati dan ucapan dan bukan wilayah perbuatan, sehingga tidak pernah terpikirkan oleh kelompok ini untuk melakukan pergerakan.perjuangan fisik.

Kalau ditanyakan kepada mereka apa hukumnya mengikuti hukum yang Allah turunkan –tauhid uluhiyah-, maka dengan meyakinkan dan mengagumkan mereka akan menjawab “HUKUM ALLAH”, namun bila ditanyakan kepada mereka apa yang telah mereka lakukan agar hukum Allah SWT tersebut dapat ditegakkan pada kondisi hukum Allah SWT tidak diberlakukan oleh negara seperti saat ini, tentu mereka akan menjawab dengan retorika ke sana ke mari yang intinya untuk menutupi bahwa mereka tidak melakukan perjuangan apapun agar syariat Islam dapat ditegakkan/diikuti :

Dan al-Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertaqwalah agar kamu diberi rahmat,

QS. 6:155

Ayat tersebut adalah sebagai perintah agar kita mengikuti hukum yang telah Allah SWT turunkan, karena saat ini hukum Islam tidak tegak, maka harus ada upaya untuk menegakkannya. Penguasaan negara adalah sebagai sarana pelegalan agar umat Islam dapat menunaikan kewajibannya mengikuti hukum Allah SWT. Memurnikan akidah semurni-murninya dari kesyirikan hanya dalam hati dan ucapan tidak akan mengotomatiskan berdirinya negara Islam, negara Islam akan berdiri hanya jika diperjuangkan, dan itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para salafush-shaleh.

Keyakinan akan negara Islam akan berdiri dengan sendirinya itulah yang menyebabkan kelompok ini tidak menunjukkan usaha apapun untuk meraih pemerintahan bahkan cenderung membiarkan orang-orang kafir merebutnya, sehingga kelompok yang mengaku diri sebagai Salafy ini nampak sebagai kelompok utopis atau sebagai kelompok orang-orang yang berada dalam dunia mimpi/khayal, negara Islam yang disangkanya akan berdiri melalui slogannya tidak lebih hanya berupa khayalan belaka.
Kelompok ini sejatinya adalah sebagai kelompok pendakwah yang baik dan bukan sebagai kelompok pejuang, sangat disayangkan kelompok ini sangat keras hujatannya terhadap kelompok pejuang baik yang berjuang melalui demokrasi maupun yang tidak seperti MMI, HTI, FPI, IM dan lain-lain, padahal agama ini tidak akan tegak hanya melalui dakwah tanpa perjuangan untuk menegakkannya, Rasulullah SAW dan para salafus shaleh telah mencontohkannya, bahwa di samping mendakwahkan akidah yang shahih juga berjuang menghadapi orang-orang kafir, baik melalui diplomasi maupun jihad ketika diperlukan. Perlu dipertanyakan jika kelompok ini mengaku sebagai ahlus sunnah wal jamaah atau mengaku bermanhaj seperti manhajnya para salafush-shaleh tetapi hanya berdakwah tanpa berjuang meraih pemerintahan bahkan umat Islam yang berjuang lewat demokrasi tiada henti-hentinya dihujat.

Perlu diketahui oleh kelompok ini, umat Islam yang berjuang melalui demokrasi untuk meraih pemerintahan, berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun dengan sangat yakin berkesimpulan, bahwa pada saat ini, pemerintahan tidak akan bisa diraih bila tidak ikut serta dalam proses demokrasi, kesimpulan tersebut telah melalui ijtihad yang teliti dan telah didukung fatwa para ulama ahlus sunnah wal jamaah seperti Syaikh Albani, Syaikh Utsaimin, Syaikh Bin Baz, Lajnah Daimah, Ibnu Qayyim dan lain-lain, akhirnya mereka memutuskan untuk ikut serta dalam proses demokrasi dengan tujuan untuk menegakkan syariat Islam dan untuk nahi mungkar. Dan umat Islam yang jujur tentu dapat merasakan dan melihat hasil perjuangan mereka seperti maraknya pemberantasan kemaksiatan, orang-orang yang berzina dirazia, perjudian togel di berantas, koruptor diburu, minuman keras banyak yang dimusnahkan, dan lain-lain, yang mana hasil-hasil semacam itu belum bahkan tidak ditunjukkan oleh orang-orang yang tidak berjuang melalui demokrasi apalagi yang tidak berjuang sama sekali seperti kelompok yang mengaku diri sebagai Salafy, hasil-hasil semacam itulah yang dikehendaki Syaikh Albani terhadap ikut sertanya umat Islam dalam pemilu :

Aku katakan ini, – walaupun aku meyakini bahwa pencalonan dan Pemilu ini tidak merealisasikan sasaran yang dituju sebagaimana keterangannya di atas.- namun dari bab membatasi kejahatan, atau menolak kerusakan yang lebih besar dengan kerusakan yang lebih kecil, seperti yang diperkatakan oleh Ahli Fiqih (maka aku nasehatkan untuk memilih dari mereka golongan muslim).

Fatwa kepada partai FIS Aljazair

Jika saja kelompok yang menamakan diri sebagai Salafy ini mau mensinergikan dakwahnya dengan kelompok pejuang, tidak mustahil rahmat Allah SWT berupa berdirinya negara Islam atau tegaknya syariat Islam di Indonesia akan segera dapat diraih, namun jika kelompok ini bersikeras terhadap slogannya dan terus menghujat kelompok pejuang maka tegaknya negara/syariat Islam melalui kelompok ini hanya akan berupa bunga tidur belaka.

Ada juga kelompok lain di luar kelompok tersebut di atas yang juga dapat disebut sebagai kelompok yang utopis, yaitu kelompok yang berpendapat bahwa syariat Islam dan nahi mungkar tidak bisa ditegakkan melalui demokrasi dan menurutnya hanya jihad qital jalan satu-satunya yang dapat digunakan untuk menegakkan syariat Islam dan nahi mungkar.

Memang aneh jika kelompok yang menyerukan jihad qital tersebut disebut sebagai kelompok utopis, pasalnya jihad qital adalah sebuah jalan yang pernah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan para salafus shaleh bahkan oleh pahlawan-pahlawan Islam pada masa perang salib dan berhasil menegakkan Islam, jihad qital pada saat ini juga dilakukan oleh para pejuang Afghanistan, Palestina, Libanon, Irak dan lainlain karena kedzaliman yang mereka alami.

Jika kelompok ini akhirnya disebut sebagai utopis, hal itu tidak lain karena kelompok ini seruan jihadnya adalah seruan jihad yang tidak lahir karena adanya sebab-sebab seperti jihad-jihad di atas, tapi seruan jihadnya nampak terlahir dari emosi yang tidak terkontrol dan tidak dilandasi pemahaman agama yang komprehensif, atau dengan kata lain seruan jihad qitalnya tidak sesuai syariat, maka tidak aneh jika seruan jihad qitalnya hanya sampai pada taraf seruan belaka, setidak-tidaknya sejak beberapa tahun yang lalu hingga detik ini dan nampaknya sampai kapanpun akan seperti itu, jihad qitalnya hanya sebagai hiasan kerongkongan dan tidak akan sampai pada tindakan nyata, seakan-akan seruan jihadnya hanya untuk satu tujuan yaitu yang penting demokrasi haram.

Yang membedakan antara kelompok Salafy di atas dengan kelompok ini adalah, bila kelompok Salafy tidak melakukan jihad qital karena memang slogannya tidak menuntut demikian bahkan slogannya cenderung meniadakannya, tetapi kelompok ini tidak melakukan jihad qital justru bertentangan dengan slogannya yang menuntut jihad qital, dapat dikatakan antara ucapan dan perbuatan tidak selaras.

Hal itu bisa terjadi karena adanya tujuan yang penting demokrasi haram, atau karena adanya kesadaran bahwa dirinya tidak mungkin mampu melakukan jihad qital atau karena kelompok ini sudah terserang penyakit munafik atau karena sebab-sebab yang lain yang dirinya sendiri juga tidak mengetahui.

Di dalam al-Qur’an ada ayat yang mengisahkan tentang orang-orang yang dahulu mengharap diturunkannya syariat jihad qital namun ketika diturunkan syariat jihad qital, sebagian dari mereka justru berbalik meminta tangguh :

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka:”Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari takutnya.

QS. 4:77

Kira-kira seperti itulah kelompok tersebut, ketika di Indonesia ini tidak ada sebab yang mewajibkan jihad qital mereka menyerukan jihad qital, tetapi ketika ada alasan yang lebih masuk akal untuk melakukan jihad qital mereka diam dan bungkam. Kalau mereka sekarang menyatakan wajib melakukan jihad qital untuk dapat meraih pemerintahan, maka pada masa orde baru dahulu akan menjadi jauh lebih wajib melakukan jihad qital, tetapi kenyataannya, jangankan bergerak melakukan jihad qital melawan kedzaliman orde baru, teriakan keras dalam berdakwah saja tidak pernah terdengar.

Orang-orang MMI yang sekarang ini, kebanyakan adalah mantan anggota NII, yang telah diakui kemilitanannya dalam memperjuangkan syariat Islam, namun saat ini mereka melalui MMI tidak menyerukan jihad qital untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia, karena memang tidak ada sebab yang mengharuskan untuk berjihad qital, adalah aneh dan menjadi pertanyaan besar bila ada kelompok yang diam seribu bahasa pada masa orde baru, namun kemudian berteriak sangat lantang tentang jihad qital pada masa demokrasi seperti saat ini, bisa jadi inilah kemunafikan yang tak mudah disadari.

Ciri-ciri itu semakin nampak jelas ketika tidak seorangpun dari kelompok ini yang mendaftarkan diri untuk jihad qital ke Ambon, Afghanistan, Palestina, Libanon, Irak dan lain-lain, karena kalau jihad qital mereka serukan untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia saat ini, tentu jihad qital ke wilayah-wilayah konflik seperti tersebut di atas jauh lebih nyata harus mereka lakukan, tetapi nyatanya tidak dilakukannya. Sementara itu, MMI, FPI, IM yang tidak menyerukan jihad qital untuk penegakan syariat Islam di Indoneisa telah mengirimkan banyak mujahidnya ke wilayah-wilayah konflik tersebut di atas, hal ini menunjukkan seruan jihad qital untuk penegakan syariat Islam di Indonesia saat ini sangat kental aroma kemunafikannya.

Allah SWT berfirman tentang orang-orang seperti di atas :

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat.

Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.

QS. 61:2-3

 

Mereka telah mengatakan jihad sebagai satu-satunya jalan untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia, namun mereka tidak melakukan apa-apa untuk menegakkan syariat Islam bahkan berupa persiapan untuk jihad qitalpun tidak mereka lakukan misalnya, adanya pemimpin perang, personil yang kuat dan besar, dana, senjata, latihan militer, penguasaan senjata modern, taktik perang, pembentukan badan intel dan lain-lain, sampai detik ini tidak satupun yang telah diupayakannya, padahal semua itu adalah komponen-komponen jihad qital yang harus dipersiapkan agar didapatkan kekuatan pasukan jihad yang tangguh dan yang dapat membuat musuh-musuh gentar melihatnya, jika mereka melakukan persiapan itu semua, maka dalam ayat selanjutnya Allah SWT menetapkannya sebagai amal yang sangat dicintai-Nya dan diridhai-Nya :

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. QS. 61:4

Jika kelompok ini tidak mempersiapkan itu semua, maka teriakan jihad qitalnya dapat menggiringnya menjadi utopis yaitu menginginkan negara/syariat Islam tegak tetapi tidak berbuat apa-apa, atau dapat menggiringnya menjadi munafik, yaitu meneriakkan sesuatu yang tidak diperbuatnya atau kalau bukan utopis dan munafik bisa jadi kelompok ini adalah kelompok yang tidak paham terhadap agama yang tidak bisa menempatkan jihad qital secara proposional, atau kalau bukan semua itu teriakan jihadnya adalah yang penting demokrasi haram atau bisa jadi telah terperalat oleh Yahudi.

Wallahu a’lam.

■ Malang, 23 Desember 2007
Iklan